{"id":81345,"date":"2025-07-23T09:33:52","date_gmt":"2025-07-23T02:33:52","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=81345"},"modified":"2025-07-23T09:47:35","modified_gmt":"2025-07-23T02:47:35","slug":"rabu-23-juli-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=81345","title":{"rendered":"Rabu, 23 Juli 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nRabu 23 Juli 2025<br \/>\nMatius 13:3b-4, 5a, 7a (Mat 13:1-9)<br \/>\nKata Yesus: &#8220;Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu\u2026Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri\u2026<\/p>\n<p>Benih Kasih Allah Tertabur Indah Siapapun Kita Yang Menerimanya.<\/p>\n<p>Sesungguhnya ada hal yang aneh dan ganjil dalam perumpamaan Yesus tentang penabur ini. Sebagai seorang petani, mengapa si penabur menabur benih tanpa memperhitungkan jenis lahan tempat benih itu ditabur? Lihatlah, ada yang jatuh di pinggir jalan, sebagian di tanah berbatu, yang lain di tengah semak duri, dan hanya sebagian yang jatuh di tanah yang baik. Mengapa tidak semua benih ditanam di tanah yang baik?<br \/>\nKalau kita simak lebih dalam, ternyata apa yang aneh dan ganjil dalam sebuah perumpamaan Yesus, di situlah justru letak pesan perumpamaan itu, yakni keistimewaan kasih Allah kita yang bertindak jauh melampaui daya nalar dan kebiasaan manusia.<\/p>\n<p>Benih yang ditaburkan di pinggir jalan, di semak duri, lahan berbatuan, semuanya mewakili pelbagai macam pribadi manusia dengan segala kekurangan dan kelebihannya.<br \/>\nAllah Bapa tidak membeda-bedakan anak-anakNya. Allah menabur benih rahmatNya kepada semua orang tanpa peduli jenis karakternya, apakah ia orang baik atau tidak, pandai atau bodoh, kaya atau miskin, tua atau muda, dari mana ia berasal. Bukankah hujan turun bagi semua orang dan matahari bersinar bagi semua orang?<\/p>\n<p>Semua kita diberi kepercayaan untuk menerima dan mengembangkan semua karunia dan rahmat Tuhan, serta talenta dan semua potensi yang Tuhan tanam dalam hati.<br \/>\nOleh karena itu mari kita ollah semua anugerah Tuhan, sesulit apapun situasi hidup kita. Tak perlu melihat apa yang kurang dalam diri atau membedakan diri dengan berkat yang diterima orang lain. Mari mengandalkan Tuhan, dan percayalah rahmat dan kasih Allah lebih dari cukup untuk kita bertumbuh dan berbuah.<\/p>\n<p>\u201dYa Bapa terimakasih untuk semua benih SabdaMu yang Engkau taburkan dalam hidupku, terlepas dari kekurangan dan kelebihanku. Aku menyadari tanpa bantuan rahmatMu tak mungkin aku berbuah. Aku berjanji untuk terus melakukan yang terbaik agar benih kasih yang Engkau taburkan dalam hatiku dapat berbuah banyak.<br \/>\nAmpuni dosa-dosaku karena masih banyak duri dalam hatiku, serta batu-batu kebencian yang belum kulepaskan.<br \/>\nUtuslah Roh KudusMu agar aku berakar kuat dalam kasihMu. Segarkanlah selalu iman-harap-kasihku padaMu agar hatiku dan seluruh diriku dapat menjadi tanah yang subur.\u201d<\/p>\n<p>Selamat menabur kasih di hari baru, rahmat Tuhan cukup bagi kita.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 23 Jul 2025<br \/>\nRabu Pekan Biasa XVI<br \/>\nPF S. Birgitta, Biarawati<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBacaan Injil: Mat 13:1-9<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 13:1-9<br \/>\nBenih yang jatuh di tanah yang baik menghasilkan buah seratus ganda.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Pada suatu hari<br \/>\nYesus keluar dari rumah dan duduk di tepi danau.<br \/>\nMaka datanglah orang banyak berbondong-bondong<br \/>\nlalu mengerumuni Dia,<br \/>\nsehingga Yesus naik ke perahu dan duduk di situ,<br \/>\nsedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai.<br \/>\nYesus mengajarkan banyak hal kepada mereka<br \/>\ndengan memakai perumpamaan-perumpamaan.<\/p>\n<p>Ia berkata, &#8220;Ada seorang penabur keluar menaburkan benih.<br \/>\nPada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan,<br \/>\nlalu burung-burung datang memakannya.<br \/>\nSebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu,<br \/>\nyang tidak banyak tanahnya;<br \/>\nlalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.<br \/>\nTetapi sesudah matahari terbit,<br \/>\nlayulah tumbuhan itu dan menjadi kering<br \/>\nkarena tidak berakar.<br \/>\nSebagian lagi jatuh di semak duri,<br \/>\nlalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.<br \/>\nDan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah,<br \/>\nada yang seratus ganda,<br \/>\nada yang enam puluh ganda,<br \/>\nada yang tiga puluh ganda.<\/p>\n<p>Barangsiapa bertelinga untuk mendengar,<br \/>\nhendaklah ia mendengarkan!&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>&#8220;Adalah seorang penabur keluar untuk menabur\u2026.\u201d (Mat 13: 3)<\/p>\n<p>Seorang Penabur \u201ckeluar untuk menabur.&#8221; Begitulah Injil dimulai hari ini \u2014 sebuah tindakan sederhana, namun penuh dengan harapan. Sang Penabur adalah Tuhan sendiri, dan benihnya adalah Firman Allah, yang bukan sekadar ajaran, melainkan seorang Pribadi yang hidup: Kristus, Firman yang menjadi manusia. Ketika kita menerima Firman-Nya, kita menerima Dia.<\/p>\n<p>Namun bagaimana kita menerima benih ini? Yesus mengatakan bahwa benih itu jatuh di berbagai jenis tanah: tanah berbatu, tanah berduri, dan bahkan pinggir jalan yang keras. Seberapa sering kebisingan dunia kita, gangguan dari pelbagai macam layar gadget dan opini serta obrolan yang tak ada habisnya, menghalangi kita untuk sungguh-sungguh mendengarkan? Sering kali kita menjalani hidup dengan hati tertutup, tidak mampu membiarkan Firman berakar. Namun Sang Penabur terus menabur, dengan sabar, murah hati, dan penuh kepercayaan.<\/p>\n<p>Anda dan saya, sahabat-sahabat terkasih, juga dipanggil untuk menabur. Ya, kita dipanggil untuk menjadi penabur harapan, sukacita, dan kasih. Kita masing-masing memiliki kapasitas untuk menanam sesuatu yang indah dalam hidup orang lain \u2014 kata-kata penyemangat, perhatian yang tulus, tindakan belas kasih yang kecil\u2026 Janganlah kita menahan diri.<\/p>\n<p>Jangan khawatir jika ada benih yang hilang. Yesus sendiri pernah mengalami penolakan. Namun, Ia tidak pernah berhenti mengasihi, tidak pernah berhenti menabur. Jika satu benih saja jatuh di tanah yang subur, ia akan berbuah \u2014 tiga puluh, enam puluh, seratus kali lipat.<\/p>\n<p>Maka, marilah kita bertanya pada diri sendiri: apa yang kita tabur? Apakah kita menanam kedamaian atau kebencian? Dorongan, atau kritik? Hari ini, mohonlah kepada Tuhan agar Ia bermurah hati. Jangan menunggu kondisi yang sempurna. Pergilah, seperti yang Yesus lakukan. Taburlah!<\/p>\n<p>Dan percayalah, karena di tangan Tuhan, bahkan benih terkecil pun akan menjadi sesuatu yang luar biasa.<\/p>\n<p>Semoga St. Perawan Maria, Bunda kita yang menyambut Sang Sabda dalam rahimnya, membantu kita menjadi tanah yang subur bagi Injil.<\/p>\n<p>Tuhan, ajarlah kami untuk sabar dan bertekun menaburkan harapan, sukacita dan kasih di ladang dunia. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Bertekun menabur benih Injil! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Rabu 23 Juli 2025 Matius 13:3b-4, 5a, 7a (Mat 13:1-9) Kata Yesus: &#8220;Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-81345","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/81345","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=81345"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/81345\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":81355,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/81345\/revisions\/81355"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=81345"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=81345"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=81345"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}