{"id":80098,"date":"2025-07-04T08:49:47","date_gmt":"2025-07-04T01:49:47","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=80098"},"modified":"2025-07-04T08:49:47","modified_gmt":"2025-07-04T01:49:47","slug":"jumat-04-juli-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=80098","title":{"rendered":"Jumat, 04 Juli 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nJumat 04 Juli 2025<br \/>\nMatius 9:12-13 (Mat 9:9-13)<br \/>\nYesus mendengarnya dan berkata, \u201cBukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.&#8221;<\/p>\n<p>Siapa Kita Di Mata Yesus<\/p>\n<p>Kutipan Injil ini mengisahkan pembelaan Yesus terhadap Matius yang dianggap orang Farisi sebagai pendosa berat karena ia pemungut cukai. Kata Yesus, \u201cAku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.\u201d<br \/>\nPenginjil Matius menulis sendiri kisah bagaimana ia dipanggil Yesus menjadi salah seorang RasulNya. Matius tentu menyadari siapakah dia sebelum menjadi murid Yesus dan bagaimana perubahan hidupnya sesudah mengikuti Yesus. Ia kemudian menuliskan kisahnya ini agar semua orang ikut mengalami bagaimana Yesus mengasihinya, mengampuni dan mengembalikan jati dirinya.<\/p>\n<p>Matius menyadari bahwa sebagai seorang pemungut cukai, hati nuraninya tidak tenang melakukan pekerjaan yang sesungguhnya bertentangan dengan suara hatinya. Ia harus menghalalkan segala cara agar cukai bisa dipungut, bahkan dengan jalan mengancam dan memeras. Dengan cara itu ia memperkaya diri sendiri secara tidak wajar, tanpa peduli nasib rakyat kecil. Terlebih lagi, ia bekerja untuk penjajah Romawi. Oleh karena itu ia dipandang sebagai pengkhianat bangsanya.<br \/>\nTapi sebagai pemungut cukai, Matius pintar membaca, menulis, dan berhitung. Ketrampilan yang Yesus lihat sangat penting untuk menulis InjilNya.<\/p>\n<p>Di mata Yesus, Matius adalah seorang yang mau hidup sesuai hati nuraninya. Ia mau meninggalkan perbuatannya yang salah dan hidup baru bersama Yesus. Ia punya talenta dan karunia menulis yang dapat ia persembahkan untuk Kerajaan Allah.<br \/>\nDemikianlah Yesus memandang Matius dan kita semua sebagai anak-anak Allah yang perlu ditebus dan diselamatkan dari dosa. Kita dipilih dan dipanggil untuk menjadi saksi kebaikan Tuhan.<br \/>\nOleh kepercayaan yang diberikan Kristus kepada kita untuk menjadi orang pilihanNya, itu tandanya Yesus mencintai kita apa adanya. Ia mengangkat kita dari kejatuhan dan dosa serta mengampuni kita untuk memulai hidup baru dalam pengasihan Tuhan. Mari kita hidup dan berkarya untuk tujuan Kerajaan Allah.<\/p>\n<p>Selamat hari Jumat pertama dalam bulan Juli. Kasih Yesus menguatkan kita.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 04 Jul 2025<br \/>\nJumat Pekan Biasa XIII<br \/>\nPF S. Elisabet dari Portugal<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mat 11:28<br \/>\nBacaan Injil: Mat 9:9-13<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMat 11:28<br \/>\nDatanglah pada-Ku, kalian yang letih dan berbeban berat,<br \/>\nmaka Aku akan membuat kalian lega.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 9:9-13<br \/>\nBukan orang sehat yang memerlukan dokter;<br \/>\nAku menginginkan kasih sayang, bukan persembahan.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Pada suatu hari Yesus melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai.<br \/>\nYesus berkata kepadanya, &#8220;Ikutlah Aku.&#8221;<br \/>\nMatius segera berdiri dan mengikut Yesus.<\/p>\n<p>Kemudian, ketika Yesus makan di rumah Matius,<br \/>\ndatanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa,<br \/>\nmakan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.<br \/>\nMelihat itu orang-orang Farisi berkata kepada murid-murid Yesus,<br \/>\n&#8220;Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?&#8221;<\/p>\n<p>Yesus mendengarnya dan berkata,<br \/>\n&#8220;Bukan orang sehat yang memerlukan tabib,<br \/>\ntetapi orang sakit.<br \/>\nMaka pelajarilah arti sabda ini,<br \/>\n&#8216;Aku menginginkan belas kasihan, bukan persembahan.&#8217;<br \/>\nAku datang bukannya untuk memanggil orang benar,<br \/>\nmelainkan orang berdosa.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n*************<\/p>\n<p>EMBUN ROHANI PAGI DARI KOTA AMBON MANISE<\/p>\n<p>MENJADI JALAN SETAPAK MENUJU YESUS<\/p>\n<p>\u201cJika engkau bertobat, berubah dan berbuah kebaikan maka sesungguhnya Anda telah menjadikan diri dan hidupmu sebagai contoh dan teladan bagi sesamamu. Engkau adalah pelita yang menerangi kegelapan dan engkaulah jalan setapak menuju Yesus.\u201d<\/p>\n<p>Setelah pertobatannya, hidup dan diri Levi menjadi jalan masuk bagi para pendosa untuk bertemu dengan Yesus seperti dikisahkan dalam Injil hari ini: \u201cKemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.&#8221; ( ayat 10 )<\/p>\n<p>Karena itu, inilah yang harus kita lakukan;<\/p>\n<p>&#8211; Nasehatilah sesamamu yang gelap jalan hidup mereka dengan sedikit kata tapi banyak teladan hidup;<\/p>\n<p>&#8211; \u2060Praktekanlah hidup doa dan kesucianmu secara konsisten maka engkau akan menjadi pelita dan teladan bagi sesamamu;<\/p>\n<p>&#8211; \u2060Bagi Yesus, engkau tetap berarti maka tinggalkanlah masa lalumu dan datanglah kepada Yesus.<\/p>\n<p>Akhirnya, semoga hidup dan dirimu menjadi jalan setapak bagi sesamamu untuk bertemu dengan Yesus.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas untuk para sahabat.<\/p>\n<p>Salam, doa dan berkatku ( + ) untuk semua.<br \/>\n( Dari: Mgr. Inno Ngutra : Minnong &#8211; Duc in Altum )<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Jumat 04 Juli 2025 Matius 9:12-13 (Mat 9:9-13) Yesus mendengarnya dan berkata, \u201cBukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-80098","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/80098","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=80098"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/80098\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":80099,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/80098\/revisions\/80099"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=80098"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=80098"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=80098"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}