{"id":75623,"date":"2025-04-12T17:39:07","date_gmt":"2025-04-12T10:39:07","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=75623"},"modified":"2025-04-12T17:39:07","modified_gmt":"2025-04-12T10:39:07","slug":"renungan-pagi-minggu-palma-sambut-yesus-dengan-iman-dan-hati-yang-bersih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=75623","title":{"rendered":"Renungan Pagi Minggu Palma: Sambut Yesus dengan Iman dan Hati yang Bersih!"},"content":{"rendered":"<p>Renungan Pagi Minggu Palma: Sambut Yesus dengan Iman dan Hati yang Bersih!<\/p>\n<p>Selamat pagi dan selamat menyambut Minggu Palma! Hari ini kita mengenang Yesus yang masuk ke Yerusalem dengan sorak sorai, diiringi lambaian daun palma dan pujian \u201cHosana!\u201d Tapi, mengapa daun palma? Dan mengapa Yesus memilih naik keledai?<\/p>\n<p>Daun palma melambangkan kemenangan, kemuliaan, dan harapan. Saat Yesus memasuki Yerusalem, orang-orang melambaikan palma sebagai tanda penghormatan kepada-Nya sebagai Raja. Namun, Yesus tidak datang dengan kuda perang seperti raja duniawi, melainkan dengan keledai\u2014simbol kerendahan hati dan kedamaian. Ia menunjukkan bahwa kerajaan-Nya bukan soal kekuasaan, tetapi tentang kasih dan penyerahan diri.<\/p>\n<p>Mari kita siapkan hati untuk mengikuti perjalanan Yesus menuju penderitaan dan kebangkitan-Nya. Jangan lupa untuk menghadiri *Misa Minggu Palma* hari ini sebagai bentuk iman dan penyambutan kita kepada-Nya.<\/p>\n<p>Nantikan kelanjutan renungan ini pada *Kamis Putih, 17 April 2025, pukul 05.00 WIB*, saat kita merenungkan makna Perjamuan Terakhir dan kasih Yesus yang tanpa batas.<br \/>\n#Rom_Koko #katholik #iman #pengharapan #kasih<\/p>\n<p>Sumber Romo Koko<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Renungan Pagi Minggu Palma: Sambut Yesus dengan Iman dan Hati yang Bersih! Selamat pagi dan selamat menyambut Minggu Palma! Hari ini kita mengenang Yesus yang masuk ke Yerusalem dengan sorak sorai, diiringi lambaian daun&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":28971,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"footnotes":""},"categories":[6,2],"tags":[],"class_list":["post-75623","post","type-post","status-publish","format-video","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-sekitar","category-tokoh","post_format-post-format-video"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/ki.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/75623","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=75623"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/75623\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":75624,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/75623\/revisions\/75624"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/28971"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=75623"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=75623"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=75623"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}