{"id":74705,"date":"2025-03-28T19:35:44","date_gmt":"2025-03-28T12:35:44","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=74705"},"modified":"2025-03-28T19:50:17","modified_gmt":"2025-03-28T12:50:17","slug":"jumat-28-maret-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=74705","title":{"rendered":"Jumat, 28 Maret 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nJumat 28 Maret 2025<br \/>\nMarkus 12:28b (Mrk 12:28b-34)<br \/>\nSeorang ahli Taurat datang kepada Yesus dan bertanya: \u201cHukum manakah yang paling utama?&#8221;<\/p>\n<p>Hukum Yang Terutama<\/p>\n<p>Kita semua tahu jawaban dari pertanyaan si Ahli Taurat, sebagaimana telah dijawab Yesus: Hukum yang terutama adalah Hukum Cinta Kasih, baik terhadap Tuhan maupun sesama.<br \/>\nAda orang yang kemudian bertanya lagi: Semua agama mengajarkan hukum cinta kasih, kalau begitu apa beda hukum cintakasih Yesus dengan hukum cintakasih yang juga diajarkan tokoh-tokoh agama lain?<br \/>\nJawabannya ada pada Yesus. KataNya: \u201dTidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.&#8221; (Yoh 15:13).<\/p>\n<p>Yesus mencintai sampai mati, bukan hanya sampai setengah mati. Yesus pun meminta kita untuk saling mencintai, sebagaimana Ia telah mencintai kita. &#8220;Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.&#8221; (Yoh 15:12).<br \/>\nYesus mencintai kita bukan karena kita baik. Bukan juga karena kita telah mencintai Dia atau kita telah berjasa karena telah banyak berbuat baik.<br \/>\nIngat kata Paulus, \u201cKristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.\u201d (Rom 5:8b). Yesus mencintai kita tanpa syarat dan perhitungan apapun. Inilah cinta yang sejati.<\/p>\n<p>Sekalipun cinta kita masih jauh dari cinta Yesus, mari terus berjuang membaharui dan memperdalam kesungguhan hati kita untuk mencintai setulus-tulusnya dan sampai sehabis-habisnya.<br \/>\n\u201dYa Yesus, terimakasih telah mencintaiku tanpa memandang jasaku. Kobarkanlah cinta di hatiku, agar aku dapat mencintaiMu dan sesamaku sebagaimana Engkau telah mencintaiku. Bila hatiku terluka karena mencintai, pedih karena ditolak dan tidak dihargai, kuatkanlah aku agar tak menyerah. Jadikanlah hatiku seperti hatiMu. Amin.\u201d<\/p>\n<p>Selamat hari Jumat. Hari Yesus wafat oleh keagungan cintaNya bagi kita.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 28 Mar 2025<br \/>\nJumat Prapaskah III<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mat 4:17<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 12:28b-34<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMat 4:17<br \/>\nBertobatlah, sabda Tuhan, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 12:28b-34<br \/>\nTuhan Allahmu itu Tuhan yang esa,<br \/>\nkasihilah Dia dengan segenap jiwamu.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa datanglah seorang ahli Taurat kepada Yesus<br \/>\ndan bertanya kepada-Nya,<br \/>\n&#8220;Perintah manakah yang paling utama?&#8221;<br \/>\nJawab Yesus, &#8220;Perintah yang paling utama ialah:<br \/>\nDengarlah, hai orang Israel,<br \/>\nTuhan Allah kita itu Tuhan yang esa.<br \/>\nKasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati,<br \/>\ndengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi,<br \/>\ndan dengan segenap kekuatanmu.<br \/>\nDan perintah yang kedua ialah:<br \/>\nKasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.<br \/>\nTidak ada perintah lain yang lebih utama<br \/>\ndaripada kedua hukum ini.&#8221;<\/p>\n<p>Berkatalah ahli Taurat itu kepada Yesus,<br \/>\n&#8220;Guru, tepat sekali apa yang Kaukatakan,<br \/>\nbahwa Dia itu esa, dan bahwa tidak ada allah lain kecuali Dia.<br \/>\nMemang mengasihi Dia dengan segenap hati,<br \/>\ndengan segenap pengertian, dan dengan segenap kekuatan,<br \/>\nserta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri<br \/>\njauh lebih utama dari pada semua kurban bakar dan persembahan.&#8221;<\/p>\n<p>Yesus melihat betapa bijaksana jawaban orang itu.<br \/>\nMaka Ia berkata kepadanya,<br \/>\n&#8220;Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!&#8221;<br \/>\nDan tak seorang pun berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n*************<\/p>\n<p>\u210d<\/p>\n<p>\u201cHukum yang terutama ialah: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini,\u201d (Mrk 12: 29 \u2013 31)<\/p>\n<p>Bacaan-bacaan hari ini mempunyai titik temu pada sentralitas Allah dalam hidup kita. Bacaan pertama (Hosea 14: 2 \u2013 10) mengundang umat Israel untuk secara total kembali kepada relasi dengan Yahweh yang memberi hidup. Allah menjadi bagaikan \u201cembun\u201d yang memberi kehidupan bagi Israel. \u201cAku akan seperti embun bagi Israel,\u201d Hanya pada Yahweh, Israel \u201cakan berbunga seperti bunga bakung dan akan menjulurkan akar-akarnya seperti pohon hawar.\u201d Lalu dalam Injil Yesus menegaskan bahwa perintah yang pertama adalah: \u201cKasihilah Tuhan, Allahmu, dengan SEGENAP hatimu dan dengan SEGENAP jiwamu dan dengan SEGENAP akal budimu dan dengan SEGENAP kekuatanmu,\u201d (Mrk 12: 30), mengasihi Allah secara TOTAL, menjadikan Allah sebagi pusat hidup.<\/p>\n<p>Masa Prapaskah menjadi saat yang baik bagi kita merenungkan, sejauh mana Allah menjadi pusat hidup saya. Allah menjadi pusat hidup kita bila:<\/p>\n<p>* Mempunyai waktu yang kita persembahkan kepada-Nya. Artinya adalah bahwa kita rela memberikan waktu bagi-Nya. Tidak ada alasan lagi mengatakan \u201csaya tak punya waktu.\u201d Mengatakan \u201cSaya tak punya waktu,\u201d berarti tidak menjadikan-Nya prioritas dalam hidup saya.<br \/>\n* Berusaha menjadi semakin intim, akrab, dengan-Nya dalam doa. Kita tidak menghitung seberapa lama dan seberapa panjang komunikasi kita dengan seseorang yang sungguh dekat dan akrab dengan kita.<br \/>\n* Allah di atas segala-galanya yang baik dalam hidup saya. Ingat kisah Abraham yang dikaruniai anak setelah menantikannya amat lama? Allah menguji dia dengan memintanya untuk mengorbankan Ishak, anaknya itu. Abraham taat kepada Allah. Ia tahu bahwa anaknya adalah anugerah yang terbesar baginya, namun ia rela memberikannya untuk Allah. Salah satu hal yang menghalangi Allah untuk tinggal dalam hati kita, mungkin bukan hal-hal jahat, tetapi bisa jadi hal-hal baik, yang telah menjadi kelekatan bagi kita.<br \/>\n* Akhirnya kasih yang total kepada Allah hanya dapat menjadi nyata dalam kasih kita kepada sesama, agar kita \u201ctidak jauh dari Kerajaan Allah.\u201d<\/p>\n<p>Sejauh mana Allah menjadi pusat hidup kita? Sejauh mana totalitas kasih kita kepada Allah? Sejauh mana saya mengasihi sesama?<\/p>\n<p>Tuhan, tambahkanlah kasih kami kepada-Mu dan sesama. Amin.<\/p>\n<p>Selamat pagi. Selamat beraktivitas. Selamat berpantang dan berpuasa. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"yrZsYAJZio\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/totalitas-kasih\/\">TOTALITAS KASIH<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;TOTALITAS KASIH&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/totalitas-kasih\/embed\/#?secret=OIc0XG43Ds#?secret=yrZsYAJZio\" data-secret=\"yrZsYAJZio\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Jumat 28 Maret 2025 Markus 12:28b (Mrk 12:28b-34) Seorang ahli Taurat datang kepada Yesus dan bertanya: \u201cHukum manakah yang paling utama?&#8221; Hukum Yang Terutama Kita semua tahu jawaban dari pertanyaan si Ahli&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-74705","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/74705","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=74705"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/74705\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":74716,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/74705\/revisions\/74716"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=74705"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=74705"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=74705"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}