{"id":75011,"date":"2025-04-02T17:39:37","date_gmt":"2025-04-02T10:39:37","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=75011"},"modified":"2025-04-02T17:39:37","modified_gmt":"2025-04-02T10:39:37","slug":"beberapa-potret-para-suster-osf-dan-karyanya-di-langgur-kei-kecil-foto-pada-tahun-1910-1920","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=75011","title":{"rendered":"Beberapa Potret Para Suster &#8220;OSF&#8221; dan Karyanya Di Langgur &#8211; Kei Kecil. Foto Pada Tahun 1910 &#038; 1920"},"content":{"rendered":"<p>Beberapa Potret Para Suster &#8220;OSF&#8221; dan Karyanya Di Langgur &#8211; Kei Kecil. Foto Pada Tahun 1910 &amp; 1920.<\/p>\n<p>Pada tahun 1903 Misi Katolik di Kepulauan Kei memasuki lembaran baru dalam sejarah. Karena pada dasarnya daerah \u201cMisi\u201d ditingkatkan menjadi Prefektur. Prefekturnya berpusat di Langgur \u2013 Kei Kecil, dengan nama \u201cPrefektur Apostolil Nieuw Guinea\u201d. Sudah barang tentu, wilayah prefektur membutuhkan tenaga misionaris (birawan\/i atau awam) yang siap bekerja mewartakan Injil kepada sesama yang lain.<\/p>\n<p>Untuk menjawab kebutuhan tenaga dalam Misi Katolik maka, pada pertengahan 1904 datanglah suatu berita dari Belanda yang tentu sangat mengembirakan. Isi berita tersebut : \u201cPara suster Franciscanessen van Heythuysen (Di Indonesia Konggregasi para suster ini dikenal dengan sebutan \u201cOSF\u201d) menyatakan kesedian untuk membantu karya Misi Katolik di wilayah Prefektur Nieuw Guinea\u201d. Pada tahun yang sama, kelima suster yang pertama dikirim dari Belanda.<\/p>\n<p>Dengan berita tersebut, maka di Langgur \u2013 Kei Kecil mulai dibagun sebuah susteran. Letak susteran ini berada di Kampung Langgur yang lama yang bernama Ohitum. Dengan usaha dan kerja keras para pekerja susteran tersebut dapat diselesaikan. Namun keadaan menjadi berubah, ketika menjelang hari natal pada tahun tersebut, Langgur ditimpah angin badai yang dasyat. Angin itu memporak poranda rumah suster tersebut hingga menjadi rusak dan tidak dapat dihuni. Pada permulaan 1905 Bruder Boers, MSC yang adalah ahli bangunan, segera membangun kembali rumah suster.<\/p>\n<p>Hari yang cerah dan suasana yang sejuk, tepat pada 17 Februari 1905 tiba lima orang suster OSF untuk pertama kalinya di Langgur \u2013 Kei Kecil. Mereka melalukan suatu perjalanan yang panjang dan tentunya amat melehlakan, namun hal itu tidak membuat mereka putus harapan. Kelima suster ialah : Sr. Antona, OSF (Muder), Sr. Georgine, OSF, Sr. Theresa, OSF, Sr. Afra, OSF dan Sr. Evarista, OSF. Kedatang para suster ini membawa angin segar bagi perkembangan dan karya Misi Katolik ke depan. Saat yang sama rumah para suster belum selesau dibangun (pasca musibah angin badai). Maka, para suster ditempatkan untuk sementara di ruang sekolah yang ada di Langgur.<\/p>\n<p>Sementara Br. Boers, MSC dengan semangat membangun rumah untuk para suster. Para susterpun tidak tinggal diam, Sr. Antona dan Sr. Theresa terus mulai mengajar di sekolah yang sudah lebih dulu dijalankan oleh para misionaris MSC. Sementara itu, para suster yang lain mempersiapkan urusan rumah tangga dan merawat beberapa orang yang sakit, para sebuh klinik darurat yang dibuat oleh para misionaris MSC.<\/p>\n<p>Para suster di Langgur yang mengajar di sekolah, segara mendapat banyak murid wanita pada bulan April di sekolah sudah terdapat 60 siswi. Sebenarnya di kampung \u2013 kampung lain masih ada banyak para putri yang bersedia untuk mengikuti pendidikan di sekolah para suster. Namun, hal terkendala dengan kebiasaan adat istiadat di kampung \u2013 kampung tersebut.<\/p>\n<p>Oleh, Pace Berto Namsa Bade<\/p>\n<p>Sumber Pace Berto Namsa<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beberapa Potret Para Suster &#8220;OSF&#8221; dan Karyanya Di Langgur &#8211; Kei Kecil. Foto Pada Tahun 1910 &amp; 1920. Pada tahun 1903 Misi Katolik di Kepulauan Kei memasuki lembaran baru dalam sejarah. Karena pada dasarnya&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":28971,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"footnotes":""},"categories":[6,2],"tags":[],"class_list":["post-75011","post","type-post","status-publish","format-video","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-sekitar","category-tokoh","post_format-post-format-video"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/ki.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/75011","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=75011"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/75011\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":75012,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/75011\/revisions\/75012"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/28971"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=75011"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=75011"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=75011"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}