{"id":82108,"date":"2025-08-03T11:08:22","date_gmt":"2025-08-03T04:08:22","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=82108"},"modified":"2025-08-03T11:08:22","modified_gmt":"2025-08-03T04:08:22","slug":"minggu-03-agustus-2025-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=82108","title":{"rendered":"Minggu, 03 Agustus 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nMinggu 03 Agustus 2025<br \/>\nHari Minggu Biasa XVIII<br \/>\nLukas 12:20-21 (Luka 12:13-21)<br \/>\n\u201dTetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.&#8221;<\/p>\n<p>Kaya Di Hadapan Allah<\/p>\n<p>Bagi manusia, mengumpulkan harta hingga menumpuk bagi diri sendiri, itulah kekayaan. Namun sebaliknya bagi Allah. Orang yang mengumpulkan untuk diri sendiri adalah orang yang tak pernah merasa cukup dengan apa yang ada padanya. Seberapapun banyak yang ia kumpulkan, ia tetap merasa berkekurangan.<br \/>\nOrang yang kaya di hadapan Allah adalah orang yang hidup bukan hanya bagi dirinya sendiri tapi menjadi saluran berkat Tuhan bagi sesamanya. Ia selalu bersyukur atas apa yang ada padanya dan merelakannya untuk dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan.<br \/>\nMemberi mengandaikan mempunyai. Pepatah Latin berkata, \u201cNemo dat quod non habet, \u201c (kita tidak dapat memberi apa yang kita tidak punya).<\/p>\n<p>Mari kita belajar dari teladan Yesus saat Ia memberikan TubuhNya bagi kita, yang nampak nyata dalam Roti Ekaristi. Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya, lalu membagi-bagikannya.<br \/>\nInilah gambaran hidup yang kaya dan melimpah di hadapan Allah.<br \/>\nSemua yang ada pada kita adalah semata pemberia Allah. Mari kita syukuri selalu, rela memecah-mecahkannya lalu membagi-bagikannya kepada orang lain. Inilah hidup untuk memuliakan Allah melalui hidup dan karya kita. Dengannya kita memperluas kerajaan cinta kasih Allah.<\/p>\n<p>\u201dYa Bapa kami bersyukur atas semua anugerah yang melimpah yang Engkau berikan kepada kami. Nafas hidup dan kasih sayangMu melalui Yesus Juruselamat kami. Jadikanlah hidup kami saluran berkatMu bagi sesama ciptaanMu. Betapa kaya hidup kami ini karena Engkau-lah sumber hidup dan penghidupan kami. KepadaMu kami haturkan segala kemuliaan dan hormat sampai selamanya. Amin.\u201d<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu. Mari ke rumah Tuhan, bersyukur dan mempersembahkan kurban serta berbagi berkat Tuhan.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 03 Agt 2025<br \/>\nMinggu Pekan Biasa XVIII<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mat 5:3<br \/>\nBacaan Injil: Luk 12:13-21<br \/>\n**************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMat 5:3<br \/>\nBerbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,<br \/>\nkarena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 12:13-21<br \/>\nBagi siapakah nanti harta yang telah kausediakan itu?<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Ketika Yesus mengajar orang banyak,<br \/>\nSalah seorang dari orang banyak itu berkata kepada-Nya,<br \/>\n&#8220;Guru, katakanlah kepada saudaraku,<br \/>\nsupaya ia berbagi warisan dengan aku.&#8221;<br \/>\nTetapi Yesus berkata kepadanya,<br \/>\n&#8220;Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku<br \/>\nmenjadi hakim atau penengah bagimu?&#8221;<\/p>\n<p>Kata Yesus kepada orang banyak itu,<br \/>\n&#8220;Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan!<br \/>\nSebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya,<br \/>\nhidupnya tidaklah tergantung dari kekayaannya itu.&#8221;<\/p>\n<p>Kemudian Yesus mengatakan kepada mereka perumpamaan berikut:<br \/>\n&#8220;Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah hasilnya.<br \/>\nIa bertanya dalam hatinya,<br \/>\n&#8216;Apakah yang harus kuperbuat,<br \/>\nsebab aku tidak mempunyai tempat<br \/>\nuntuk menyimpan segala hasil tanahku.&#8217;<br \/>\nLalu katanya,<br \/>\n&#8216;Inilah yang akan kuperbuat:<br \/>\nAku akan merombak lumbung-lumbungku,<br \/>\nlalu mendirikan yang lebih besar,<br \/>\ndan aku akan menyimpan di dalamnya<br \/>\nsegala gandum serta barang-barangku.<br \/>\nSesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku:<br \/>\nJiwaku, ada padamu banyak barang,<br \/>\ntertimbun untuk bertahun-tahun lamanya;<br \/>\nberistirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!<br \/>\nTetapi Allah bersabda kepadanya,<br \/>\n&#8216;Hai orang bodoh,<br \/>\npada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu!&#8217;<\/p>\n<p>Bagi siapakah nanti apa yang telah kausediakan itu?<br \/>\nDemikianlah jadinya<br \/>\ndengan orang yang menimbun harta bagi dirinya sendiri,<br \/>\ntetapi ia tidak kaya di hadapan Allah.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***********\u2020<\/p>\n<p>JADILAH &#8220;ORANG KAYA YANG PINTAR&#8221;<br \/>\n(RD. John Tanggul, Paroki Todo)<\/p>\n<p>Orang kaya yang bodoh<\/p>\n<p>&#8220;Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang (saya, anda, anak2, OMK, Orangtua, Kakek Nenek dan Lansia) berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu&#8221;, kata Yesus dalam Injil hari ini (Luk. 13:15).<\/p>\n<p>HARTA BENDA\/KEKAYAAN DUNIAWI yg diwujudnyatakan dalam bentuk perbuatan baik utk Tuhan dan orang lain dan lingkungan alam ciptaan lainnya adalah suatu PERBUATAN\/TINDAKAN YG DILANDASI IMAN. Perlu disadari supaya jangan &#8220;tamak&#8221; atau rakus, dlm arti harta kekayaan\/benda itu dipandang sebagai &#8220;SEGALANYA UNTUK DIRI SENDIRI&#8221; dalam hidup ini, hanya kaya di hadapan atau untuk diri sendiri. Harta benda\/kekayaan itu bersifat sementara, tidak kekal\/tidak abadi. Ini namanya &#8220;orang kaya yang bodoh&#8221;, kata Yesus dalam Injil hari ini.<\/p>\n<p>Karena keselamatan itu bersifat kekal, maka hal2 yg profan (harta benda\/kekayaan duniawi) tidak bisa menjamin untuk sampai pada keselamatan abadi. Harta kekayaan BUKANLAH SUMBER KESELAMATAN atau TUJUAN AKHIR hidup saya, anda. Harta kekayaan hanyalah sarana dan bersifat sementara saja. Kepada seorang kaya yg menimbun kekayaannya dalam lumbung dalam perumpamaan hari ini, Firman Allah berkata: &#8220;Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, UNTUK SIAPKAH ITU NANTI?&#8221; (Luk. 13: 20).<\/p>\n<p>Jika harta kekayaan saya, anda (sekecil apapun) dimanfaatkan JUGA utk kepentingan Tuhan dan sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya, maka harta kekayaan itu BERNILAI TINGGI karena bisa mendekatkan diri saya, anda dengan Tuhan, orang lain dan lingkungan alam ciptaan lainnya dan saya, anda menjadi SARANA utk menyalurkan RAHMAT DAN BERKAT serta KESEJAHTERAAN\/KEBAHAGIAAN bagi sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya. Ini namanya &#8220;orang kaya&#8221; yang pintar&#8221;. Hidup saya, anda berguna bagi Tuhan, sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya. Hidup saya, anda tidak kehilangan pengharapan. Meski fisik lemah, tapi tetap kuat dalam pengharapan, tetap berguna untuk Tuhan dan sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya. &#8220;Berbahagialah mereka (saya,anda, anak2, OMK, orangtua, kakek nenek dan Lansia) yang tidak kehilangan pengharapannya&#8221; (Sir.14:2) adalah Pesan Paus Leo IV untuk Hari Kakek- Nenek dan Lansia Sedunia ke-5 HARI MINGGU LALU.<\/p>\n<p>Persoalannya sering kali ketika orang (saya,anda, kakek-nenek dan lansia?) sudah berlimpah2 harta kekayaannya, ia tidak semakin murah hati, tetapi semakin tertutup hati utk membagi kasih utk kepentingan Tuhan dan sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya. Sudah banyak contoh di dalam masyarakat di mana harta benda\/kekayaan membuat orang yang berharta\/berkekayaan itu menjadi orang yg jahat, jauh dari Tuhan dan sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya. Ingatlah bahwa harta kekayaan BUKANLAH SEGALA-GALANYA. Maka tetaplah memiliki HARTA ROHANI, HARTA IMAN. Saya, anda perlu sadar dan hati2 agar TIDAK DIKENDALIKAN oleh harta kekayaan, namun sebaliknya MESTI mampu menggunakan juga itu dg &#8220;pintar dan baik&#8221; utk kepentingan Tuhan dan sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya. Ini baru namanya saya,anda adalah &#8220;orang kaya yang pintar&#8221;; SAYA, ANDA MENJADI KAYA DI HADAPAN DIRI SENDIRI, DI HADAPAN TUHAN DAN DI HADAPAN SESAMA DAN LINGKUNGAN ALAM CIPTAAN LAINNYA. Selamat menjadi orang kaya yang pintar. Selamat menjadi orang\/pribadi yang pintar dan penuh pengharapan!<\/p>\n<p>Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati saya, anda sekalian yang sudah, sedang dan akan menjadi orang kaya yang pintar . Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Minggu 03 Agustus 2025 Hari Minggu Biasa XVIII Lukas 12:20-21 (Luka 12:13-21) \u201dTetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-82108","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82108","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=82108"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82108\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":82110,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82108\/revisions\/82110"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=82108"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=82108"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=82108"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}