{"id":7671,"date":"2016-02-10T21:00:25","date_gmt":"2016-02-10T14:00:25","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=7671"},"modified":"2016-02-11T11:24:16","modified_gmt":"2016-02-11T04:24:16","slug":"tambun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=7671","title":{"rendered":"TAMBUN"},"content":{"rendered":"<p>TAMBUN (Kontemplasi Peradaban) \u201cExeat aula, qui vult esse pius\u201d \u2013 Yang ingin menjadi orang baik, hendaknya meninggalkan istana. Belum lama ini, kita sering mendengarkan kata-kata seperti, \u201cRekening gendut dan koalisi tambun\u201d. Tak dapat disangkal bahwa dunia politik mudah sekali memunculkan kata-kata baru. Memang dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), gendut juga memiliki makna \u201cmenguntungkan\u201d misalnya, \u201cJangan bertingkah yang menggedutkan diri pribadi dalam dunia politik\u201d. Belum lama ini pula, kita mendengar istilah baru yaitu \u201ckoalisi tambun\u201d. Koalisi berasal dari bahasa Latin, coalescere. Co = bersama-sama dan alere = tumbuh subur. Dalam bahasa politik diartikan sebagai: gabungan beberapa partai untuk tujuan khusus. Dikatakan tambun, sebab partai-partai yang dulunya bergabung dalam KMP (Koalisi Merah Putih) kini merapatkan barisan sebagai pendukung pemerintahan Jokowi-JK. Itulah sebabnya, KIH (Koalisi Indonesia Hebat) menjadi tambun. Dengan hijrahnya beberapa partai ke pemerintahan Jokowi-JK, maka program-pogram yang dicanangkan akan berjalan dengan mulus. Pemerintah tidak begitu cemas lagi. Kritikan yang bertubi-tubi bahkan vulgar dari oposisinya kini hanya akan menjadi kenangan belaka. Yang terdengar dalam parlement hanyalah monotone. Setiap kali palu diketok, mereka akan berteriak, \u201cSetuju!\u201d Para pengamat politik mengkuatirkan pemerintahan seperti itu. Dengan berkurangnya tantangan, kritikan, kontrol dan evaluasi dari pihak oposisi maka pemerintah akan \u201cterlena\u201d atau hidup dalam\u201ccomfort zone\u201d. Kenyamanan itu akan membuat orang \u201ctertidur\u201d. Ini mirip dengan kisah monyet yang tertidur dan terlena karena diterpa oleh angin sepoi-sepoi basah (Bdk. \u201cKisah Monyet di Tahun Monyet 2016\u201d). Oleh Buddha Gautama (563 \u2013 480 seb.M), orang yang sedang mengalami keterlenaan itu perlu \u201cdisadarkan\u201d kembali. Pemerintahan yang kuat dan solid perlu adanya tantangan. Bung Karno (1901 \u2013 1970) pernah mengkirik sebuah negara dalam kisah pewayangan yang namanya negeri Uttarakuru. Negeri itu tenang damai dan tidak ada pergolakan apa pun. Atau dalam bukunya yang berjudul, \u201cMengganyang Malaysia\u201d, Bung Karno pernah berkata, \u201cSaya lebih senang dilahirkan di bawah terik matahari yang panas dan bukan di bawah sinar bulan purnama.\u201d Ingatkan kita akan kata mutiara ini, \u201cGelombang yang mengambuk akan membuat pelaut trampil?\u201d Demikian pula yang pernah dialami oleh Pandawa (Bdk. \u201cKisah Mahabharatha\u201d tulisan C. Rajagopalachari). Ketika para Pandawa hidup dalam tekanan dan berperang melawan kebatilan, mereka menjadi kuat dan kompak. Siang malam mereka berupaya bagaimana menyusun strategi perang yang jitu. Mereka bekerja keras dan selalu waspada dan tidak pernah istirahat sedetikpun. Namun, setelah mengalami kejayaan, Pandawa hidup tenang dan damai serta hidup dalam zona nyaman. Dan pada akhir kisah, mereka mati satu per satu \u2013 bukan karena perang \u2013 melainkan karena kelelahan naik Gunung Semeru. Hidup dalam situasi \u201cnyaman\u201d membuat orang terlena dan mati. Dalam bekerja perlu adanya peyeimbang, sebagaimana didengung-dengungkan yaitu balance and check. Penyeimbang juga berfungsi sebagai kontrol, agar pemerintah dalam melakukan pekerjaannya tidak mengalami disorientasi. Tak heranlah kalau Prabawa Subianto ketika berpidato pada HUT Partai Gerindra yang ke-9, ia berpesan bahwa demokrasi itu butuh keseimbangan. Dia berkata, \u201cGerindra akan tetap mendukung kebijakan pemerintahan yang berpihak pada rakyat. Namun jika tidak, Gerindra akan mengkritiknya.\u201d Saya pun berani berkata, \u201cTerima kasih Pak Prabowo, Salut!\u201d Rabu, 10 Februari 2016 Markus Marlon<\/p>\n<p>Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Markus Marlon &lt;markus_marlon@yahoo.com&gt;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TAMBUN (Kontemplasi Peradaban) \u201cExeat aula, qui vult esse pius\u201d \u2013 Yang ingin menjadi orang baik, hendaknya meninggalkan istana. Belum lama ini, kita sering mendengarkan kata-kata seperti, \u201cRekening gendut dan koalisi tambun\u201d. Tak dapat disangkal&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6359,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-7671","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2015\/11\/IMG_0567.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7671","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7671"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7671\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7672,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7671\/revisions\/7672"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6359"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7671"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7671"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7671"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}