{"id":81418,"date":"2025-07-24T08:59:51","date_gmt":"2025-07-24T01:59:51","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=81418"},"modified":"2025-07-24T08:59:51","modified_gmt":"2025-07-24T01:59:51","slug":"kamis-24-juli-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=81418","title":{"rendered":"Kamis, 24 Juli 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nKamis 24 Juli 2025<br \/>\nMat 13:16-17 (Mat 13:10-17)<br \/>\n\u201dBerbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.\u00a0Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya..&#8221;<\/p>\n<p>Melihat Dengan iman<\/p>\n<p>Pepatah berkata, \u201cYou get what you see\u201d (Engkau mendapatkan apa yang engkau lihat). Oleh karena itu cara kita melihat atau kemampuan kita dalam melihat sesuatu sangat menentukan apa yang kita dapatkan.<br \/>\nMisalnya ada sebuah botol diisi setengahnya dengan air. Apa yang kita lihat di dalamnya? Setengah penuh atau setengah kosong? Bila kita menjawab setengah penuh, artinya kita melihat air yang ada di dalamnya dan mendapatkan yang ada. Bila kita mengatakan setengah kosong, maka kita mendapatkan apa yang kosong, alias tidak mendapatkan apa-apa.<br \/>\nSebuah contoh lain. Ada sebuah apel jatuh ke tanah. Bagi orang yang lewat dan melihatnya sebagai hal biasa, ia mendapatkan hanya 1 apel. Bagi pemilik kebun itu, ia melihat jatuhnya sebuah apel sebagai tanda musim panen telah tiba. Ia mendapatkan banyak apel.<br \/>\nLain lagi bagi seorang Isaac Newton. Ilmuwan Inggris yang menemukan hukum gravitasi. Melihat apel jatuh ia bertanya: mengapa apel jatuh? Memaknai fenomena itu lebih jauh dan dalam, ia menemukan hukum gravitasi.<\/p>\n<p>Bagaimana dengan seorang beriman? Bagi seorang yang melihat dengan mata iman, ia bahkan melihat di balik fenomena jatuhnya apel sebagai karya Tuhan yang menganugerahkan apa yang kita butuhkn dalam hidup. Oleh iman kita bahkan dapat melihat karya agung Tuhan di balik fenomena alam dan kehidupan yang penuh berkat.<br \/>\nTuhan tetap berkarya, menyediakan yang terbaik. Maka kita akan selalu bersyukur dan bahagia. Indahnya hidup penuh syukur dan sukacita bagi orang beriman. Ia selalu dapat melihat hadirnya Tuhan dan hidup dalam kelimpahan berkat Tuhan.<\/p>\n<p>Selamat Hari Kamis. Mari melihat dengan iman dan bersyukurlah selalu.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 24 Jul 2025<br \/>\nKamis Pekan Biasa XVI<br \/>\nPF S. Sharbel Makhluf, Imam<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mat 11:25<br \/>\nBacaan Injil: Mat 13:10-17<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMat 11:25<br \/>\nTerpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi,<br \/>\nsebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada orang kecil.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 13:10-17<br \/>\nKalian diberi kurnia mengetahui rahasia Kerajaan Surga,<br \/>\ntetapi mereka tidak.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Setelah Yesus menceriterakan perumpamaan tentang orang penabur,<br \/>\nmurid-murid bertanya kepada-Nya,<br \/>\n&#8220;Mengapa Engkau mengajar mereka dengan perumpamaan?&#8221;<\/p>\n<p>Jawab Yesus,<br \/>\n&#8220;Kalian diberi karunia mengetahui rahasia Kerajaan Surga,<br \/>\ntetapi orang-orang lain tidak.<br \/>\nKarena barangsiapa mempunyai, akan diberi lagi,<br \/>\ntetapi barangsiapa tidak mempunyai,<br \/>\nmaka apa pun yang ada padanya akan diambil juga.<\/p>\n<p>Itulah sebabnya Aku mengajar mereka dengan perumpamaan,<br \/>\nkarena biarpun melihat, mereka tidak tahu,<br \/>\ndan biarpun mendengar, mereka tidak menangkap dan tidak mengerti.<br \/>\nMaka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi:<br \/>\n&#8216;Kalian akan mendengar dan mendengar lagi, namun tidak menangkap.<br \/>\nkamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.<br \/>\nSebab hati bangsa ini telah menebal, dan matanya melekat tertutup,<br \/>\nagar jangan mereka melihat dengan matanya<br \/>\ndan mendengar dengan telinganya<br \/>\ndan mengerti dengan hatinya,<br \/>\nlalu berbalik sehingga Kusembuhkan.&#8217;<\/p>\n<p>Akan tetapi berbahagialah mata kalian sebab melihat<br \/>\nberbahagialah telinga kalian sebab mendengar.<br \/>\nSebab Aku berkata kepadamu,<br \/>\n&#8216;Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar<br \/>\ningin melihat apa yang kalian lihat,<br \/>\ntetapi tidak melihatnya,<br \/>\ndan ingin mendengar apa yang kalian dengar,<br \/>\ntetapi tidak mendengarnya.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***********<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cBerbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.\u201d (Mat 13: 16 \u2013 17)<\/p>\n<p>Tuhan memberi kita dua telinga tetapi hanya satu mulut. Orang bilang, itu agar kita memberi perhatian dua kali lebih banyak untuk mendengarkan daripada berbicara. Yang lain berkata, Dia tahu bahwa mendengarkan dua kali lebih sulit daripada berbicara.<\/p>\n<p>Dalam Injil hari ini Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa Ia \u201cberkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.\u201d Lho koq gitu? Apakah Ia sengaja membingungkan para pendengar-Nya? Atau Tuhan tidak ingin mereka dapat memahami Siapa Dia?<\/p>\n<p>Orang-orang pada zaman Yesus sungguh beruntung. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri Siapa Dia. Mereka melihat Dia yang mengadakan mujizat. Mereka mendengar langsung Dia memberitakan Firman Allah. Mereka dapat melihat seperti apa hidup-Nya. Mereka tahu dari mana Mesias akan datang. Mereka memiliki informasi yang mereka butuhkan.<\/p>\n<p>Yesus tidak akan menunjukkan kepada mereka dengan kata-kata, secara gamblang bahwa Dia adalah Allah, bahwa Dia adalah Mesias. Sebenarnya semuanya sudah jelas bagi mereka. Ada cukup bukti di sana untuk mereka. Yang diperlukan adalah hati dan pikiran terbuka. Rahasia Kerajaan ditujukan kepada orang-orang yang rendah hati dengan pikiran dan hati terbuka, bukan bagi para cerdik pandai yang sombong dan menutup pikiran serta hati mereka serta merasa diri paling benar.<\/p>\n<p>Kita harus melengkapi mata dan telinga kita dengan iman dan hati. Kita harus membiarkan mata dan telinga jiwa kita bekerja. Kita harus membuka seluruh diri kita dan memohon terang Roh Kudus agar Sabda Tuhan dapat masuk ke dalam diri kita dan kita dapat menyerapnya. Semoga apa yang kita dengar tidak \u201cmasuk di telinga kiri tetapi keluar di telinga kanan. Atau, dalam hal melihat, semoga kita tidak hanya melihat secara lahiriah saja, tetapi mampu melihat dengan mata iman peristiwa-peristiwa hidup kita. Dengan itu kita mampu mengenali Dia yang bekerja dalam hidup kita. Kita mampu mengenali jejak-jejak cinta-Nya dalam peristiwa hidup kita.<\/p>\n<p>Renungkanlah hari ini, seberapa terbuka Anda terhadap Firman Tuhan dan semua yang ingin Tuhan katakan kepada Anda melalui peristiwa-peristiwa hidup. Berusahalah untuk mendengarkan dan memahami. Jika Anda melakukannya, Anda akan menemukan bahwa ada kehidupan yang penuh dengan kasih karunia yang menunggu untuk dicurahkan kepada Anda.<\/p>\n<p>Tuhan, kami ingin mengenal-Mu. Kami ingin mencari Engkau dan menemukanMu. Tolonglah kami untuk dengan rendah hati berpaling kepada-Mu dalam segala hal dan terus bertumbuh dalam iman. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Buka mata dan telinga iman. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Kamis 24 Juli 2025 Mat 13:16-17 (Mat 13:10-17) \u201dBerbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.\u00a0Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-81418","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/81418","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=81418"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/81418\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":81440,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/81418\/revisions\/81440"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=81418"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=81418"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=81418"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}