{"id":82178,"date":"2025-08-04T15:05:31","date_gmt":"2025-08-04T08:05:31","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=82178"},"modified":"2025-08-04T15:05:31","modified_gmt":"2025-08-04T08:05:31","slug":"senin-04-agustus-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=82178","title":{"rendered":"Senin, 04 Agustus 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSenin 04 Agustus 2025<br \/>\nPeringatan St Yohanes Maria Vianney<br \/>\nMatius 14:19 (Mat 14:13-21)<br \/>\nLalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.<\/p>\n<p>Hidup Ekaristi Yang Melimpah<\/p>\n<p>Ada 4 kata kunci dalam mujizat perbanyakan roti dan ikan, yakni Yesus \u201cmengambil-mengucap berkat-memecah-mecahkan-membagi-bagikan.\u201d<br \/>\nTindakan Yesus ini, kiranya menjadi bagian dari sikap hidup kita.<br \/>\nSemua yang ada pada kita adalah pemberian Tuhan. Kita tinggal mengambilnya. Semua semata karena kasih karunia Tuhan, bukan oleh jasa dan kehebatan kita.<br \/>\nUntuk itu jangan lupa mengucap berkat atau mengucap syukur. Ketika kita mengucap syukur maka semua yang ada di depan mata kita menjadi melimpah. Kita menengadah ke langit sebagai tanda terima kasih, karena yang ada di tangan kita turun dari surga. Sekalipun kita katakan itu adalah hasil usaha kita, ingatlah kemampuan kita berusaha adalah tanda Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan-kebaikan dalam hidup kita.<\/p>\n<p>Anugerah Tuhan baik secara jsmani maupun rohani mesti kita bagi-bagikan kepada orang lain. Untuk itu harus dipecahkan. Kita berbagi pikiran, berbagi hati dan perhatian, berbagi kasih dan pengorbanan. Seringkali tangan kanan kita sementara bekerja, tangan kiri kita sudah ditarik untuk pekerjaan lain. Sementara kaki melangkah ke utara, kita sudah ditarik ke selatan. Begitulah gambaran hidup yang terpecah-pecah karena kasih sayang.<br \/>\nSementara ibu memperhatikan anak yang satu, anak yang lain sudah minta perhatian. Seringkali melelahkan untuk berbagi waktu, berbagi kasih dan perhatian, tapi sesudahnya kita mengalami hati yang penuh sukacita karena hidup kita begitu berarti bagi banyak orang.<br \/>\nInilah hidup yang berkelimpahan dalam Tuhan, hidup ekaristi, yaitu \u201cmengambil-mengucap syukur-memecah-mecahkan-terus berbagi.<br \/>\nBiarlah nama Tuhan dipuji dan dimuliakan melalui hidup dan karya kita, yang tak menjadi perpanjangan tangan Tuhan.<\/p>\n<p>Semangat Senin! Selalu bersyukur dan bahagia.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 04 Agt 2025<br \/>\nSenin Pekan Biasa XVIII<br \/>\nPW S. Yohanes Maria Vianney, Imam<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mat 4:4b<br \/>\nBacaan Injil: Mat 14:13-21<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMat 4:4b<br \/>\nManusia hidup bukan saja dari makanan,<br \/>\nmelainkan juga dari setiap sabda Allah.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 14:13-21<br \/>\nSambil menengadah ke langit Yesus mengucapkan doa berkat;<br \/>\ndibagi-bagi-Nya roti itu, dan diberikan-Nya kepada para murid.<br \/>\nLalu para murid membagi-bagikannya kepada orang banyak.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa,<br \/>\nsetelah mendengar berita pembunuhan Yohanes Pembaptis,<br \/>\nmenyingkirlah Yesus;<br \/>\ndengan naik perahu<br \/>\nIa bermaksud mengasingkan diri ke suatu tempat yang sunyi.<\/p>\n<p>Tetapi orang banyak mendengarnya<br \/>\ndan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat,<br \/>\ndari kota-kota mereka.<br \/>\nKetika Yesus mendarat,<br \/>\nIa melihat orang banyak yang besar jumlahnya,<br \/>\nmaka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka<br \/>\ndan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.<\/p>\n<p>Menjelang malam para murid Yesus datang kepada-Nya dan berkata,<br \/>\n&#8220;Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam.<br \/>\nSuruhlah orang banyak itu pergi<br \/>\nsupaya dapat membeli makanan di desa-desa.&#8221;<\/p>\n<p>Tetapi Yesus berkata kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Mereka tidak perlu pergi. Kalian saja memberi makan mereka.&#8221;<br \/>\nJawab mereka,<br \/>\n&#8220;Pada kami hanya ada lima buah roti dan dua ekor ikan.&#8221;<br \/>\nYesus berkata, &#8220;Bawalah ke mari.&#8221;<br \/>\nLalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput.<br \/>\nSetelah itu Ia mengambil kelima buah roti dan kedua ekor ikan itu.<br \/>\nSambil menengadah ke langit diucapkan-Nya doa berkat,<br \/>\ndibagi-bagi-Nya roti itu dan diberikan-Nya kepada para murid.<br \/>\nPara murid lalu membagi-bagikannya kepada orang banyak.<br \/>\nMereka semua makan sampai kenyang.<br \/>\nKemudian potongan-potongan roti yang sisa dikumpulkan<br \/>\nsampai dua belas bakul penuh.<br \/>\nYang ikut makan kira-kira lima ribu orang pria,<br \/>\ntidak termasuk wanita dan anak-anak.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: &#8220;Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.&#8221; Tetapi Yesus berkata kepada mereka: &#8220;Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.\u201d (Mat 14: 15 \u2013 16).<\/p>\n<p>Melalui kisah yang kita baca dalam Injil hari ini, kita diajak untuk menemukan kembali makna sebuah perikop yang terkenal \u2014 bukan sebagai mukjizat penggandaan roti saja, melainkan sebagai perumpamaan tentang belas kasih, berbagi, dan awal dari sebuah dunia baru. Yesus, tergerak oleh belas kasih yang mendalam bagi umat manusia yang sakit dan hancur di hadapan-Nya, mengajak para murid untuk berbuat lebih dari sekadar bersimpati. Ia mengajak mereka untuk bertindak. &#8220;Kamu harus memberi mereka makan.&#8221;<\/p>\n<p>Perintah sederhana ini menantang logika dunia lama, di mana orang-orang lapar diminta untuk mengurus diri sendiri, di mana hanya mereka yang mampu yang dilayani, dan di mana kebutuhan mereka yang paling lemah diabaikan. Yesus mengusulkan sesuatu yang baru: sebuah dunia yang tidak dibangun di atas prinsip jual beli, melainkan di atas pemberian diri dan berbagi. Ketika para murid mempersembahkan sedikit yang mereka miliki, Yesus memberkatinya dan mengembalikannya, bukan langsung memberikannya kepada orang banyak, melainkan kepada para murid untuk dibagikan. Mukjizat itu bukanlah penciptaan roti dari ketiadaan, melainkan transformasi hati dari kekhawatiran menjadi kemurahan hati, dari keegoisan menjadi persekutuan.<\/p>\n<p>St. Yohanes Maria Vianney, yang peringatannya kita rayakan hari ini, menghayati Injil ini dengan kesederhanaan dan keyakinan. Di sebuah paroki kecil di Ars, ia memecah-mecah roti belas kasih Kristus setiap hari, melalui pengakuan dosa, Ekaristi, dan kasih yang tak kenal lelah. Seperti para murid dalam Injil, ia mempersembahkan sedikit yang ia miliki, dan Allah menjadikannya berbuah limpah. Tak jarang kita terkungkung oleh keterbatasan kita seperti para murid, namun jika yang sedikit dan terbatas itu dipersembahkan kepada Tuhan, akan menghasilkan mukjizat yang berlimpah-limpah. St. Yohanes Maria Vianney saat akan ditahbiskan diragukan karena kurang cemerlang kepandaiannya, bahkan sering dihina sebagai seekor keledai. Menanggapi hal itu ia berkata, \u201cJika Simson dapat mengalahkan dan membunuh seribu orang Filistin dengan rahang keledai, siapa yang tahu apa yang dapat dilakukan Tuhan dengan seekor keledai utuh sepertiku?\u201d<\/p>\n<p>Dalam setiap Ekaristi, Yesus mengambil hidup kita, memberkatinya, dan mengembalikannya kpeada kita agar kita dapat berbagi dengan sesama. Ketika kita mengikuti teladan-Nya \u2014 hidup bukan untuk diri sendiri melainkan untuk kebaikan sesama \u2014 kita melihat fajar dunia baru yang dibawa oleh Yesus. Roti itu sungguh dipecah-pecahkan untuk semua. Semoga kita, seperti St. Yohanes Vianney, menjadi roti di tangan Kristus, yang dipecah-pecahkan dan dibagikan untuk kehidupan dunia.<\/p>\n<p>Tuhan, kupersembahkan diriku kepada-Mu, untuk diberkati, dipecah-pecahkan dan dibagikan bagi kehidupan dunia. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas di pekan yang baru. Bagikan dirimu untuk hidup dunia. JLU!<br \/>\n[\u2661.] \u2764\ufe0f<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"h5q5itSa83\"><p><a href=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/roti-di-tangan-tuhan\/\">Roti di Tangan Tuhan<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Roti di Tangan Tuhan&#8221; &#8212; Sacerdos2000\" src=\"https:\/\/sacerdos2000.com\/roti-di-tangan-tuhan\/embed\/#?secret=gkEbXruNqN#?secret=h5q5itSa83\" data-secret=\"h5q5itSa83\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Senin 04 Agustus 2025 Peringatan St Yohanes Maria Vianney Matius 14:19 (Mat 14:13-21) Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-82178","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82178","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=82178"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82178\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":82179,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82178\/revisions\/82179"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=82178"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=82178"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=82178"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}