{"id":81061,"date":"2025-07-18T17:41:25","date_gmt":"2025-07-18T10:41:25","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=81061"},"modified":"2025-07-19T09:36:21","modified_gmt":"2025-07-19T02:36:21","slug":"katekese-ii-bulan-juli-2025-bijak-bermedia-sosial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=81061","title":{"rendered":"Katekese II Bulan Juli 2025 : Bijak Bermedia Sosial"},"content":{"rendered":"<p>KATEKESE II BULAN JULI 2025 : BIJAK BERMEDIA SOSIAL<\/p>\n<p>Bijak Bermedia Sosial (1)<br \/>\nKatekese Kitab Suci tentang Komunikasi Sosial<\/p>\n<p>Salve, Sahabat komisi KKS KAM! Jumpa lagi bersama kami dalam Katekese Awam Komisi Kitab Suci Keuskupan Agung Medan. Apa kabar Anda? Semoga kita semua tetap sehat dan bahagia, sehingga dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan baik. Secara khusus, kami ingin menyapa adik-adik yang sedang belajar di bangku sekolah. Selamat menjalani tahun pelajaran yang baru ya. Himpunlah kembali jiwa dan semangatmu untuk bersekolah \u2013 jangan tinggalkan pada aktivitas liburan yang kamu lakukan. Okeee?!!<br \/>\nPentingnya Media Sosial<br \/>\nGereja Katolik menyambut baik kemajuan teknologi dan informasi, termasuk media sosial. Dalam dokumen Konsili Vatikan II, Dekrit tentang Upaya-upaya Komunikasi Sosial, Inter Mirifica, dikatakan, \u201cDi antara penemuan-penemuan teknologi yang mengagumkan, yang terutama pada zaman sekarang, berkat perkenan Allah, telah digali oleh kecerdasan manusia dari alam tercipta, yang oleh Bunda Gereja disambut dan diikuti dengan perhatian istimewa \u2026 untuk menyalurkan segala macam berita dan gagasan\u201d (art. 1).<br \/>\nKitab Suci melukiskan, Allah adalah Allah yang komunikatif. Ia menyampaikan gagasan keselamatan-Nya melalui para nabi. Dalam Yer 1:9, misalnya dikatakan, \u201cSesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu\u201d untuk diteruskan kepada umat. Puncaknya, \u201csetelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan para nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya\u201d (Ibr 1:1-2).<br \/>\nLebih hebat lagi banyak komunitas rohani atau perkumpulan doa secara oline di media sosial, seperti Tiktok, Youtube, Facebook, dan Instagram. Orang-orang dengan minat yang sama berkumpul bersama secara daring lalu mengisinya dengan doa, sharing rohani, dan pengajaran iman. Tuhan hadir dalam dunia maya, \u201cSebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka\u201d (Mat 18:20). \u201cMereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan\u201d (Kis 2:42).<br \/>\nWaspada Media Sosial<br \/>\nMedia sosial, sebagai buah kemajuan teknologi, memang dimaksudkan untuk menghubungkan manusia. Namun kini, ketika digunakan secara tidak tepat, media sosial justru menjauhkan manusia dari dirinya sendiri, sesama, dan Allah. Studi membuktikan, intensitas penggunaan media sosial berkorelasi dengan meningkatnya gejala kecemasan, depresi, dan perasaan tak berharga. Ketika media sosial bukan lagi sekadar alat, tetapi menjadi pusat hidup, maka yang terjadi adalah kerusakan mendalam pada pribadi manusia.<br \/>\nKetika pikiran terus diisi dengan notifikasi dan distraksi, manusia kehilangan kepekaan akan suara ilahi. Kitab Suci menegaskan pentingnya keheningan dan ketenangan batin. Dalam Yesaya 30:15 tertulis, \u201cDalam bertobat dan tinggal diam terletak keselamatanmu, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu\u201d. Yesus sendiri, sebelum memulai pelayanan besar-Nya, selalu mengasingkan diri ke tempat sunyi untuk berdoa (Luk 5:16). Bagaimana kita bisa meneladani hal ini jika setiap saat jari dan mata terpaku pada layar?<br \/>\nIronisnya, media sosial yang dirancang untuk mempererat relasi justru berkontribusi besar pada kerusakan hubungan antar manusia. Banyak orang kini lebih nyaman mengobrol lewat pesan instan daripada berbicara langsung. Makan bersama menjadi momen \u201cselfie\u201d. Beribadah atau rekreasi pun seringkali terganggu oleh keinginan untuk membagikan pengalaman, bukan menghayatinya. Orang sibuk menjalin kontak dengan orang yang jauh di seberang, tetapi lupa dengan mereka yang ada di sebelahnya. Relasi menjadi dangkal.<br \/>\nRasul Paulus sudah mengingatkan gejala ini dalam suratnya kepada Timotius. \u201cJika ada seorang yang tidak memelihara sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman\u201d (1 Tim 5:8). Kepedulian terhadap keluarga adalah kewajiban moral dan iman. Tidak peduli pada keluarga berarti menyangkal iman Kristen itu sendiri. \u201cKarena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman\u201d (Gal 6:10).<br \/>\nBijak Bermedia Sosial<br \/>\nMedia sosial pada dasarnya adalah alat. Ia bisa digunakan untuk mendukung pewartaan, pendidikan, dan relasi. Namun ketika alat ini menguasai manusia dan membentuk cara pandangnya terhadap diri dan dunia, maka yang terjadi adalah kehancuran spiritual. Karena itu, diperlukan sikap batin yang waspada dan bijaksana. Kitab Suci mengajak kita untuk hidup dalam kebenaran, dalam kasih, dan dalam keheningan yang membuka ruang bagi Allah bekerja dalam diri kita. Kita dipanggil kembali kepada jati diri yang sejati.<\/p>\n<p>#katekese #katolik #kitabsuci #alkitab #mediasosial #sosmed #youtube<\/p>\n<p>Sumber Komisi Kerasulan Kitab Suci KAM<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KATEKESE II BULAN JULI 2025 : BIJAK BERMEDIA SOSIAL Bijak Bermedia Sosial (1) Katekese Kitab Suci tentang Komunikasi Sosial Salve, Sahabat komisi KKS KAM! Jumpa lagi bersama kami dalam Katekese Awam Komisi Kitab Suci&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":28971,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"footnotes":""},"categories":[27,5,26,28,2],"tags":[],"class_list":["post-81061","post","type-post","status-publish","format-video","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi","category-kateketik","category-pengembangan","category-sosial","category-tokoh","post_format-post-format-video"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/ki.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/81061","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=81061"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/81061\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":81088,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/81061\/revisions\/81088"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/28971"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=81061"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=81061"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=81061"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}