{"id":815,"date":"2014-03-03T22:39:43","date_gmt":"2014-03-03T15:39:43","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=815"},"modified":"2014-03-03T22:39:43","modified_gmt":"2014-03-03T15:39:43","slug":"rabu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=815","title":{"rendered":"Rabu"},"content":{"rendered":"<div id=\"yui_3_14_0_1_1393860924678_1070\" align=\"center\"><b id=\"yui_3_14_0_1_1393860924678_1073\"><span id=\"yui_3_14_0_1_1393860924678_1072\" style=\"text-decoration: underline;\">RABU<\/span><\/b><\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1393860924678_1078\" align=\"center\">(Kontemplasi\u00a0\u00a0Peradaban)<\/div>\n<div align=\"center\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1393860924678_1021\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a040 hari menjelang Paskah\u00a0\u00a0<i>(Dominica Resurrectionis,<\/i>Kebangkitan hari Minggu), Gereja sedunia mengadakan Ibadat atau Perayaan Ekaristi\u00a0\u00a0Rabu Abu\u00a0<i>(Ash Wednesday)<\/i>. Memang pada awalnya, Rabu Abu itu dikenal dengan nama\u00a0\u00a0<i>Dies Cinerum<\/i>\u00a0(Hari Rabu) yang adalah hari pertama masa Pra-Paskah.<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1393860924678_1019\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Selasa, menjelang Rabu Abu dinamakan dengan\u00a0\u00a0<i>Marted\u012d Grasso<\/i>\u00a0\u00a0atau Selasa Gemuk.\u00a0\u00a0Dikatakan \u201cgemuk\u201d karena pada waktu itu pesta-pora dan orang-orang mengadakan\u00a0\u00a0<i>carnavale\u00a0<\/i>(Bhs Latin:\u00a0<i>cartem\u00a0<\/i>+\u00a0\u00a0<i>levare<\/i>\u00a0yang berarti meniadakan menu daging). Setelah masa suka-cita, orang masuk ke dalam \u201cpadang gurun\u201d untuk pantang dan puasa atau masa Prapaskah\u00a0\u00a0yang menurut seruan KWI disebut sebagai \u201cRetret Agung.\u201d<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1393860924678_1068\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Dalam pikiran kita masing-masing akan bertanya, \u201cMengapa disebut Rabu Abu?\u201d Gereja perdana ternyata telah mewariskan penggunaan abu sebagai upacara simbolis. Dalam bukunya yang berjudul\u00a0\u00a0\u00a0<i>\u201cDe Poenitentia,\u201d<\/i>\u00a0Tertulianus (160 \u2013 220) menulis bahwa pendosa yang bertobat haruslah hidup tanpa bersenang-senang dengan mengenakan kain kabung dan abu. Kemudian Eusebius (260 \u2013 340) menceriterakan bagaimana seorang yang murtad yaitu Natalis datang kepada Paus Zephyrinus (wafat: 20 Desember 217) dengan mengenakan kain kabung dan abu memohon pengampunan. Lantas, pada abad pertengahan\u00a0\u00a0mereka yang menghadapi ajal dibaringkan di tanah di atas kain dan perciki dengan abu, \u201cIngatlah, hai manusia, kamu dari debu dan akan kembali menjadi debu\u201d (Kej 3: 19).<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1393860924678_1015\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Akhirnya, Abu dipergunakan untuk menandai permulaan masa Prapaskah yaitu masa persiapan selama 40 hari menjelang Paskah. Debu tanah menunjuk kepada kefanaan, keterbatasan, kelemahan dan keberdosaaan. Tidak ada dasar sedikitpun untuk\u00a0bermegah, apalagi saat manusia menghadapi penderitaan, malapetaka dan kesedihan. Untuk menanggapinya dibutuhkan sikap rendah hati dan mohon pengampunan, sebab \u201cAllah adalah pengasih dan panjang sabar\u2026\u201d (Yun 4: 26).<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1393860924678_1080\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Ketidaklayakan manusia di hadapan Allah itu sudah tercermin dalam tradisi Romawi Kuno. Dikisahkan bahwa pasukan Romawi yang berhasil meluluhlantakkan sebuah kota itu, berparade dengan barisan pasukan lengkap dengan senjata mereka. Yang unik adalah bahwa selalu saja ada seorang budak yang menguntit dan meneriakkan kalimat,\u00a0<i>\u201cMemento mori!\u201d<\/i>\u00a0\u2013 Ingatlah akan\u00a0kematianmu \u2013 berulang-ulang kepada sang Jendral Romawi yang sedang merayakan kemenangan. Kata\u00a0\u00a0<i>memento mori<\/i>\u00a0\u00a0itu merupakan peringatan supaya sang Jendral tersebut\u00a0\u00a0tidak terperangkap dalam identitas semu yang dapat membuat orang lupa diri. Ritus yang sama juga terjadi ketika pemahkotaan\u00a0seorang Paus. Pada upacara tersebut seorang rahib yang tidak menggunakan alas kaki \u2013 sambil membawa seutas tali besar yang dibakar dan ketika apinya padam, ia berseru,\u00a0<i>\u201cSancti Peter, sic transit gloria mundi\u201d\u00a0<\/i>\u2013 Bapa suci, demikianlah kemuliaan dunia itu akan lenyap.<\/div>\n<div>\u00a0Sekali lagi, \u201cTidak ada alasan untuk bermegah diri\u201d (1 Kor 3: 22).\u00a0\u00a0Harta milik kita juga bersifat sosial. \u201cDi dalam milik kita, terdapat hak orang miskin,\u201d\u00a0\u00a0kata Thomas Aquinas (1225 \u2013 1274)\u00a0dan hak milik kita pun berhenti jika berhadapan dengan orang miskin yang kelaparan. Seorang bijak pernah pernah\u00a0\u00a0berkata<i>\u201cAfter the game, the king and the pawn go into the same box.\u201d<\/i>\u00a0Atau seperti sebuah cerita pendek yang ditulis oleh Leo Tolstoy (1828 \u2013 1910) yang mengatakan bahwa pada akhirnya tanah yang dibutuhkan oleh manusia adalah ukuran 200 cm x 80 cm. Lantas kita bertanya, \u201cUntuk apa bermegah diri?\u201d<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1393860924678_1082\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Yesus Kristus menghendaki sebuah\u00a0\u00a0\u201cpuasa hati\u201d\u00a0\u00a0dengan menyoyak hati, bukan pakaian (Yl 2: 13)\u00a0\u00a0dan tidak ada kemunafikan dari padanya. Maka tidak mengherankan jika Yesus bersabda, \u201cJika berpuasa janganlah muram mukamu seperti orang munafik\u2026\u201d (Mat 6: 16). Sikap batiniah lebih dipentingkan dari pada sikap lahiriah (wajah murung karena berpuasa atau\u00a0\u00a0memakai kain kabung). Dalam berpuasa ini, Paulus telah mengajarkan kepada kita, \u201cAku mau mati terhadap diri sendiri\u00a0\u00a0dan hidup bagi Tuhan\u201d (Rm 6: 8).<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1393860924678_1093\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1393860924678_1092\"><i>Senin, 03 Maret 2014<\/i><b id=\"yui_3_14_0_1_1393860924678_1091\">\u00a0\u00a0\u00a0Rm. Markus Marlon\u00a0\u00a0MSC<\/b><\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1393860924678_1083\"><i>n.b<\/i>. Sudah dipublikasikan<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>RABU (Kontemplasi\u00a0\u00a0Peradaban) \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a040 hari menjelang Paskah\u00a0\u00a0(Dominica Resurrectionis,Kebangkitan hari Minggu), Gereja sedunia mengadakan Ibadat atau Perayaan Ekaristi\u00a0\u00a0Rabu Abu\u00a0(Ash Wednesday). Memang pada awalnya, Rabu Abu itu dikenal dengan nama\u00a0\u00a0Dies Cinerum\u00a0(Hari Rabu) yang adalah hari pertama masa&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":816,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-815","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/LG-223.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/815","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=815"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/815\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":817,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/815\/revisions\/817"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/816"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=815"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=815"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=815"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}