{"id":78965,"date":"2025-06-12T09:22:28","date_gmt":"2025-06-12T02:22:28","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=78965"},"modified":"2025-06-12T09:22:28","modified_gmt":"2025-06-12T02:22:28","slug":"kamis-12-juni-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=78965","title":{"rendered":"Kamis, 12 Juni 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nKamis 12 Juni 2025<br \/>\nMatius 5:23-24 (Mat 5:20-26)<br \/>\n\u201dJika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.\u201d<\/p>\n<p>Rekonsiliasi Adalah Persembahan Terindah Untuk Tuhan<\/p>\n<p>Yesus meminta kita agar relasi kita dengan Bapa di surga tak terlepas dari relasi kita dengan orang lain. Untuk apa membawa persembahan kepada Tuhan bila hati masih penuh dengan rasa marah, dendam dan benci serta pelbagai pikiran negatif terhadap orang lain. Hati yang damai jauh lebih berarti dari melimpahnya persembahan.<\/p>\n<p>Menganggap semua baik-baik saja padahal ada ganjalan di hati, berarti orang itu berpura-pura. Tuhan yang tahu isi hati manusia tentu saja kecewa. Rasul Yohanes berkata, \u201cJikalau seorang berkata: &#8220;Aku mengasihi Allah,&#8221; dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.\u201d (1 Yoh 4:20).<br \/>\nRekonsiliasi atau berdamai kembali itulah persembahan terindah untuk Tuhan. Tidak perlu merasa benar sendiri. Cinta yang dalam selalu mampu memaafkan.<\/p>\n<p>\u201dYa Yesus, anugerahkanlah kami semangat rendah hati agar kami selalu mau berdamai, berani meminta maaf dan rela mengampuni orang yang telah melukai hati kami. Sembuhkanlah hati kami yang terluka dengan jamahan kasihMu. Semoga kami juga dapat saling menyembuhkan. Amin.\u201d<\/p>\n<p>Selamat hari Kamis. Syalom, damai selalu di hati.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 12 Jun 2025<br \/>\nKamis Pekan Biasa X<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mat 13:34<br \/>\nBacaan Injil: Mat 5:20-26<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMat 13:34<br \/>\nPerintah baru Kuberikan kepada kalian, sabda Tuhan;<br \/>\nyaitu supaya kalian saling mengasihi,<br \/>\nsebagaimana Aku telah mengasihi Tuhan.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 5:20-26<br \/>\nBarangsiapa marah terhadap saudaranya, harus dihukum.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Dalam khotbah di bukit, berkatalah Yesus,<br \/>\n&#8220;Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar<br \/>\ndaripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi,<br \/>\nkalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.<\/p>\n<p>Kalian telah mendengar<br \/>\napa yang disabdakan kepada nenek moyang kita:<br \/>\nJangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.<br \/>\nTetapi Aku berkata kepadamu:<br \/>\nSetiap orang yang marah terhadap saudaranya, harus dihukum!<br \/>\nBarangsiapa berkata kepada saudaranya: &#8216;Kafir!&#8217;<br \/>\nharus dihadapkan ke Mahkamah Agama,<br \/>\ndan siapa yang berkata: &#8216;Jahil!&#8217;<br \/>\nharus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.<br \/>\nSebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah,<br \/>\ndan engkau teringat akan sesuatu<br \/>\nyang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,<br \/>\ntinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu<br \/>\ndan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu,<br \/>\nlalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.<\/p>\n<p>Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau<br \/>\nbersama-sama dengan dia di tengah jalan,<br \/>\nsupaya lawanmu jangan menyerahkan engkau kepada hakim,<br \/>\ndan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya,<br \/>\ndan engkau dilemparkan ke dalam penjara.<br \/>\nAku berkata kepadamu:<br \/>\nSesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana,<br \/>\nsebelum engkau membayar utangmu sampai lunas.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cOrang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala,\u201d (Mat 5: 22)<\/p>\n<p>Injil hari ini mengajarkan bahwa siapa pun yang menyimpan kebencian di hatinya adalah seorang \u201cpembunuh\u201d di dalam hati. Itulah tempat Injil selalu dimulai: bukan dari luar, tetapi dari dalam hati. Tetapi di situ jugalah perang dimulai. Di situlah perpecahan berkembang.<\/p>\n<p>Yesus pun sangat jelas: jangan menghina, jangan merendahkan, jangan berbicara buruk tentang saudara atau saudari Anda. Dia tidak hanya berbicara tentang kekerasan fisik, tetapi juga tentang kekerasan lidah \u2014 senjata tajam dan cepat yang dengan mudah kita gunakan. Kekerasan verbal sering disamarkan sebagai lelucon, sarkasme, atau sindiran cerdas. Namun di balik itu, ada keinginan untuk merendahkan orang lain agar kita merasa sedikit lebih tinggi.<\/p>\n<p>Mengapa kita melakukan ini? Karena kita lemah dan rapuh. Seperti Kain, ketika kita merasa tidak aman atau terluka, kita lebih mudah tergoda untuk menyerang dengan kata-kata ketimbang membuka hati bagi kebaikan. Lebih mudah bergosip daripada memberkati. Lebih mudah meruntuhkan daripada membangun.<\/p>\n<p>Namun Yesus menawarkan cara yang lain. Cara yang menuntut pertobatan \u2014 perubahan hati. Ia memanggil kita kepada \u201chukum kasih, hukum ketaatan, hukum damai.\u201d Itu dimulai dengan cara sederhana, dengan lidah kita. Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya,\u201d kata kitab Amsal (18: 21)<\/p>\n<p>Mari kita mohon kepada Tuhan karunia untuk mengendalikan lidah kita \u2014 mengurangi kepahitan, melunakkan nada, memilih diam daripada memfitnah, memberkati daripada menghina. Ini adalah silih dosa yang kecil, tetapi menghasilkan damai berlimpah.<\/p>\n<p>Semoga kata-kata kita memberi kehidupan, bukan luka. Semoga ucapan mulut kita menguatkan, bukan membebani. Dan semoga kita tidak pernah lupa: kita semua menapaki jalan yang sama \u2014 membutuhkan belas kasih, kesabaran, dan cinta.<\/p>\n<p>Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk terus bertumbuh setiap hari dalam kesabaran, dalam kemampuan untuk memaafkan, dan dalam kesediaan kami untuk berkorban. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Jadilah pembawa damai! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"OIIMyEcr0l\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/jagalah-lidahmu\/\">JAGALAH LIDAHMU<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;JAGALAH LIDAHMU&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/jagalah-lidahmu\/embed\/#?secret=xevFA6WHNb#?secret=OIIMyEcr0l\" data-secret=\"OIIMyEcr0l\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Kamis 12 Juni 2025 Matius 5:23-24 (Mat 5:20-26) \u201dJika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-78965","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/78965","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=78965"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/78965\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":78967,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/78965\/revisions\/78967"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=78965"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=78965"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=78965"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}