{"id":79531,"date":"2025-06-24T15:26:38","date_gmt":"2025-06-24T08:26:38","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=79531"},"modified":"2025-06-24T15:26:38","modified_gmt":"2025-06-24T08:26:38","slug":"selasa-24-juni-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=79531","title":{"rendered":"Selasa, 24 Juni 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSelasa 24 Juni 2025<br \/>\nHari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis<br \/>\nNovena Hati Kudus Yesus hari ke 7<br \/>\nLukas 1:66 (Luk 1:57-66, 80)<br \/>\nDan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: &#8220;Menjadi apakah anak ini nanti?&#8221; Sebab tangan Tuhan menyertai dia.<\/p>\n<p>Bercermin Dari Hidup Yohanes Pembaptis<\/p>\n<p>Gereja mengajak kita mengambil waktu untuk merayakan Kelahiran Yohanes Pembaptis, karena kelahirannya secara khusus dan istimewa dicatat dalam Injil sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kedatangn Yesus.<br \/>\nKelahiran Yohanes mendahului Yesus adalah bagian dari pemenuhan nubuatan janji Allah untuk mendatangkan Penebus bagi umat manusia.<br \/>\nKelahiran Yohanes dan Yesus dicatat dalam Injil sebagai peristiwa yang luar biasa. Orangtua Yohanes, Zakaria dan Elisabet sudah tua dan tak mungkin punya anak. Sementara Maria mengandung Yesus oleh Roh Kudus. Kelahiran mereka adalah campur tangan langsung Allah yang kita ketahui melalui malaikat Gabriel utusan Allah.<br \/>\nKita lalu membayangkan, kalau Allah merancang hidup Yohanes dan Yesus sedemikian hebatnya dari awal, bukankah harusnya berakhir juga dengan ending yang luar biasa? Misalnya seperti nabi Elia. Sesudah akhir karyanya sebagai nabi, Elia diangkat ke surga dengan kereta dan kuda berapi (baca 2 Raja 2:1-11).<br \/>\nPertanyaanya mengapa hidup Yohanes dan Yesus berakhir begitu tragis? Yohanes mati dipenggal kepalanya oleh Raja Herodes, dan Yesus mati disalibkan bangsanya sendiri. Kematian seperti ini kelihatannya seperti sebuah akhir yang gagal atau sia-sia. Apa kiranya pesannya bagi kita?<\/p>\n<p>Hidup dan karya Yohanes Pembaptis, sebagaimana juga Yesus, menjadi cerminan perjalanan hidup kita di dunia. Kita dilahirkan di dunia ini bukan hanya untuk mengejar cita-cita dan kemauan kita pribadi.<br \/>\nKita terlahir untuk misi Allah, agar kita hidup sesuai rancangan Tuhan yakni hidup sepenuhnya bagi kemuliaan Tuhan, dengan mencintai Tuhan sepenuh hati, segenap jiwa dan tenaga, dan mencintai sesama seperti Kristus telah mencintai kita.<br \/>\nRancangan Allah bagi kita tidak tergantung singkat atau panjangnya hidup kita di dunia ini. Mari kita hidup dengan gagah berani, seperti Yohanes dan Yesus, memperjuangkan kebenaran dan cinta sekalipun berat dan terluka, memberikan yang terbaik, tak peduli singkat atau panjangnya hidup di dunia ini.<br \/>\nYang paling utama adalah kita telah menjalankan maksud dan misi Allah pencipta kita untuk percaya pada Yesus PutraNya, menjadi seperti Yesus serentak juga menjdi saksi Kristus, seperti Yohanes Pembaptis.<br \/>\n\u201dSt Yohanes Pembaptis, doakanlah kami dari surga agar setia menjalankan misi hidup kami di dunia ini sampai akhir hidup kami. Amin.\u201d<\/p>\n<p>Selamat Hari Raya. Berkat Allah menyemangati kita menjalankan karya dan misi kita.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 24 Jun 2025<br \/>\nSelasa Pekan Biasa XII<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Luk 1:76<br \/>\nBacaan Injil: Luk 1:57-66.80<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nLuk 1:76<br \/>\nEngkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi;<br \/>\nkarena engkau akan berjalan mendahului Tuhan<br \/>\nuntuk mempersiapkan jalan bagi-Nya.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 1:57-66.80<br \/>\nNamanya adalah Yohanes.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Pada waktu itu<br \/>\ngenaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin,<br \/>\ndan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki.<br \/>\nKetika para tetangga serta sanak saudaranya mendengar<br \/>\nbahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepada Elisabet,<br \/>\nbersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.<br \/>\nMaka datanglah mereka pada hari yang kedelapan<br \/>\nuntuk menyunatkan anak itu,<br \/>\ndan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya.<br \/>\nTetapi Elisabet, ibunya, berkata,<br \/>\n&#8220;Jangan, ia harus dinamai Yohanes.&#8221;<br \/>\nKata mereka kepadanya,<br \/>\n&#8220;Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.&#8221;<\/p>\n<p>Lalu mereka memberi isyarat kepada Zakharia<br \/>\nuntuk bertanya nama apa yang hendak ia berikan kepada anaknya itu.<br \/>\nZakharia meminta batu tulis,<br \/>\nlalu menuliskan kata-kata ini,<br \/>\n&#8220;Namanya adalah Yohanes.&#8221;<br \/>\nDan mereka pun heran semuanya.<\/p>\n<p>Seketika itu juga terbukalah mulut Zakharia,<br \/>\ndan terlepaslah lidahnya,<br \/>\nlalu ia berkata-kata dan memuji Allah.<\/p>\n<p>Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya,<br \/>\ndan segala peristiwa itu menjadi buah tutur<br \/>\ndi seluruh pegunungan Yudea.<br \/>\nSemua yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata,<br \/>\n&#8220;Menjadi apakah anak ini nanti?&#8221;<br \/>\nSebab tangan Tuhan menyertai dia.<\/p>\n<p>Anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya.<br \/>\nIa kemudian tinggal di padang gurun<br \/>\nsampai tiba harinya ia harus menampakkan diri kepada Israel.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cIa meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: &#8220;Namanya adalah Yohanes.&#8221; Dan merekapun heran semuanya. Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah,\u201d [Luk 1: 63 \u2013 64]<\/p>\n<p>Hari ini, Gereja merayakan dengan sukacita Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis \u2014 kelahiran yang membawa terang dan harapan bagi kehidupan Elisabet dan Zakharia. Kisah mereka adalah kisah kepercayaan dan kejutan. Mereka sudah tua, jauh melampaui usia untuk memiliki anak, namun janji Allah menembus kesedihan mereka. Kelahiran putra mereka mengingatkan kita bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah (Luk 1:37). Ketika kita merasa putus asa atau terlupakan, marilah kita ingat: Allah tetap bekerja, seringkali melampaui apa yang dapat kita pahami.<\/p>\n<p>Injil menceritakan momen kecil namun berarti, yakni ketika Zakaria, yang masih bisu, menulis: \u201cNamanya adalah Yohanes.\u201d Dengan tindakan iman itu, lidahnya terlepas dan ia memuji Allah. Nama Yohanes berarti \u201cAllah berbelaskasih\u201d \u2014 nama yang tidak dipilih berdasarkan tradisi keluarga, melainkan diberikan oleh anugerah ilahi. Anak ini akan tumbuh menjadi pendahulu Kristus, seorang nabi bagi orang miskin dan rendah hati, mempersiapkan jalan Tuhan.<\/p>\n<p>Semua yang menyaksikan momen ini dipenuhi dengan keheranan, kekaguman, dan rasa syukur. Inilah tanda-tanda iman yang hidup, iman yang mengenali tangan Allah dalam permulaan yang kecil dan mukjizat yang tersembunyi.<\/p>\n<p>Mari kita tanya pada diri sendiri: Apakah aku juga mempunyai iman seperti itu? Apakah aku merasa bahagia ketika melihat Allah bekerja? Apakah aku terbuka terhadap kejutan-Nya? Apakah hatiku masih terpesona dan penuh syukur atas anugerah kehidupan, oleh kasih karunia setiap hari baru?<\/p>\n<p>Marilah kita berdoa kepada Bunda Maria yang suci, yang percaya pada janji-janji Allah, untuk membantu kita menemukan kembali iman yang penuh sukacita, keheranan, kejutan, dan syukur. Semoga setiap keluarga menjadi tempat suci kehidupan, dan semoga kita, seperti Yohanes, menjadi saksi kasih karunia Allah di dunia.<\/p>\n<p>Ya Tuhan, Engkau mengenal kami sebagaimana adanya. Engkau telah membentuk dan memanggil kami bahkan sebelum kami dilahirkan. Semoga kami melayani-Mu dengan kerendahan hati dan mempersiapkan jalan bagi kedatangan yang lebih dalam dari Putera-Mu, Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Jangan lupa bersyukur atas karya-Nya, sekecil apapun. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"2I0FAMEB7b\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/sukacita-mukjizat-dan-rasa-syukur\/\">SUKACITA, MUKJIZAT DAN RASA SYUKUR<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;SUKACITA, MUKJIZAT DAN RASA SYUKUR&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/sukacita-mukjizat-dan-rasa-syukur\/embed\/#?secret=4gLKkvh4yC#?secret=2I0FAMEB7b\" data-secret=\"2I0FAMEB7b\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Selasa 24 Juni 2025 Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis Novena Hati Kudus Yesus hari ke 7 Lukas 1:66 (Luk 1:57-66, 80) Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: &#8220;Menjadi apakah anak&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-79531","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/79531","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=79531"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/79531\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":79535,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/79531\/revisions\/79535"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=79531"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=79531"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=79531"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}