{"id":74744,"date":"2025-03-29T08:09:45","date_gmt":"2025-03-29T01:09:45","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=74744"},"modified":"2025-03-29T08:09:45","modified_gmt":"2025-03-29T01:09:45","slug":"sabtu-29-maret-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=74744","title":{"rendered":"Sabtu, 29 Maret 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSabtu 29 Maret 2025<br \/>\nLukas 18:13-14a (Luk 18:9-14)<br \/>\n\u201dTetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak.\u201d<\/p>\n<p>\u201dYa Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.\u201d<\/p>\n<p>Yesus selalu mengingatkan kita betapa Allah Bapa selalu tergerak hatiNya ketika anakNya yang Ia cintai datang dengan penuh kerendahan hati mengakui dosanya dan memohon belaskasih pengampunanNya.<br \/>\nYesus telah datang ke dunia mencari anak-anak Allah yang tersesat dan hilang. Ia tidak berdiam diri menanti kita pulang. Ia terus mencari kita dengan cara berdiam di hati kita dalam RohNya.<br \/>\nYesus terus mengetuk pintu hati kita agar ada rasa sesal di hati saat berbuat dosa. Ia menyadarkan kita betapa Allah tak pernah lelah mengampuni kita.<\/p>\n<p>Datanglah dengan penuh kerendahan hati. Seperti si pemungut cukai, mari kita tundukkan kepala menepuk dada tanda sesal dan tobat, karena tak layak berdiri di hadapan Allah. Jangan seperti si orang Farisi yang merasa benar dan sombong. Biarlah semangat tobat si pemungut cukai menjadi semangat tobat kita dan doanya menjadi doa kita: \u201dYa Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.\u201d<br \/>\nRasakanlah rangkulan kasih Allah yang penuh pengampunan, memberi kehangatan dan damai di hati, memulihkan hidup kita untuk tegak berdiri sebagai anak-anak Allah.<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan. Kasih Yesus menguatkan kita.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 29 Mar 2025<br \/>\nSabtu Prapaskah III<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mzm 95:8ab<br \/>\nBacaan Injil: Luk 18:9-14<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMzm 95:8ab<br \/>\nPada hari ini, kalau kamu mendengar suara Tuhan,<br \/>\njanganlah bertegar hati.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 18:9-14<br \/>\nPemungut cukai ini pulang ke rumahnya,<br \/>\nsebagai orang yang dibenarkan Allah.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa,<br \/>\nYesus menyatakan perumpamaan ini<br \/>\nkepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar<br \/>\ndan memandang rendah semua orang lain:<br \/>\n&#8220;Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa;<br \/>\nyang satu adalah orang Farisi dan yang lain pemungut cukai.<br \/>\nOrang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini:<br \/>\nYa Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu,<br \/>\nkarena aku tidak sama seperti semua orang lain,<br \/>\naku bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah,<br \/>\ndan bukan juga seperti pemungut cukai ini.<br \/>\nAku berpuasa dua kali seminggu,<br \/>\naku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.<\/p>\n<p>Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh,<br \/>\nbahkan ia tidak berani menengadah ke langit,<br \/>\nmelainkan ia memukul diri dan berkata,<br \/>\nYa Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.<\/p>\n<p>Aku berkata kepadamu:<br \/>\nOrang ini pulang ke rumahnya<br \/>\nsebagai orang yang dibenarkan Allah,<br \/>\nsedang orang lain itu tidak.<br \/>\nSebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan,<br \/>\ndan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cBarangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.\u201d (Luk 18: 14)<\/p>\n<p>Injil hari ini berkisah tentang orang Farisi dan pemungut cukai, menggambarkan dua sikap yang sangat kontras dalam doa. Orang Farisi, yang yakin akan kebenarannya, meninggikan diri dengan merapalkan daftar perbuatan-perbuatan baiknya, mencari pembenaran dan menempatkan dirinya di atas orang lain. Sebaliknya, si pemungut cukai dengan rendah hati mengakui dosa-dosanya dan memohon belas kasihan Allah.<\/p>\n<p>Doa melibatkan dua gerakan: naik dan turun. Naik mengangkat hati kita kepada Allah, melepaskan diri kita dari sikap mementingkan diri sendiri dan gangguan-gangguan duniawi. Ini adalah keinginan untuk mencari Tuhan dan mempersembahkan hidup kita di hadapan-Nya. Namun, naik kepada Tuhan hanya mungkin terjadi ketika kita pertama-tama turun ke dalam lubuk hati kita. Turun ke dalam hati menuntut ketulusan dan kerendahan hati \u2013 pengakuan yang jujur akan kelemahan dan kebutuhan kita akan belas kasihan Allah.<\/p>\n<p>Pemungut cukai mencontohkan kerendahan hati ini, berdiri di kejauhan, merasa tak pantas namun jujur di hadapan Allah. Dalam kerendahan hatinya, ia membuka hatinya kepada kasih Allah yang menyembuhkan dan mengubahkan. Sementara itu, kesombongan orang Farisi membutakannya, membuat doanya berkisar pada dirinya sendiri dan bukan pada Allah. Kesombongan rohani membuat kita menghakimi orang lain dan memuliakan diri kita sendiri, menjauhkan kita dari kasih karunia Allah.<\/p>\n<p>Apakah kita mencari pujian atas perbuatan baik kita, atau apakah kita datang ke hadapan Allah dengan kerendahan hati, percaya pada belas kasihan-Nya?<\/p>\n<p>Marilah kita teladani Bunda Maria, hamba Tuhan yang rendah hati, yang mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan meninggikan orang-orang yang rendah hati dan memenuhi hati orang-orang yang percaya kepada-Nya. Semoga kita selalu menghampiri Tuhan dengan kerendahan hati, karena kita tahu bahwa belas kasihan-Nya saja yang dapat memulihkan dan mengubah kita.<\/p>\n<p>Tuhan, jadikanlah aku hamba-Mu yang rendah hati dan tulus. Amin.<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"QOpRpykZwO\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/naik-ke-hadapan-tuhan-turun-ke-lubuk-hati\/\">NAIK KE HADAPAN TUHAN, TURUN KE LUBUK HATI<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;NAIK KE HADAPAN TUHAN, TURUN KE LUBUK HATI&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/naik-ke-hadapan-tuhan-turun-ke-lubuk-hati\/embed\/#?secret=Xb6hlnBOlS#?secret=QOpRpykZwO\" data-secret=\"QOpRpykZwO\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Sabtu 29 Maret 2025 Lukas 18:13-14a (Luk 18:9-14) \u201dTetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-74744","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/74744","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=74744"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/74744\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":74745,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/74744\/revisions\/74745"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=74744"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=74744"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=74744"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}