{"id":76514,"date":"2025-04-30T13:00:05","date_gmt":"2025-04-30T06:00:05","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=76514"},"modified":"2025-04-30T16:02:57","modified_gmt":"2025-04-30T09:02:57","slug":"rabu-30-april-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=76514","title":{"rendered":"Rabu, 30 April 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nRabu 30 April 2025<br \/>\nYohanes 3:16 (Yoh 3:16-21)<br \/>\n\u201dKarena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.\u201d<\/p>\n<p>Janji Allah Yang Abadi<\/p>\n<p>Injil Yohanes 3:16 ini biasa disebut sebagai ringkasan keseluruhan Injil. Inilah intisari kepercayaan kristiani.<br \/>\nDengan bersabda, \u201cbegitu besar kasih Allah\u2019 Yesus menunjukkan kasih Allah yang tak terhingga bagi kita. Allah Bapa di surga tidak tinggal diam membiarkan manusia ciptaanNya binasa karena tidak mampu mencapai keselamatan oleh upayanya sendiri.<br \/>\nKasih Allah yang tak terhingga dinyatakanNya dengan \u201cmengaruniakan AnakNya yang tunggal\u201d demi selamat dunia.<br \/>\nYesus turun ke dunia, menjadi sama dengan kita manusia, merangkul seluruh keterbatasan manusia dan menjadikan kemanusiaan sebagai bagian dari hidupNya. Tidak lain agar manusia menjadi ilahi oleh kelahiran baru dalam Kristus.<\/p>\n<p>Yang dikehendaki Allah dari kita adalah \u201cpercaya kepada Kristus PutraNya, agar tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.\u201d<br \/>\nPercaya berarti kita hidup oleh janji Allah dan berserah diri seutuhnya kepadaNya. Mengimani Yesus-sebagai jalan-kebenaran-hidup kita, taat dan setia padaNya sebagai Tuhan, serta bersatu hati selalu denganNya sebagai ranting yang tak terpisahkan dari pokok anggur.<br \/>\nPersekutuan dengan Yesus itulah hidup kekal kita yakni hidup dalam kesatuan cinta mesra dengan Bapa-Putra-Roh Kudus, yang adalah pokok sukacita dan kebahagiaan kita.<\/p>\n<p>\u201dTerimakasih ya Yesus, oleh wafat dan kebangkitanMu, Engkau menebus kami dari dosa, mengangkat kami menjadi putra putri Allah dan menganugerahkan kami kasihMu yang tak berkesudahan. PadaMu kami percaya. Dalam pelukanMu kami berlindung.\u201d<\/p>\n<p>Selamat datang hari baru. Mari hidup oleh janji Tuhan.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 30 Apr 2025<br \/>\nRabu Paskah II<br \/>\nPF S. Pius V, Paus<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 3:16<br \/>\nBacaan Injil: Yoh 3:16-21<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 3:16<br \/>\nBegitu besar kasih Allah akan dunia ini,<br \/>\nsehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,<br \/>\nsupaya setiap orang yang percaya kepada-Nya<br \/>\nberoleh hidup yang kekal.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nYoh 3:16-21<br \/>\nAllah mengutus Anak-Nya untuk menyelamatkan dunia.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Yohanes:<\/p>\n<p>Dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus berkata,<br \/>\n&#8220;Begitu besar kasih Allah akan dunia ini,<br \/>\nsehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,<br \/>\nsupaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa,<br \/>\nmelainkan beroleh hidup yang kekal.<br \/>\nSebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia<br \/>\nbukan untuk menghakimi dunia,<br \/>\nmelainkan untuk menyelamatkannya.<br \/>\nBarangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum;<br \/>\ntetapi barangsiapa tidak percaya,<br \/>\nia telah berada di bawah hukuman,<br \/>\nsebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.<\/p>\n<p>Dan inilah hukuman itu:<br \/>\nTerang telah datang ke dalam dunia,<br \/>\ntetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang,<br \/>\nsebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.<br \/>\nSebab barangsiapa berbuat jahat,<br \/>\nmembenci terang dan tidak datang kepada terang itu,<br \/>\nsupaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;<br \/>\ntetapi barangsiapa melakukan yang benar,<br \/>\nia datang kepada terang,<br \/>\nsupaya menjadi nyata bahwa perbuatan-perbuatannya<br \/>\ndilakukan dalam Allah.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n*************<\/p>\n<p>\u210d<\/p>\n<p>\u201cBegitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal,\u201d (Yoh 3: 16).<\/p>\n<p>Ayat ini barangkali merupakan bagian dari Injil yang paling banyak dikutip. Paus Fransiskus pernah mengatakan bahwa bagian dialog antara Yesus dan Nikodemus ini adalah sebuah risalah teologi yang sejati: di sini ada segalanya. Pewartaan, pengajaran yang lebih dalam, refleksi teologis, nasihat-nasihat&#8230; semuanya ada dalam bab ini. Dan setiap kali kita membacanya, kita menemukan lebih banyak kekayaan, lebih banyak penjelasan, lebih banyak hal yang membuat kita memahami wahyu Allah. Alangkah baiknya jika kita membacanya berkali-kali, untuk lebih dekat dengan misteri penebusan.<\/p>\n<p>Ada dua hal yang dapat kita renungkan lebih dalam. Pertama, kasih Allah: \u201cKarena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal\u201d (Yohanes 3:16). Kasih ini tidak abstrak atau sentimental &#8211; ini adalah kasih yang memberi, kasih yang menderita, mengasihi hingga memberikan nyawanya. Salib bukan sekadar simbol atau hiasan. Salib adalah kitab terbuka tentang kasih Allah, yang dituliskan dalam luka-luka Kristus. Di sana, dalam keheningan, kita dapat mempelajari segala sesuatu: kebijaksanaan ilahi, belas kasihan, dan harapan. Mari kita pandang Kristus yang tersalib dan temukan kedamaian, sebab inilah kasih Allah kepada kita. Ia tidak mengutus Anak-Nya untuk menghukum, tetapi untuk menyelamatkan. Dan Ia memberikan kepada kita Anak-Nya bukan sebagai surplus. Ia memberikan diri-Nya secara total bagi kita semua, baik layak maupun tidak layak, agar kita beroleh hidup dan menjalani hidup itu secara penuh.<\/p>\n<p>Kedua, panggilan kepada terang: Yesus berkata bahwa terang telah datang-tetapi banyak orang lebih memilih kegelapan. Mengapa? Karena dosa membutakan. Kita dapat menjadi begitu terbiasa tinggal di balik bayang-bayang dosa sehingga kita takut akan terang. Kita bersembunyi, tidak ingin melihat hati kita sendiri. Akan tetapi, Kristus memanggil kita untuk masuk ke dalam terang &#8211; terang kebenaran, kasih karunia, dan pertobatan.<\/p>\n<p>Hari ini kita diundang untuk bertanya pada diri kita sendiri: Apakah saya hidup di dalam terang atau di dalam bayang-bayang? Apakah saya memandang Tuhan yang tersalib dan membiarkan kasih-Nya mengubah saya? Semoga kita berjalan sebagai anak-anak terang, dengan hati yang terbuka kepada Allah yang mengasihi kita sampai akhir.<\/p>\n<p>Tuhan, bantulah aku untuk hidup dalam Terang. Bantulah aku mengarahkan pandanganku pada kebangkitan-Mu yang mulia. Semoga sukacita memandang kemuliaan-Mu menjauhkan aku dari godaan kejahatan di sekitarku. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Selami dan bagikan kasih Allah. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"c5hV5mlmmv\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/dipanggil-kepada-terang\/\">DIPANGGIL KEPADA TERANG<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;DIPANGGIL KEPADA TERANG&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/dipanggil-kepada-terang\/embed\/#?secret=yfSWNQkeya#?secret=c5hV5mlmmv\" data-secret=\"c5hV5mlmmv\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Rabu 30 April 2025 Yohanes 3:16 (Yoh 3:16-21) \u201dKarena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-76514","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/76514","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=76514"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/76514\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":76531,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/76514\/revisions\/76531"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=76514"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=76514"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=76514"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}