{"id":74465,"date":"2025-03-24T08:45:46","date_gmt":"2025-03-24T01:45:46","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=74465"},"modified":"2025-03-24T08:45:46","modified_gmt":"2025-03-24T01:45:46","slug":"senin-24-maret-2025-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=74465","title":{"rendered":"Senin, 24 Maret 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSenin 24 Maret 2025<br \/>\nLukas 4:24 (Luk 4:24-30)<br \/>\nDan kata-Nya lagi: &#8220;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.\u201d<\/p>\n<p>Menghargai Kalangan Sendiri<\/p>\n<p>Betapa sedih hati Yesus, ketika ditolak oleh orang-orang sekampungNya di Nazareth. Mereka lebih melihat latar belakang keluargaNya yang sederhana, daripada melihat semua tanda-tanda heran yang dibuat Yesus sebagai tanda bahwa janji para nabi telah terpenuhi dalam diriNya.<br \/>\nMemang begitu sulit menerima dan menghargai apa yang datang dari kalangan sendiri. Mantan presiden Habibi merasa sedih karena tekadnya menjadikan Indonesia hebat dengan membuat pesawat terbang sendiri, ternyata tidak dihargai di negaranya sendiri. Orang lebih tertarik dengan merk luar negri daripada buatan negri sendiri. Lucunya cepatu Nike dibuat di Tangerang, fashion terkenal Zara diproduksi di Sukoharjo, Hugo Boss, Uniqlo dan H&amp;M dibuat di Bandung. Para Insinyur pesawat yang mendesain pesawat Boeing ternyata adalah para insinyur Indonesia. Mari bangga dengan \u201cMade in Indonesia\u201d.<\/p>\n<p>Penolakan Yesus oleh keluarga sekampungNya, sahabat kenalanNya sendiri, mengingatkan kita untuk menerima dan menghargai semua anggota keluarga kita, orang-orang sederhana di sekitar kita, orang-orang sekampung kita.<br \/>\nIngatlah bahwa sekalipun ditolak manusia, Yesus tak pernah menolak kita. Ia mencintai kita apa adanya. Ia ikut menanggung beban derita kita karena Ia mengerti kesulitan kita sebagai manusia biasa. Lembutkan hati, murahkan hati, cintailah semua orang yang Yesus cintai, bahkan musuh sekalipun. Itulah yang diminta Yesus. Mendoakan mereka dan jangan mengutuk!<br \/>\nTetaplah baik sekalipun diperlakukan tidak baik!<\/p>\n<p>Semangat Senin, Semangat saling menghargai. Yesus setia menerima dan menemani kita.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 24 Mar 2025<br \/>\nSenin Prapaskah III<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mzm 130:5.7<br \/>\nBacaan Injil: Luk 4:24-30<br \/>\n***************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMzm 130:5.7<br \/>\nAku menanti-nantikan Tuhan,<br \/>\ndan mengharapkan firman-Nya,<br \/>\nsebab pada Tuhan ada kasih setia,<br \/>\ndan Ia banyak kali mengadakan pembebasan.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 4:24-30<br \/>\nYesus seperti Elia dan Elisa,<br \/>\ndiutus bukan kepada orang-orang Yahudi.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Ketika Yesus datang ke Nazaret,<br \/>\nIa berkata kepada umat di rumah ibadat,<br \/>\n&#8220;Aku berkata kepadamu,<br \/>\nsesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.<br \/>\nTetapi Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar:<br \/>\nPada zaman Elia terdapat banyak janda di Israel,<br \/>\nketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan,<br \/>\ndan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.<br \/>\nTetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka,<br \/>\nmelainkan kepada seorang janda di Sarfat, di tanah Sidon.<br \/>\nDan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel,<br \/>\ntetapi tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan,<br \/>\nselain dari pada Naaman, orang Siria itu.&#8221;<br \/>\nMendengar itu,<br \/>\nsangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.<br \/>\nMereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota<br \/>\ndan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak,<br \/>\nuntuk melemparkan Dia dari tebing itu.<br \/>\nTetapi Yesus berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.<\/p>\n<p>Demikianlah Sabda Tuhan.<br \/>\n*************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cMendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.\u201d [LUK 4: 28 \u2013 29]<\/p>\n<p>Di dekat Nazaret, menghadap ke Lembah Yizreel, terdapat sebuah tebing curam dengan pemandangan indah Gunung Tabor. Tempat menarik ini dikenal sebagai Mons Saltus Domini dalam bahasa Latin, atau Gunung \u201cLompatan Tuhan\u201d. Tradisi mengatakan bahwa ini adalah tebing gunung di mana Tuhan melompat ketika orang-orang Nazaret hendak melemparkan-Nya. Ada tradisi apokrif yang mengatakan bahwa di sana kita dapat menemukan batu tempat Yesus mendarat, di mana Dia meninggalkan jejak tangan dan kaki-Nya. Tradisi ini menunjuk pada perikope Injil hari ini.<\/p>\n<p>Kita temukan peristiwa ini pada awal pelayanan Yesus. Saat Ia kembali ke Nazaret setelah pembaptisan dan pencobaan-Nya di padang gurun, Ia berkhotbah di rumah ibadat di mana semua orang terkesima dengan perkataan-Nya. Tetapi kesadaran bahwa Dia hanyalah salah satu dari mereka, dan perkataan-Nya bahwa tidak ada nabi yang diterima di tempat asalnya, membuat penduduk kota itu marah sehingga mereka ingin melemparkan-Nya dari atas tebing.<\/p>\n<p>\u201cTidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya,\u201d kata Yesus. Dalam pelayanan-Nya, Yesus mengalami penolakan: tidak hanya dari orang-orang yang menentang-Nya, tetapi juga dari keluarga-Nya sendiri dan orang-orang dekat-Nya. Injil Yohanes mengatakan, \u201cIa datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya,\u201d (Yoh 1: 11).<\/p>\n<p>Kita mungkin berada dalam posisi yang sama, ditolak oleh orang-orang terdekat kita karena keyakinan kita yang berakar pada ajaran Kristus. Saat kita melakukan tindakan kenabian, kita mesti siap menghadapi penolakan, pengkhianatan, ketidakpercayaan atau bahkan pelecehan dari orang-orang yang kita kenal: keluarga, teman, kerabat dst. Akankah kita \u201ckalah\u201d terhadap penolakan mereka?<\/p>\n<p>Injil hari ini menantang kita untuk memiliki keberanian atas keyakinan Kristiani kita dalam kehidupan kita sehari-hari ketika kita menghadapi kebencian dan penolakan karena iman dan kebenaran yang kita pegang.<\/p>\n<p>Tuhan, semoga kami berani berpegang pada kebenaran sejati, apapun risikonya. Jadikan kami nabi-nabi masa kini.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas di pekan yang baru. Perjuangkan kebenaran! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"whBWO2gs2x\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/ditolak-oleh-milik-kepunyaan-nya\/\">DITOLAK OLEH MILIK KEPUNYAAN-NYA<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;DITOLAK OLEH MILIK KEPUNYAAN-NYA&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/ditolak-oleh-milik-kepunyaan-nya\/embed\/#?secret=wvT78phpGP#?secret=whBWO2gs2x\" data-secret=\"whBWO2gs2x\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Senin 24 Maret 2025 Lukas 4:24 (Luk 4:24-30) Dan kata-Nya lagi: &#8220;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.\u201d Menghargai Kalangan Sendiri Betapa sedih hati Yesus, ketika ditolak&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-74465","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/74465","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=74465"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/74465\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":74466,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/74465\/revisions\/74466"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=74465"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=74465"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=74465"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}