{"id":74346,"date":"2025-03-22T10:32:22","date_gmt":"2025-03-22T03:32:22","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=74346"},"modified":"2025-03-22T18:55:38","modified_gmt":"2025-03-22T11:55:38","slug":"sabtu-22-maret-2025-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=74346","title":{"rendered":"Sabtu, 22 Maret 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSabtu 22 Maret 2025<br \/>\nLukas 15:31-32 (Luk 15:1-3, 11-32)<br \/>\n\u201dKata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.&#8221;<\/p>\n<p>Mari Pulang Kembali<\/p>\n<p>Dalam perumpamaan mengenai \u201canak yang hilang\u201d Yesus mengisahkan kesedihan Bapa di surga ketika anak-anakNya tak lagi peduli dengan Bapanya dan tak peduli satu sama lain.<br \/>\nSi bungsu dengan begitu menyakitkan memutuskan ikatan bapa-anak, kakak-adik dan memilih hidup terpisah dari keluarganya untuk mengejar ambisinya sendiri. Dengan sombongnya ia merasa mampu mengatur hidupnya tanpa perlu hidup bersama dengan keluarganya. Betapa menyakitkan hati seorang bapa, bila anaknya tidak lagi membutuhkannya apalagi tidak menghargainya sebagai bapa.<\/p>\n<p>Di pihak lain, anak yang satunya, yang sulung, ternyata juga tidak baik-baik saja. Ia tinggal serumah dengan bapanya, tapi hanya seatap tapi tidak sehati. Memang ia kelihatan dengar-dengaran tapi tidak bahagia dengan semua yang ada padanya. Ia lebih peduli dengan dirinya daripada ikut prihatin dengan kesedihan hati ayahnya karena kehilangan adiknya. Ia tetap menyimpan dendam pada adiknya, karena itu ia tidak setuju bila bapanya berbaik hati dan mengampuni adiknya.<br \/>\nSungguh betapa terkuka hati si bapa. Anaknya yang satu memisahkan diri dan meninggalkannya dan yang satu tetap tinggal dan hidup bersamanya tapi dengan kedekatan semu dan tak mendalam.<\/p>\n<p>Melalui kisah ini, Yesus ingin menunjukkan betapa Allah Bapa kita begitu mengasihi kita. Bapa merangkul semua anakNya dalam pelukan kasihNya, tak peduli seberapa besar anak-anakNya telah menyakiti hatiNya. PengampunanNya jauh melampaui dosa dan pelanggaran kita. RangkulanNya jauh melampaui baik buruknya kepribadian kita.<br \/>\nPulang kembali, bertobat dan berdamai kembali, itulah jalan untuk bersatu lagi dan melekat di hati Allah Bapa kita.<br \/>\nMari menyesali dosa kita dan pulang kembali. Bapa tetap setia menanti kita. Kata Paus Fransiskus, \u201cBapa di surga tak pernah lelah mengampuni kita. Kita yang lelah memohon ampun padaNya.\u201d<br \/>\nMari juga kita berdamai satu sama lain. Biarlah masa lalu itu berlalu, kita mulai lagi yang baru.<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan. Bahagianya kita punya Bapa seperti Allah kita.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 22 Mar 2025<br \/>\nSabtu Prapaskah II<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBait Pengantar Injil: Luk 15:18<br \/>\nBacaan Injil: Luk 15:1-3.11-32<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nLuk 15:18<br \/>\nAku akan bangkit dan pergi kepada bapaku<br \/>\ndan berkata kepadanya,<br \/>\n&#8220;Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa.&#8221;<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 15:1-3.11-32<br \/>\nSaudaramu telah mati dan kini hidup kembali.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa<br \/>\nbiasa datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.<br \/>\nMaka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat,<br \/>\nkatanya,<br \/>\n&#8220;Ia menerima orang-orang berdosa<br \/>\ndan makan bersama-sama dengan mereka.&#8221;<\/p>\n<p>Maka Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.<br \/>\nKata yang bungsu kepada ayahnya,<br \/>\n&#8216;Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita<br \/>\nyang menjadi hakku.&#8217;<br \/>\nLalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu<br \/>\ndi antara mereka.<\/p>\n<p>Beberapa hari kemudian<br \/>\nanak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu<br \/>\nlalu pergi ke negeri yang jauh.<br \/>\nDi sana ia memboroskan harta miliknya itu<br \/>\ndengan hidup berfoya-foya.<br \/>\nSetelah dihabiskannya harta miliknya,<br \/>\ntimbullah bencana kelaparan di negeri itu<br \/>\ndan ia pun mulai melarat.<br \/>\nLalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu.<br \/>\nOrang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babi.<br \/>\nLalu ia ingin mengisi perutnya<br \/>\ndengan ampas yang menjadi makanan babi itu,<br \/>\ntetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya.<br \/>\nLalu ia menyadari keadaannya, katanya:<br \/>\n&#8216;Betapa banyak orang upahan bapaku<br \/>\nyang berlimpah-limpah makanannya,<br \/>\ntetapi aku di sini mati kelaparan.<br \/>\nAku akan bangkit dan pergi kepada bapaku<br \/>\ndan berkata kepadanya:<br \/>\nBapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa;<br \/>\naku tidak layak lagi disebutkan anak Bapa;<br \/>\njadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.&#8217;<\/p>\n<p>Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya.<br \/>\nKetika ia masih jauh, ayahnya telah melihat dia,<br \/>\nlalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.<br \/>\nAyah itu berlari mendapatkan dia<br \/>\nlalu merangkul dan mencium dia.<br \/>\nKata anak itu kepadanya:<br \/>\nBapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa,<br \/>\naku tidak layak lagi disebutkan anak Bapa.<br \/>\nTetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya,<br \/>\n&#8216;Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik,<br \/>\ndan pakaikanlah kepadanya;<br \/>\nkenakanlah cincin pada jarinya, dan sepatu pada kakinya.<br \/>\nDan ambillah anak lembu tambun itu,<br \/>\nsembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.<br \/>\nSebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali,<br \/>\nia telah hilang dan didapat kembali.<\/p>\n<p>Maka mulailah mereka bersukaria.<br \/>\nTetapi anaknya yang sulung sedang berada di ladang.<br \/>\nKetika ia pulang dan dekat ke rumah,<br \/>\nia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian.<br \/>\nLalu ia memanggil salah seorang hamba<br \/>\ndan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu.<br \/>\nJawab hamba itu, &#8216;Adikmu telah kembali,<br \/>\ndan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun,<br \/>\nkarena ia mendapatnya kembali anak itu dengan selamat.&#8217;<\/p>\n<p>Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk.<br \/>\nLalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.<br \/>\nTetapi ia menjawab ayahnya, katanya,<br \/>\n&#8216;Telah bertahun-tahun aku melayani Bapa,<br \/>\ndan belum pernah aku melanggar perintah Bapa,<br \/>\ntetapi kepadaku<br \/>\nbelum pernah Bapa memberikan seekor anak kambing pun<br \/>\nuntuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.<br \/>\nTetapi baru saja datang anak Bapa<br \/>\nyang telah memboroskan harta kekayaan Bapa<br \/>\nbersama dengan pelacur-pelacur,<br \/>\nmaka Bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.&#8217;<br \/>\nKata ayahnya kepadanya,<br \/>\n&#8216;Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku,<br \/>\ndan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.<br \/>\nKita patut bersukacita dan bergembira<br \/>\nkarena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali,<br \/>\nia telah hilang dan didapat kembali.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah Sabda Tuhan.<br \/>\n**************<\/p>\n<p>EMBUN ROHANI PAGI DARI KOTA AMBON MANISE<\/p>\n<p>DOSA MERUSAK TUBUH DAN HATIMU, TAPI PENGAMPUNAN ALLAH MEMULIHKANNYA<\/p>\n<p>\u201cSetiap kali berdosa, sebenarnya kita sedang merusakkan jiwa dengan cara memuaskan tubuh. Tubuh yang puas dengan kenikmatan akan menjauh dari cinta Allah, namun belas kasih seorang Bapa selalu mengampunimu tanpa syarat dan batas.\u201d<\/p>\n<p>Pengampunan Allah selaku Bapa yang baik dan Maharahim itu terungkap dalam injil hari ini: \u201dKetika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.\u201d ( ayat 20 )<\/p>\n<p>Pelajaran penting bagi kita di hari ini adalah:<\/p>\n<p>1) Hanya satu kerinduan Allah sebagai seorang Bapa adalah melihat dan bertemu dengan engkau anak-Nya di surga ketika engkau mengakhiri peziarahan di dunia ini;<\/p>\n<p>2) Hanya ada satu jalan kembali kepada Bapa, yakni pertobatan;<\/p>\n<p>3) Hidup di dunia ini adalah kesempatan untuk merintis jalan sendiri ke surga; Ingat, orang lain tidak bisa berjalan di jalanmu, pun sebaliknya engkau tidak bisa melalui jalan rintisan orang lain.<\/p>\n<p>Akhirnya, jika engkau sadar bahwa Bapa di surga sedang menantimu tanpa marah dan menghakimimu maka seharusnya engkau kembali kepada-Nya melalui jalan pertobatan. Ingat, Allah tak pernah bosan mengampunimu.<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan untuk para sahabat.<\/p>\n<p>Salam, doa dan berkatku ( + ) untuk semua.<br \/>\n( Dari: Mgr. Inno Ngutra : Minnong &#8211; Duc in Altum )<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Sabtu 22 Maret 2025 Lukas 15:31-32 (Luk 15:1-3, 11-32) \u201dKata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-74346","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/74346","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=74346"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/74346\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":74347,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/74346\/revisions\/74347"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=74346"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=74346"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=74346"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}