{"id":75266,"date":"2025-04-06T11:33:40","date_gmt":"2025-04-06T04:33:40","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=75266"},"modified":"2025-04-06T11:33:40","modified_gmt":"2025-04-06T04:33:40","slug":"minggu-06-april-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=75266","title":{"rendered":"Minggu, 06 April 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nMinggu 06 April 2025<br \/>\nHari Minggu Prapaskah V<br \/>\nYohanes 8:7-8 (Yoh 8:1-11)<br \/>\nDan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: &#8220;Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.&#8221; Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.<\/p>\n<p>Pentingnya Berefleksi<\/p>\n<p>Yohanes mengangkat kisah seorang perempuan yang kedapatan berzinah dan dibawa ke hadapan Yesus oleh para ahli Taurat dan orang Farisi untuk dimintai pendapatNya. Menarik bila kita simak alasan mereka membawa perempuan itu ke hadapan Yesus, sebenarnya bukan untuk mencari keadilan tapi untuk menjebak dan menyalahkan Yesus. Dikatakan dalam ayat 6, \u201cMereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya.\u201d<\/p>\n<p>Menurut Hukum Taurat hukumannya sudah jelas yakni, seorang wanita yang kedapatan berbuat zinah harus dilempari dengan batu sampai mati! (Lihat Ulangan 22:22-24).<br \/>\nBetapa dilematis bagi Yesus. Bila Yesus mengatakan \u2018ya silahkan merajam dia\u2019 itu berarti Yesus setuju dengan pembunuhan dan Ia melawan hukum Romawi, penguasa Israel yang berwenang menjatuhkan hukuman. Bila Yesus mengatakan tidak boleh merajam perempuan itu, berarti Ia melawan hukum Taurat Musa.<br \/>\nBetapa agung kebijkasanaan Yesus menghadapi dilema ini. Ia tidak mengatakan ya atau tidak. Pertama Ia menulis di tanah. Tindakan Yesus ini seakan mengajak orang-orang yang sudah emosi dan tak tahan diri ini untuk tenang dulu, diam sejenak, merenung dan berefleksi.<br \/>\nKita tidak tahu apa yang ditulis Yesus di tanah. Tapi bisa saja Ia menulis kembali 10 perintah Allah. Dengan menulis angka 1 sampai 10 saja, mereka sudah tahu apa maksud Yesus.<br \/>\nKarena itu Yesus mengetuk hati nurani orang-orang yang sudah siap dengan batu di tangan untuk dilemparkan. \u2018Coba lihatlah ke dalam diri, apakah engkau lebih suci, lebih benar, lebih baik dari perempuan itu.\u2019 \u2018Coba lihat 10 perintah Allah. Apakah kamu tidak pernah melanggarnya?\u2019 Bukankah tindakan mereka menjebak Yesus di Bait Allah dengan memanfaatkan kesalahan si perempuan adalah juga perbuatan dosa?<br \/>\nKesadaran diri ketika menghakimi orang lain, sangatlah penting dan mendasar, jangan sampai jatuh pada kesombongan rohani, merasa lebih suci dari yang lain. Malah, hukumannya akan berbalik saat hati nurani berbicara jujur bahwa ternyata sayapun tidak lebih baik dari orang lain, bahkan sudah banyak kali melanggar hukum Tuhan.<br \/>\nSyukurlah para perajam itu sadar diri, dan tidak ada yang menghukum perempuan itu.<\/p>\n<p>Yesus sangat tidak kompromi dengan dosa. Ia membenci dosa tapi tetap mencintai si pendosa. Ada kesempatan untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Yesus mengampuni perempuan itu dengan permintaan yang tegas: \u201cAkupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.&#8221; (Ayat 11).<br \/>\nBelaskasih dan pengampunan adalah isi hati Yesus, biarlah penyesalan dan pertobatan menjadi isi hati kita.<br \/>\nMari selalu merenung dan berefleksi, menyadari kedosaan kita, menyesalinya dan bertobat membaharui diri. Yesus selalu terbuka hati mengampuni dan menerima kita kembali. Kita-pun pada gilirannya harus mengampuni orang yang bersalah pada kita.<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu Prapaskah V. Selamat melanjutkan permenungan hidup di masa tobat ini.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 06 Apr 2025<br \/>\nMinggu Prapaskah V<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yl 2:12-13<br \/>\nBacaan Injil: Yoh 8:1-11<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYl 2:12-13<br \/>\nSekarang juga, sabda Tuhan, berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu,<br \/>\nsebab Aku pengasih dan penyayang.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nYoh 8:1-11<br \/>\nBarangsiapa di antara kamu tidak berdosa,<br \/>\nhendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Yohanes:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa Yesus pergi ke bukit Zaitun.<br \/>\nPagi-pagi benar Ia berada di Bait Allah,<br \/>\ndan seluruh rakyat datang kepada-Nya.<br \/>\nIa duduk dan mengajar mereka.<\/p>\n<p>Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya<br \/>\nseorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.<br \/>\nMereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah<br \/>\nlalu berkata kepada Yesus,<br \/>\n&#8220;Rabi, perempuan ini tertangkap basah<br \/>\nketika ia sedang berbuat zinah.<br \/>\nMusa dalam hukum Taurat memerintahkan kita<br \/>\nuntuk melempari dengan batu perempuan-perempuan yang demikian.<br \/>\nApakah pendapat-Mu tentang hal itu?&#8221;<br \/>\nMereka mengatakan hal itu untuk mencobai Yesus,<br \/>\nsupaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya.<\/p>\n<p>Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis di tanah dengan jari-Nya.<br \/>\nDan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya,<br \/>\nIa pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa,<br \/>\nhendaklah ia yang pertama melemparkan batu<br \/>\nkepada perempuan itu.&#8221;<br \/>\nLalu Yesus membungkuk lagi dan menulis di tanah.<br \/>\nTetapi setelah mendengar perkataan itu,<br \/>\npergilah mereka seorang demi seorang,<br \/>\nmulai dari yang tertua.<br \/>\nAkhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu,<br \/>\nyang tetap di tempatnya.<\/p>\n<p>Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya,<br \/>\n&#8220;Hai perempuan, di manakah mereka?<br \/>\nTidak adakah seorang yang menghukum engkau?&#8221;<br \/>\nJawab perempuan itu, &#8220;Tidak ada, Tuhan.&#8221;<br \/>\nLalu kata Yesus, &#8220;Aku pun tidak menghukum engkau.<br \/>\nPergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cAkupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.\u201d [Yoh 8: 11]<\/p>\n<p>Dalam Injil hari ini, kita saksikan sebuah perjumpaan luar biasa antara belas kasih dan penghakiman. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa seorang perempuan yang tertangkap basah berzinah ke hadapan Yesus. Mereka datang dengan batu di tangan, siap untuk menghukum. Tetapi Yesus tidak langsung menanggapi. Dia membungkuk dan menulis di tanah &#8211; Santo Agustinus mengatakan bahwa Dia mungkin sedang menulis dosa-dosa para penuduh. Satu demi satu, mereka pergi, menyadari keberdosaan mereka sendiri.<\/p>\n<p>Seberapa sering kita bertindak seperti para penuduh itu? Kita menuding, menghakimi, dan lupa bahwa kita juga adalah orang berdosa yang membutuhkan belas kasihan. Dalam keluarga, komunitas, dan bahkan di dunia maya, kita mudah sekali mengutuk orang lain, bersembunyi di balik ilusi kebenaran. Namun, Yesus mengundang kita untuk melepaskan batu-batu yang kita genggam \u2013 penghakiman, gosip, dan ketidakpedulian.<\/p>\n<p>Kita semua diundang masuk ke keheningan lubuk hati kita, di mana kita dapat mendengar Tuhan mengingatkan kita bahwa kita dikasihi dan diampuni. Dan ketika kita menyadari betapa kita telah diampuni, kita dipanggil untuk mengampuni.<\/p>\n<p>\u201cAkupun tidak menghukum engkau,\u201d kata Yesus kepada perempuan itu. Kata-kata ini dapat mengubah hidup seseorang. Masa Prapaskah adalah kesempatan kita untuk mendengar kata-kata ini diucapkan kepada kita secara pribadi. Yesus mengangkat kita dari rasa malu dan kesalahan masa lalu kita dan memanggil kita untuk berjalan dengan bermartabat dan penuh pengharapan.<\/p>\n<p>Tuhan, ajar kami saling menerima dengan hati berbelas kasih. Amin.<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu. Mari saling mengampuni. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"cdOefciGgn\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/akupun-tak-akan-menghukum-engkau\/\">AKUPUN TAK AKAN MENGHUKUM ENGKAU<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;AKUPUN TAK AKAN MENGHUKUM ENGKAU&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/akupun-tak-akan-menghukum-engkau\/embed\/#?secret=1oepESChFK#?secret=cdOefciGgn\" data-secret=\"cdOefciGgn\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Minggu 06 April 2025 Hari Minggu Prapaskah V Yohanes 8:7-8 (Yoh 8:1-11) Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: &#8220;Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-75266","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/75266","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=75266"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/75266\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":75267,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/75266\/revisions\/75267"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=75266"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=75266"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=75266"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}