{"id":77510,"date":"2025-05-18T09:55:17","date_gmt":"2025-05-18T02:55:17","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=77510"},"modified":"2025-05-18T09:55:17","modified_gmt":"2025-05-18T02:55:17","slug":"minggu-18-mei-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=77510","title":{"rendered":"Minggu, 18 Mei 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nMinggu 18 Mei 2025<br \/>\nMinggu Paskah V<br \/>\nYohanes 13:34 (Yoh 13:31-35)<br \/>\n\u201dAku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.\u201d<\/p>\n<p>Perintah Yang Selalu Baru<\/p>\n<p>Ajakan untuk saling mengasihi satu sama lain sesungguhnya adalah prinsip hidup setiap kebudayaan. Bersifat universal dan melampaui segala waktu.<br \/>\nPerintah saling mengasihi menjadi baru saat Yesus datang dan meminta kita saling mengasihi \u201csama seperti Aku telah mengasihi kamu.\u201d<br \/>\nDengan demikian ukuran cinta kita bukan lagi berdasarkan perspektif kita atau apa yang kita anggap baik, tapi dari cara Yesus mencintai kita. Ia mencintai kita tanpa syarat. Bahkan ketika kita masih berdosa Ia rela berkorban dan mati untuk kita, sekalipun kita tak layak untuk itu.<br \/>\nDi atas kayu salib, Yesus memohonkan pengampunan bagi orang-orang yang telah menyiksa dan membunuh Dia.<br \/>\nPengkhianatan Petrus tidak dibalasNya dengan hukuman tapi Ia mengampuni Petrus dan memberinya tanggungjawab memimpin Gereja.<\/p>\n<p>Kini Yesus meminta kita untuk mencintai sesama, sama seperti Ia telah mencintai kita. Mari membaharui komitmen kita untuk mencintai Tuhan dan sesama sama seperti Yesus telah mencintai kita.<br \/>\nMemang cinta kita tak sesempurna cinta Yesus bagi kita. Namun tekad untuk mencintai tanpa syarat terus kita bangun, agar kita sungguh dapat menjadi murid Yesus. Kata Yesus, \u201cDengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.&#8221;<br \/>\nApalah artinya kita menyebut diri murid Yesus, kalau kita tak tak mampu mengasihi dan mengampuni. Cinta dan pengampunan kiranya menjadi jati diri kita.<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu Paskah V. Biarlah kasih Yesus selalu mengobarkan cinta kita.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 18 Mei 2025<br \/>\nMinggu Paskah V<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 13:34<br \/>\nBacaan Injil: Yoh 13:31-33a.34-35<br \/>\n**************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 13:34<br \/>\nAku memberikan perintah baru kepada kamu, sabda Tuhan,<br \/>\nyaitu supaya kamu saling mengasihi,<br \/>\nsama seperti Aku telah mengasihi kamu.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nYoh 13:31-33a.34-35<br \/>\nAku memberikan perintah baru kepadamu,<br \/>\nyaitu supaya kamu saling mengasihi.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Yohanes:<\/p>\n<p>Dalam perjamuan malam terakhir,<br \/>\nsesudah Yudas meninggalkan ruang perjamuan,<br \/>\nberkatalah Yesus kepada para murid yang lain,<br \/>\n&#8220;Sekarang Anak Manusia dipermuliakan,<br \/>\ndan Allah dipermuliakan di dalam Dia.<br \/>\nJikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia,<br \/>\nAllah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya,<br \/>\ndan akan mempermuliakan Dia dengan segera.<\/p>\n<p>Hai anak-anak-Ku,<br \/>\ntinggal sesaat lagi Aku ada bersama kamu.<br \/>\nAku memberikan perintah baru kepadamu,<br \/>\nyaitu supaya kamu saling mengasihi;<br \/>\nsama seperti Aku telah mengasihi kamu,<br \/>\ndemikian pula kamu harus saling mengasihi.<br \/>\nDengan demikian semua orang akan tahu,<br \/>\nbahwa kamu adalah murid-murid-Ku,<br \/>\nyaitu jikalau kamu saling mengasihi.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cAku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.\u201d (Yoh 13: 34)<\/p>\n<p>Sebelum kembali kepada Bapa, Yesus meninggalkan warisan terbesar bagi para murid-Nya &#8211; dan bagi kita: \u201cSama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi\u201d (Yoh. 13:34). Ini adalah inti dari arti menjadi seorang Kristen. Bukan sekadar panggilan untuk mengasihi, tetapi untuk mengasihi sebagaimana Kristus sendiri telah mengasihi kita &#8211; sepenuhnya, dengan cuma-cuma, dan tanpa syarat.<\/p>\n<p>Yesus mengucapkan kata-kata ini pada saat kegelapan dan pengkhianatan, namun Dia menegaskan kembali kasih-Nya yang tak tergoyahkan. Bahkan ketika Yudas melangkah ke dalam malam pengkhianatan, kasih Yesus tetap ada. Saudara dan saudari, inilah fondasi iman kita: bukan karena kita mengasihi Allah, tetapi karena Ia telah mengasihi kita terlebih dahulu. Nilai kita tidak didasarkan pada apa yang dapat kita capai atau hasilkan, tetapi pada kenyataan bahwa kita dikasihi tanpa syarat oleh Allah.<\/p>\n<p>Memahami kebenaran ini akan mengubah cara kita hidup dalam kekudusan. Paus Fransiskus, dalam salah satu homilinya, pernah mengingatkan kita bahwa kekudusan bukanlah tentang upaya heroik atau pencapaian yang luar biasa; kekudusan dimulai dalam kehidupan sehari-hari, di antara \u201cperiuk dan wajan\u201d, dalam tindakan-tindakan kecil dalam kasih, kesabaran, dan belas kasihan. Ini adalah tentang membiarkan diri kita diubahkan oleh kasih Allah, mengizinkan Roh-Nya memenuhi hati kita sehingga kita juga dapat mengasihi. Kasih yang sejati tidak hanya berada di kejauhan, tetapi juga melibatkan pendekatan diri, memandang wajah sesama, dan mengenali wajah Yesus di sana.<\/p>\n<p>Masing-masing dari kita dipanggil ke jalan kekudusan ini &#8211; unik, orisinal, dan penuh sukacita seperti yang pernah dikatakan oleh Beato Carlo Cutis: ini bukan fotokopi, tetapi \u201casli\u201d, milikku atau milikmu. Jalan ini adalah milik kita sendiri. Sungguh, Tuhan memiliki rencana kasih bagi setiap orang. Dia memiliki mimpi untuk hidup Anda, untuk hidup saya, untuk hidup kita masing-masing. Kejarlah mimpi itu dengan sukacita, dengan keberanian, dengan selalu berakar pada kepastian bahwa kita dikasihi.<\/p>\n<p>Tuhan, curahkanlah Roh-Mu atas kami, agar kami dapat membangun komunitas yang melayani, mengasihi dan penuh harapan, terbuka untuk semua kebutuhan dan semua aspirasi yang adil. Amin.<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu. Mari mengasihi seperti Kritus mengasihi. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"oLCnbLKKFi\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/ia-yang-lebih-dahulu-mengasihi-kita-memanggil-kita-untuk-mengasihi\/\">IA YANG LEBIH DAHULU MENGASIHI KITA MEMANGGIL KITA UNTUK MENGASIHI<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;IA YANG LEBIH DAHULU MENGASIHI KITA MEMANGGIL KITA UNTUK MENGASIHI&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/ia-yang-lebih-dahulu-mengasihi-kita-memanggil-kita-untuk-mengasihi\/embed\/#?secret=a4FwOpfgM2#?secret=oLCnbLKKFi\" data-secret=\"oLCnbLKKFi\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Minggu 18 Mei 2025 Minggu Paskah V Yohanes 13:34 (Yoh 13:31-35) \u201dAku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-77510","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/77510","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=77510"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/77510\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":77511,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/77510\/revisions\/77511"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=77510"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=77510"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=77510"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}