{"id":7828,"date":"2016-02-21T21:53:58","date_gmt":"2016-02-21T14:53:58","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=7828"},"modified":"2016-02-21T21:53:58","modified_gmt":"2016-02-21T14:53:58","slug":"senin-22-februari-2016","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=7828","title":{"rendered":"Senin, 22 Februari 2016"},"content":{"rendered":"<div class=\"idx_kal_perayaan\">Pesta<br \/>\nTakhta St. Petrus<\/div>\n<div class=\"idx_kal_perayaan\"><\/div>\n<div class=\"idx_kal_alkitab\">\n<div><a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=1Ptr5:1-4;\" target=\"_blank\">1Ptr. 5:1-4<\/a>; <a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=Mzm23:1-3;Mzm23:3-4;Mzm23:5;Mzm23:6;\" target=\"_blank\">Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6<\/a>; <a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=Mat16:13-19;\" target=\"_blank\">Mat. 16:13-19<\/a>.<br \/>\nBcO <a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=Kis11:1-18;\" target=\"_blank\">Kis. 11:1-18<\/a><\/div>\n<div><\/div>\n<\/div>\n<div class=\"idx_kal_pakaian\">\n<div>warna liturgi Putih<\/div>\n<\/div>\n<div><iframe loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/dailyfreshjuice.net\/?powerpress_pinw=5904-podcast&amp;powerpress_player=default\" width=\"320\" height=\"50\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/div>\n<div>\n<p align=\"justify\"><span class=\"style139\">Pesta Tahkta Suci Santo Petrus<\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><span class=\"style136\">Menurut cerita lisan yang beredar di kalangan gereja, <a href=\"http:\/\/imankatolik.or.id\/sejarahpaus\/Santo%20Petrus.html\">Santo Petrus<\/a>yang diberi kuasa oleh Yesus untuk memimpin Gereja mendirikan dua buah tahkta keuskupan. Yang pertama didirikan di Antiokhia, di tengah\u00a0 tengah kaum Yahudi dan orang\u00a0 orang kafir pada tahun 35. Disana Petrus memimpin jemaatnya selama tujuh tahun. Setelah dua kali mengunjungi Roma, maka pada tahun 65 ia menetap disana sebagai Uskup pertama.<br \/>\nMaksud pesta Tahkta suci Santo Petrus adalah untuk menghormati Petrus sebagai Wakil Kristus dan gembala tertinggi gereja yang mempunyai kuasa rohani atas segenap anggota gereja dan semua gereja setempat. Kuasa Petrus ini yang lazim disebut Primat Petrus &#8211; diberikan langsung oleh Yesus sebelum kenaikan Nya ke surga (Yoh21:15-19).<\/span><\/p>\n<p><span class=\"style137\">Santa Margaretha dari Cortona, Pengaku Iman<\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><span class=\"style136\">Margaretha tergolong gadis yang malang hidupnya terlebih-lebih setelah ibunya meninggal. Gaya hidupnya sembrono tanpa kendali. Nasehat\u00a0 nasehat saleh dari ibunya tidak lagi dituruti. Demikian pula kewajiban\u00a0 kewajiban agama. Gejolak remajanya tidak sanggup dikendalikannya. Ia bergaul dan bersenang\u00a0 senang dengan pemuda\u00a0 pemuda tanggung yang buruk akhlaknya. Pada usia 16 tahun, ia mengikuti seorang pemuda bangsawan ke Montepulsiano. Di sana ia hidup bersama pemuda itu sebagai selir.<br \/>\nPada suatu hari ia mengikuti anjing kesayangan tuannya, yang menunjukkan tanda\u00a0 tanda aneh tentang suatu kejadian. Sampai di suatu tempat, anjing itu behenti sambil menyalak nyalak. Ternyata disitu tergeletaklah pemuda bangsawan itu sambil berlumuran darah dan tak bernyawa lagi. Pemuda itu dibunuh oleh orang yang tak diketahui. Karena peristiwa ini, Margaretha diusir keluar dari istana bersama dengan anaknya. Ia pergi ke rumah ibu tirinya tetapi disana ia tidak diterima. Setelah luntang\u00a0 lantung beberapa hari, ia lalu pergi ke biara suster\u00a0 suster Santo Fransiskus untuk meminta perlindungan. Di biara itu ia diterima.<br \/>\nDi biara inilah, Margaretha mulai menyadari kebejatan hidupnya. Ia bertobat dan berniat untuk meninggalkan perbuatan\u00a0 perbuatannya yang bejat itu. Pada suatu hari minggu ia pergi ke kampung halamannya, Laviano, untuk berdoa di Gereja dan mengakui dosa\u00a0 dosanya.<br \/>\nSetelah mengalami banyak percobaan batin yang berat, akhirnya ia diterima sebagai anggota ordo ketiga Santo Fransiskus. Keanggotaannya di dalam ordo ini sungguh suatu anugerah Tuhan baginya. Ia mulai menata hidupnya secara baru dalam doa dan karya\u00a0 karya amal. Akhirnya ia sendiri mendirikan sebuah rumah sakit untuk orang\u00a0 orang miskin. Anaknya sendiri menjadi seorang imam dalam Ordo Santo Fransiskus. Margaretha meninggal dunia pada tahun 1297 di Cortona.<\/span><\/p>\n<p align=\"justify\">Sumber<br \/>\nhttp:\/\/imankatolik.or.id\/kalender\/22Feb.html<br \/>\nhttp:\/\/dailyfreshjuice.net\/wp-content\/uploads\/2016\/02\/FJ2016-02-22-Mencintai-Yesus-itu-Anugerah-Sr-ERLIN-RVM.mp3<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pesta Takhta St. Petrus 1Ptr. 5:1-4; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Mat. 16:13-19. BcO Kis. 11:1-18 warna liturgi Putih Pesta Tahkta Suci Santo Petrus Menurut cerita lisan yang beredar di kalangan gereja, Santo Petrusyang diberi kuasa oleh&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7613,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-7828","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2016\/02\/Kerahiman-Allah.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7828","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7828"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7828\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7829,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7828\/revisions\/7829"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7613"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7828"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7828"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7828"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}