{"id":81224,"date":"2025-07-21T14:46:53","date_gmt":"2025-07-21T07:46:53","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=81224"},"modified":"2025-07-21T14:46:53","modified_gmt":"2025-07-21T07:46:53","slug":"senin-21-juli-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=81224","title":{"rendered":"Senin, 21 Juli 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSenin 21 Juli 2025<br \/>\nMatius 12:38 (Mat 12:38-42)<br \/>\nPada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: &#8220;Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.&#8221; Tetapi jawab-Nya kepada mereka: &#8220;Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus .\u201d<\/p>\n<p>Salib Yesus Tanda Abadi Cinta Tuhan<\/p>\n<p>Permintaan para ahli Taurat dan orang Farisi yang meminta tanda atau bukti dari Yesus agar mereka percaya, sesungguhnya mewakili begitu banyak orang yang selalu menuntut bukti untuk percaya.<br \/>\nYesus tidak mau orang percaya kepadaNya hanya karena melihat tanda-tanda heran atau ajaib dan hebat secara fisik lahiriah.<br \/>\nCukuplah peristiwa yang terjadi dengan nabi Yunus menjadi tanda bagi orang Yahudi untuk percaya. Yunus ditelan ikan paus selama 3 hari dan dimuntahkan kembali ke darat demi untuk menyelamatkan orang-orang Niniwe yang berdosa.<\/p>\n<p>Bagi kita pengikut Yesus, salib dan kematian Yesus yang dimakamkan dalam kubur selama 3 hari namun bangkit kembali, itulah yang menjadi tanda dan pesan Tuhan akan kasih setiaNya kepada semua orang yang berdosa.<br \/>\nBila kita masih bertanya apakah tandanya bahwa Allah sungguh mengasihi kita, dan sejauh mana Allah mengasihi kita, pandanglah salib Yesus. Itulah tanda abadi kasih setia Allah yang telah rela mati untuk menyelamatkan kita, bukan pada waktu kita sudah menjadi baik dan suci, tapi justru saat kita penuh dengan dosa, Yesus telah rela mati untuk menebus kita.<\/p>\n<p>Semoga kita selalu dikuatkan oleh salib Yesus serta tanda-tanda kehadiran Yesus di tengah kita melalui sakramen-sakramen gereja khususnya ekaristi.<br \/>\nMari kita juga menjadi tanda kebaikan Tuhan melalui kasih dan pengorbanan kita bagi sesama di sekitar kita.<\/p>\n<p>Mari sambut mentari pagi, tanda hadirnya Tuhan di awal pekan yang baru ini.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 21 Jul 2025<br \/>\nSenin Pekan Biasa XVI<br \/>\nPF S. Laurensius dari Brindisi, Imam dan Pujangga Gereja<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mzm 94:8ab<br \/>\nBacaan Injil: Mat 12:38-42<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMzm 94:8ab<br \/>\nHari ini janganlah bertegar hati,<br \/>\ntetapi dengarkanlah suara Tuhan.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 12:38-42<br \/>\nPada waktu penghakiman<br \/>\nratu dari selatan akan bangkit bersama angkatan ini.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa<br \/>\nbeberapa ahli Taurat dan orang Farisi berkata kepada Yesus,<br \/>\n&#8220;Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.&#8221;<\/p>\n<p>Jawab Yesus kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda.<br \/>\nTetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda<br \/>\nselain tanda nabi Yunus.<br \/>\nSebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam,<br \/>\ndemikian pula Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi<br \/>\ntiga hari tiga malam.<\/p>\n<p>Pada waktu penghakiman<br \/>\norang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini<br \/>\ndan menghukumnya juga.<br \/>\nSebab orang-orang Niniwe bertobat<br \/>\nsetelah mendengar pemberitaan Yunus;<br \/>\ndan sungguh, yang ada di sini lebih dari pada Yunus!<br \/>\nPada waktu penghakiman<br \/>\nratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini<br \/>\ndan ia akan menghukumnya juga.<br \/>\nSebab ratu itu datang dari ujung bumi<br \/>\nuntuk mendengar hikmat Salomo,<br \/>\ndan sungguh, yang ada di sini lebih daripada Salomo!&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n********;****<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cPada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: &#8220;Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.&#8221; Tetapi jawab-Nya kepada mereka: &#8220;Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.\u201d (Mat 12: 38 \u2013 39).<\/p>\n<p>Dalam Injil hari ini, Yesus berbicara tentang angkatan atau generasi yang meminta tanda, tetapi gagal mengenali Dia yang berdiri di hadapan mereka. Betapa seringnya hal ini mencerminkan hati kita sendiri! Kita mencari jawaban, kita mencari bukti, tetapi mengabaikan kehadiran Allah yang tenang, lembut dan penuh kasih yang sudah bekerja dalam hidup kita.<\/p>\n<p>Untuk hidup bijaksana, kita harus belajar membedakan\u2014memilih dengan baik, mengenali apa yang berasal dari Allah dan apa yang tidak. Membedakan adalah sebuah jalan. Itu membutuhkan doa, tanda, dan dialog. Kita berdoa bukan untuk melarikan diri dari dunia, tetapi untuk melihat dengan jelas melalui mata Allah. Kita mencari tanda\u2014bukan solusi ajaib, tetapi dorongan kasih karunia yang lembut. Dan kita mencari bimbingan, karena perjalanan ini tidak dimaksudkan untuk dijalani sendirian. Dua hati yang membedakan bersama dapat mendengar suara Allah dengan lebih jelas.<\/p>\n<p>Yesus memperingatkan tentang &#8220;angkatan yang jahat&#8221; bukan untuk mengutuk, tetapi untuk membangkitkan. Ketika kita hidup hanya untuk diri kita sendiri \u2014 mengeluh, mengendalikan, tidak pernah puas \u2014 kita menutup diri terhadap kehidupan yang ingin Allah berikan. Kita menjadi buta terhadap keindahan, tuli terhadap kebijaksanaan, dan terperangkap dalam ketakutan. Namun hari ini, kita diundang untuk melihat dengan mata baru, untuk menerima anugerah kehidupan yang lebih penuh dan lebih bebas.<\/p>\n<p>Tuhan terus mengutus para nabi. Terkadang mereka tampak seperti orang asing, terkadang sebagai teman, rekan kerja, dsb. Mereka mungkin menyampaikan kebenaran yang keras atau memberikan dorongan yang lembut. Mereka adalah utusan Tuhan, yang mengundang kita untuk bertumbuh, untuk berubah, untuk memulai kembali. Dan kita juga dipanggil untuk menjadi nabi\u2014 cahaya yang lembut bagi sesama, tanda belas kasih, tangan yang menyembuhkan, suara yang menghibur, sentuhan yang menguatkan.<\/p>\n<p>Marilah kita merangkul dan mendampingi. Marilah kita tak takut untuk mengasihi, menyentuh luka, mengangkat yang jatuh. Marilah kita menjadi tanda\u2014 bukan penghakiman, melainkan kelembutan Tuhan. Inilah yang dibutuhkan dunia kita. Dan inilah yang Yesus tunjukkan kepada kita.<\/p>\n<p>Tuhan, kiranya kami tidak melewatkan kesempatan untuk menjadi tanda kasih-Mu bagi semua orang yang kami jumpai. Amin.<\/p>\n<p>Selamat memasuki pekan yang baru. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Senin 21 Juli 2025 Matius 12:38 (Mat 12:38-42) Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: &#8220;Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.&#8221; Tetapi jawab-Nya kepada mereka:&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-81224","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/81224","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=81224"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/81224\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":81225,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/81224\/revisions\/81225"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=81224"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=81224"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=81224"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}