{"id":76364,"date":"2025-04-27T10:53:49","date_gmt":"2025-04-27T03:53:49","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=76364"},"modified":"2025-04-27T10:53:49","modified_gmt":"2025-04-27T03:53:49","slug":"minggu-27-april-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=76364","title":{"rendered":"Minggu, 27 April 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nMinggu 27 April 2025<br \/>\nHari Minggu Paskah II<br \/>\nHari Minggu Kerahiman Ilahi<br \/>\nYohanes 20:29 (Yoh 20:19-31)<br \/>\nKata Yesus kepada Tomas: &#8220;Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.&#8221;<\/p>\n<p>Percaya Akan Kerahiman Allah<\/p>\n<p>Kita sering menertawakan Tomas yang tidak mau percaya sebelum melihat bukti. Padahal Tomas mewakili kita semua yang tidak mudah percaya begitu saja. Yesus tak menyalahkan Tomas. Yesus tahu karakter Tomas. Yesus juga tahu karakter kita yang selalu mengandalkan penglihatan dan bukti.<br \/>\nYesus yang pernah menjadi manusia paham benar apa artinya \u201cdari mata turun ke hati.\u201d Karena itu Yesus hadir lagi dan menjawab kerinduan hati Tomas. Sekalipun terlambat akhirnya dengan penuh iman dan kerendahan hati Tomas percaya dan mengakui, katanya, \u201cYa Tuhanku dan Allahku.\u201d (Yoh 20:28).<br \/>\nSungguh indah ungkapan iman Tomas ini. Tak ada kata terlambat untuk percaya, karena iman itu bukan upaya kita, tapi semata anugerah kerahiman Allah.<br \/>\nYesus mengajak Tomas dan kita semua bahwa dalam hal iman kita tidak perlu lagi mengandalkan penglihatan. Percayalah sekalipun tidak melihat. Amin-kan kerahiman Allah yang nyata dalam diri Yesus. Tanpa diundang-pun, Yesus akan datang menemani kita dengan segala kepenuhan kerahiman ilahi yang mengalir tak henti dari hatiNya.<\/p>\n<p>Bahasa Indonesia dengan indah menggambarkan Allah yang berbelaskasih sebagai Allah yang Maha-rahim. Rahim adalah kandungan ibu, tempat yang digambarkan sebagai surga di dunia ini. Tempat terbaik di dunia di mana si bayi menerima semua yang ia perlukan secara cuma-cuma dari si ibu. Tempat yang begitu damai dan bahagia. Terjaga, terlindungi, terlingkupi kasih ibu. Itulah kasih Allah Bapa sekaligus Ibu kita. Semua bahasa cinta Allah ada dalam \u201crahim\u201d.<br \/>\nAllah yang menyediakan, merawat, memelihara, menjaga, melindungi, menghidupkan, dan tentu saja mencintai kita! Dengan gambaran \u201ckerahiman\u201d ini, tak perlu kita melihat, tapi percayalah dengan penuh iman, demikian besarnya kasih Allah bagi kita oleh pengorbanan Yesus melalui salib dan kebangkitanNya.<br \/>\n\u201dYa Yesus, aku percaya padaMu. Engkaulah andalanku. Aleluia, Amin.\u201d<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu Kerahiman Ilahi.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 27 Apr 2025<br \/>\nMinggu Paskah II<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 20:29<br \/>\nBacaan Injil: Yoh 20:19-31<br \/>\n******&#8221;******<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 20:29<br \/>\nKarena telah melihat Aku, Tomas, maka engkau percaya.<br \/>\nBerbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nYoh 20:19-31<br \/>\nDelapan hari kemudian Yesus datang.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Yohanes:<\/p>\n<p>Setelah Yesus wafat di salib,<br \/>\npada malam pertama sesudah hari Sabat,<br \/>\nberkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat<br \/>\ndengan pintu-pintu yang terkunci<br \/>\nkarena mereka takut kepada orang-orang Yahudi.<br \/>\nPada waktu itu datanglah Yesus,<br \/>\nberdiri di tengah-tengah mereka dan berkata,<br \/>\n&#8220;Damai sejahtera bagi kamu!&#8221;<\/p>\n<p>Sesudah berkata demikian,<br \/>\nYesus menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada mereka.<br \/>\nMurid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.<br \/>\nMaka kata Yesus sekali lagi,<br \/>\n&#8220;Damai sejahtera bagi kamu!<br \/>\nSama seperti Bapa mengutus Aku,<br \/>\ndemikian juga sekarang Aku mengutus kamu.&#8221;<\/p>\n<p>Dan sesudah berkata demikian,<br \/>\nYesus mengembusi mereka dan berkata,<br \/>\n&#8220;Terimalah Roh Kudus.<br \/>\nJikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni,<br \/>\ndan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada,<br \/>\ndosanya tetap ada.&#8221;<\/p>\n<p>Pada waktu Yesus datang itu,<br \/>\nTomas, seorang dari kedua belas murid,<br \/>\nyang disebut Didimus,<br \/>\ntidak ada bersama-sama mereka.<br \/>\nMaka kata murid-murid yang lain itu kepadanya,<br \/>\n&#8220;Kami telah melihat Tuhan!&#8221;<br \/>\nTetapi Tomas berkata kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya,<br \/>\ndan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu,<br \/>\ndan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya,<br \/>\nsekali-kali aku tidak akan percaya.&#8221;<\/p>\n<p>Delapan hari kemudian<br \/>\nmurid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu,<br \/>\ndan Tomas pun bersama-sama dengan mereka.<br \/>\nSementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang.<br \/>\nIa berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata,<br \/>\n&#8220;Damai sejahtera bagi kamu!&#8221;<br \/>\nKemudian Yesus berkata kepada Tomas,<br \/>\n&#8220;Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku,<br \/>\nulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku,<br \/>\ndan jangan engkau tidak percaya lagi,<br \/>\nmelainkan percayalah.&#8221;<br \/>\nTomas menjawab kepada-Nya, &#8220;Ya Tuhanku dan Allahku!&#8221;<br \/>\nKata Yesus kepadanya,<br \/>\n&#8220;Karena telah melihat Aku, maka engkau percaya.<br \/>\nBerbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.&#8221;<\/p>\n<p>Memang masih banyak tanda lain<br \/>\nyang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya,<br \/>\nyang tidak tercatat dalam kitab ini.<br \/>\nTetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat,<br \/>\nsupaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah,<br \/>\ndan supaya oleh imanmu kamu memperoleh hidup dalam nama-Nya.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201dDatanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: &#8220;Damai sejahtera bagi kamu!\u201d (Yoh 20: 19)<\/p>\n<p>\u201cYesus, Engkau andalanku.\u201d Pada Minggu Paskah Kedua ini \u2013 Minggu Kerahiman Ilahi \u2013 Gereja menempatkan di hadapan kita inti dari Injil: kerahiman Allah yang menjadi manusia di dalam Kristus yang Bangkit. Bukanlah suatu kebetulan bahwa tahun ini, kita menandai perayaan ini dengan hati yang berat karena kita berduka atas meninggalnya Paus Fransiskus, seorang gembala yang seluruh masa kepausannya ditandai dengan pewartaannya yang tak kenal lelah akan belas kasih Allah.<\/p>\n<p>Injil menghantar kita ke Ruang Atas di mana para murid, yang diliputi ketakutan dan kegagalan, bertemu bukan untuk dicela dan dihakimi tetapi dengan damai. Yesus hadir di tengah-tengah mereka, menanggung luka-luka sengsara-Nya. Dia tidak menyembunyikannya. Ia tidak memarahi mereka. Sebaliknya, Dia menghembuskan Roh Kudus atas mereka, memberdayakan mereka untuk mengampuni. Luka-luka-Nya menjadi mata air belas kasihan.<\/p>\n<p>Perjumpaan ini menggemakan tema sentral yang dikhotbahkan Paus Fransiskus selama masa pelayanannya: \u201cNama Allah adalah Belas Kasih.\u201d Dalam bukunya yang berjudul sama pada tahun 2016, ia menulis, \u201cKerahiman Allah bukanlah ide abstrak, tetapi sebuah realitas konkret yang dengannya Dia mengungkapkan kasih-Nya seperti kasih seorang ayah atau ibu, yang tergerak hingga ke lubuk hati yang paling dalam karena cinta kepada anaknya.\u201d<\/p>\n<p>Paus Fransiskus sering mengingatkan kita bahwa Gereja harus menjadi \u201crumah sakit lapangan setelah pertempuran,\u201d tempat bukan untuk yang sempurna, tetapi untuk yang terluka. Dalam surat apostoliknya, Misericordia et Misera, ia menulis: \u201cBelas kasih adalah tindakan nyata dari cinta yang, dengan mengampuni, mengubah dan mengubah hidup kita.\u201d Visi ini telah membentuk ulang pengalaman banyak orang saat ini &#8211; bukan sebagai benteng, tetapi sebagai rumah penyembuhan.<\/p>\n<p>Bahkan dalam kematiannya, Paus Fransiskus memberikan kesaksian terakhir tentang belas kasih. Beliau wafat pada hari Senin Paskah, setelah merayakan Misteri Paskah untuk terakhir kalinya, meninggalkan kita dengan kata-kata perdamaian, persaudaraan, dan persekutuan. Sama seperti Yesus yang menghembuskan kedamaian kepada para murid-Nya yang ketakutan, Paus Fransiskus menghabiskan hidupnya untuk menghembuskan harapan ke dalam dunia yang retak.<\/p>\n<p>Hari ini, Kristus yang Bangkit datang dan hadir kembali di tengah-tengah Gereja-Nya &#8211; terluka, ya, tetapi hidup. Dia mengundang kita untuk percaya, bukan terlepas dari luka-luka kita, tetapi melalui luka-luka itu. Dia memanggil kita, seperti Fransiskus, untuk menjadi pembawa belas kasih di dunia yang sangat membutuhkan belas kasih.<\/p>\n<p>Marilah kita berdoa dengan hati yang terbuka terhadap rahmat: Yesus, Engkau Andalanku!<\/p>\n<p>Semoga ini bukan hanya doa kita hari ini, tetapi juga menjadi misi kita setiap hari, terinspirasi oleh Injil dan kenangan akan seorang Paus yang benar-benar menghidupinya.<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu kerahiman Ilahi. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"orGXYV9fRe\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/kerahiman-ilahi-warisan-cinta\/\">KERAHIMAN ILAHI: WARISAN CINTA<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;KERAHIMAN ILAHI: WARISAN CINTA&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/kerahiman-ilahi-warisan-cinta\/embed\/#?secret=ya8M1lVsbi#?secret=orGXYV9fRe\" data-secret=\"orGXYV9fRe\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Minggu 27 April 2025 Hari Minggu Paskah II Hari Minggu Kerahiman Ilahi Yohanes 20:29 (Yoh 20:19-31) Kata Yesus kepada Tomas: &#8220;Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-76364","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/76364","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=76364"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/76364\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":76365,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/76364\/revisions\/76365"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=76364"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=76364"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=76364"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}