{"id":79480,"date":"2025-06-23T09:40:12","date_gmt":"2025-06-23T02:40:12","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=79480"},"modified":"2025-06-23T09:40:12","modified_gmt":"2025-06-23T02:40:12","slug":"senin-23-juni-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=79480","title":{"rendered":"Senin, 23 Juni 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSenin 23 Juni 2025<br \/>\nNovena Hati Kudus Yesus hari ke 6<br \/>\nMatius 7:1-2 (Mat 7:1-5)<br \/>\n\u201dMengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?\u201d<\/p>\n<p>Proyeksi Diri<\/p>\n<p>Yesus meminta kita untuk berkaca dan melihat ke dalam diri sendiri dengan jujur dan tulus, sebelum melihat kekurangan dan kesalahan orang lain. Bisa jadi hal-hal negatif yang dilihat dalam diri orang lain adalah cerminan diri sendiri atau proyeksi diri. Apalagi bila penghakiman itu datang dari kebencian dan prasangka buruk. Bisa jadi bukan orang lain yang bermasalah tapi diri sendiri.<br \/>\nIngatlah, ketika sebuah jari menunjuk orang lain dan semua kekurangannya, ada tiga jari menunjuk diri sendiri dan ada jari ibu yang menunjuk ke langit.<\/p>\n<p>Yesus mengingatkan kita jangan sampai dengan mudah kita melihat \u201cselumbar\u201d atau serpihan kecil, kesalahan kecil seperti sehelai rambut dalam diri orang lain, padahal \u201cada balok\u201d kekurangan atau kesalahan yang lebih besar dalam diri sendiri tapi tidak mampu dilihat.<br \/>\nPepatah mengatakan, \u201cmenepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.\u201d Pepatah ini mengingatkan bahwa fitnah dan benci, prasangka buruk dan pikiran negatif yang ditujukan pada orang lain bisa saja berbalik menyerang diri sendiri, karena menjadi gambaran diri sebagai seorang pembenci yang tidak punya kedamaian di hati.<\/p>\n<p>\u201dYa Bapa surgawi, ampunilah kami bila sering menghakimi orang lain dan merasa diri paling benar. Sucikanlah hati dan pikiran kami agar dapat melihat dengan tulus dan murni kebaikanMu dalam diri sesama kami. Bila kami ingin menegur, berilah kami hati yang penuh kasih. Amin.\u201d<\/p>\n<p>Semangat Senin! Mari kenakan pikiran dan perasaan Yesus dalam pikiran dan hati kita..\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 23 Jun 2025<br \/>\nSenin Pekan Biasa XII<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Ibr 4:12<br \/>\nBacaan Injil: Mat 7:1-5<br \/>\n**************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nIbr 4:12<br \/>\nFirman Tuhan itu hidup dan kuat,<br \/>\nmenusuk ke dalam jiwa dan roh.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 7:1-5<br \/>\nKeluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Dalam khotbah di bukit Yesus berkata:<br \/>\n&#8220;Janganlah menghakimi, supaya kalian tidak dihakimi.<br \/>\nKarena dengan penghakiman<br \/>\nyang telah kalian pakai untuk menghakimi,<br \/>\nkalian sendiri akan dihakimi.<br \/>\nDan ukuran yang kalian pakai untuk mengukur,<br \/>\nakan ditetapkan pada kalian sendiri.<br \/>\nMengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu,<br \/>\nsedangkan balok dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?<br \/>\nBagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu,<br \/>\n&#8216;Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu,<br \/>\npadahal di dalam matamu sendiri ada balok?&#8217;<\/p>\n<p>Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri,<br \/>\nmaka engkau akan melihat dengan jelas<br \/>\nuntuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n*************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cJangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.\u201d [Mat 7: 1]<\/p>\n<p>Kita mungkin akan menafsirkan sabda Tuhan di atas dengan mengatakan bahwa kita diberitahu supaya kita tidak menghakimi orang lain dan dengan demikian lebih baik kita mengurus urusan kita sendiri. Di sinilah kita dapat jatuh pada godaan atau ekstrim yang lain dari kecenderungan mengadili, yaitu ketidakpedulian. Kemudian kita berkata: \u201cItu bukan urusan saya, mengapa repot-repot?\u201d \u201cSaya tidak ingin mengatakan apa-apa. Toh saya jatuh dalam kesalahan yang sama.\u201d Mungkin kita tergoda untuk mengatakan: \u201cAh, biar saja, itu kan urusan mereka. Saya sibuk dengan urusan saya.\u201d<\/p>\n<p>Jika kita cermati, komentar-komentar seperti itu bukanlah menghindari kecenderungan menghakimi orang lain, tetapi menempatkan diri sendiri menjadi pusat segala sesuatu. Sering kali, kita sibuk dengan kesalahan orang lain, sehingga mengabaikan pelanggaran kita sendiri yang lebih serius. Kita ingin membangun pencitraan yang lebih baik dan menyembunyikan kelemahan kita.<\/p>\n<p>Merenungkan sabda Tuhan hari ini, kita sadar bahwa mengenali dan mengkritik kesalahan orang lain tidak dilarang. Bahkan dalam bagian Injil lainnya Yesus mendorong kita untuk memberikan koreksi persaudaraan (correctio fraterna) [Mat 18: 15 dst]. Jadi yang mau disampaikan adalah bahwa kita tidak boleh memberikan penilaian dalam semangat arogansi, lupa akan kesalahan dan kekurangan diri sendiri. Kita dipanggil untuk mengasihi, bukan acuh tak acuh.<\/p>\n<p>Kunci dari semua itu adalah kerendahan hati. Jika kita cukup rendah hati, kita dapat melihat dengan jelas ke dalam diri kita dan mengakui kekurangan dan kesalahan kita. Kita mungkin lebih buruk dari saudara-saudari kita, tetapi itu seharusnya tidak menghalangi kita untuk menyatakan kasih kita kepada mereka, dengan mengoreksi kesalahan atau kekurangan mereka. Memberitahu orang lain tentang kesalahan mereka dengan rendah hati adalah ekspresi kasih kita. Atas cara yang sama, ketika orang lain mengkritik, mengoreksi kesalahan kita, itu adalah kasih yang dinyatakan kepada kita. Dengan demikian, dasar dari semua itu adalah kasih.<\/p>\n<p>\u201cFraternal love is the nearest testimony that we can give that Jesus is alive among us,\u201d kata Paus Fransiskus. Kasih persaudaraan adalah kesaksian terdekat yang dapat kita berikan bahwa Yesus hidup di tengah-tengah kita.<\/p>\n<p>Tuhan, penuhilah hatiku dengan belas kasih. Tolonglah aku untuk menyingkirkan kecenderungan untuk menghakimi dan menggantinya dengan kasih-Mu. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas di pekan yang baru. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"hRa5raWFX1\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/bukan-menghakimi-tetapi-saling-koreksi\/\">BUKAN MENGHAKIMI TETAPI SALING KOREKSI<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;BUKAN MENGHAKIMI TETAPI SALING KOREKSI&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/bukan-menghakimi-tetapi-saling-koreksi\/embed\/#?secret=WcCRnt8hFU#?secret=hRa5raWFX1\" data-secret=\"hRa5raWFX1\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Senin 23 Juni 2025 Novena Hati Kudus Yesus hari ke 6 Matius 7:1-2 (Mat 7:1-5) \u201dMengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?\u201d Proyeksi Diri&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-79480","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/79480","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=79480"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/79480\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":79481,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/79480\/revisions\/79481"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=79480"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=79480"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=79480"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}