{"id":74167,"date":"2025-03-19T10:24:54","date_gmt":"2025-03-19T03:24:54","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=74167"},"modified":"2025-03-19T10:24:54","modified_gmt":"2025-03-19T03:24:54","slug":"rabu-19-maret-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=74167","title":{"rendered":"Rabu, 19 Maret 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nRabu 19 Maret 2025<br \/>\nHari Raya St Yosep Suami St Maria<br \/>\nMatius 1:19-20 (Mat 1:16.18-21.24)<br \/>\nKarena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: &#8220;Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.\u201d<\/p>\n<p>St Yosep Bapa Pengasuh Yesus, Suami Maria Yang Setia<\/p>\n<p>Allah menghendaki agar PuteraNya menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Itu berarti Yesus harus mempunyai ibu dan ayah. Orang-orang yang dipanggilNya Mama dan Papa, sebagaimana halnya semua manusia. Oleh ketetapan Allah, dipilihNya-lah dua tokoh yang punya peran yang sangat penting dan hakiki dalam misteri inkarnasi Yesus, yakni Maria dan Yosep. Peranan mereka sangatlah menentukan bagi Yesus.<\/p>\n<p>Maria dan Yosep, orangtua Yesus begitu sederhana digambarkan dalam Injil, tapi tanpa mereka, Yesus tak dapat menjadi manusia yang sesungguhnya. Sikap keibuan dan kewanitaan Maria dan sikap seorang pria sejati dan kebapaan Yosep, membuat Yesus tumbuh sebagai anak manusia yang mewarisi semua kasih keibuan dan kebapaan, itulah nilai-nilai sejati kemanusiaan kita.<\/p>\n<p>Yesus mengalami bagaimana Yosep sebagai bapa pengasuhNya telah merawat dan membesarkanNya, mendidik dan melatihNya menjadi manusia sejati, pekerja yang rajin dan penuh tanggungjawab, pengasih dan penyayang, lemah lembut dan rendah hati. Yesus tentu sangat berterimakasih kepada St Yosep PapaNya, yang telah melatihNya untuk tegar dan kuat memikul kayu untuk perabotan, dan kelak menjadi kayu salib bagi Yesus.<br \/>\nKita berterimakasih pada Allah Bapa di Surga yang telah memilih Yosep menjadi bapa pengasuh Yesus, yang sampai akhir hidupnya telah menjadi ayah yang perkasa bagi Yesus dan suami yang setia bagi Maria.<\/p>\n<p>Gereja menetapkan satu hari khusus dalam liturgi Gereja, untuk menghormati St Yosep, pelindung dan penjaga keluarga kudus di Nazareth dan juga pelindung dan penjaga keluarga kita.<br \/>\nBagi para pria, St Yosep menjadi inspirasi untuk menjadi pria sejati yang tulus dan jujur, pekerja keras dan rajin. Bagi para suami, kiranya St Yosep menjadi teladan seorang suami yang setia dan penuh tanggungjawab. Sebagai seorang ayah, semoga St Yosep menjadi teladan mendidik dan merawat anak-anaknya menjadi anak Tuhan yang sejati. Bagi keluarga kita, kiranya St Yosep menjadi pelindung yang budiman.<\/p>\n<p>\u201dSt Yosep doakanlah keluarga kami pada Yesus, Puteramu. Teladan hidupmu biarlah terus menjadi inspirasi bagi kami untuk tulus hati dan setia pada penyelenggaraan Allah serta taat dan setia mengikuti Yesus Tuhan kami. Amin.\u201d<\/p>\n<p>Selamat Hari Raya St Yosep. Allah terus menjaga kita dan St Yosep menyemangati kita dari surga.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 19 Mar 2025<br \/>\nRabu Prapaskah II<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mzm 84:5<br \/>\nBacaan Injil: Mat 1:16.18-21.24a<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMzm 84:5<br \/>\nBerbahagialah orang yang diam di rumah-Mu,<br \/>\nyang memuji-muji Engkau tanpa henti.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 1:16.18-21.24a<br \/>\nYusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Menurut silsilah Yesus Kristus,<br \/>\nYakub memperanakkan Yusuf, suami Maria,<br \/>\nyang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.<br \/>\nSebelum Kristus lahir,<br \/>\nMaria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf.<br \/>\nsebelum mereka hidup sebagai suami isteri.<\/p>\n<p>Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati,<br \/>\ndan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum,<br \/>\nia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.<\/p>\n<p>Tetapi ketika Yusuf mempertimbangkan maksud itu,<br \/>\nmalaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata,<br \/>\n&#8220;Yusuf, anak Daud,<br \/>\njanganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu,<br \/>\nsebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.<br \/>\nMaria akan melahirkan anak laki-laki,<br \/>\ndan engkau akan menamakan Dia Yesus,<br \/>\nkarena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya<br \/>\ndari dosa mereka.&#8221;<br \/>\nSesudah bangun dari tidurnya,<br \/>\nYusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu<br \/>\nkepadanya.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**************<\/p>\n<p>EMBUN ROHANI PAGI DARI KOTA AMBON MANISE<\/p>\n<p>MEMELUK ERAT YANG TERHINA DENGAN CINTA YANG TULUS<\/p>\n<p>\u201cMedia soaial saat ini menjadi sarana yang paling canggih untuk menyebarkan berbagai macam berita, entah baik atau buruk. Sayangnya banyak orang memilih menggunakan media sosial untuk menyebarkan keburukan, kesalahan dan dosa orang lain. Ketulusan St. Yusuf menjadi senjata untuk melawan kecenderungan buruk itu, karena sekalipun ia memiliki dasar untuk mempermalukan Maria, tunangannya yang berkhianat, namun tindakan sebaliknyalah yang dia ambil yakni melindunginya.\u201d<\/p>\n<p>Ketulusan St. Yusuf itu ditemukan dalam injil hari ini: \u201cKarena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.\u201d ( ayat 19 )<\/p>\n<p>Pelajaran penting bagi kita di hari ini adalah:<\/p>\n<p>1) Sadarlah bahwa Anda memiliki kemampuan untuk mengontrol setiap kata dan tindakanmu;<\/p>\n<p>2) Memang kita tak bisa mengharapkan orang yang bersalah kembali ke masa hari kemarin untuk memperbaiki kesalahannya, namun setidak-tidaknya kita memberi ruang bagi mereka untuk sadar, bertobat dan berubah;<\/p>\n<p>3) Ketulusan tidak kompromi terhadap kesalahan bahkan kejahatan orang lain, namun bisa menyadarkan yang salah dan berdosa untuk tahu bahwa masih ada hati seperti Bapa di surga yang mau menerimanya jika ia bertobat.<\/p>\n<p>Ingatlah bahwa ketulusan bukan atribut orang lemah, melainkan orang kuat yang telah selesai dengan dirinya sendiri sehingga lebih memikirkan kebaikan orang lain daripada kesakitan luka hatinya.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas untuk para sahabat.<\/p>\n<p>Salam, doa dan berkatku ( + ) untuk semua. ( Dari: Mgr. Inno Ngutra : Minnong &#8211; Duc in Altum )<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Rabu 19 Maret 2025 Hari Raya St Yosep Suami St Maria Matius 1:19-20 (Mat 1:16.18-21.24) Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-74167","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/74167","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=74167"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/74167\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":74168,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/74167\/revisions\/74168"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=74167"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=74167"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=74167"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}