{"id":73926,"date":"2025-03-15T10:00:46","date_gmt":"2025-03-15T03:00:46","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=73926"},"modified":"2025-03-15T10:00:46","modified_gmt":"2025-03-15T03:00:46","slug":"sabtu-15-maret-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=73926","title":{"rendered":"Sabtu, 15 Maret 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSabtu 15 Maret 2025<br \/>\nMatius 5:46-47 (Mat 5:42-48)<br \/>\n\u201dApabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?\u201d<\/p>\n<p>Berani Berbeda<\/p>\n<p>Mengikuti Yesus berarti menjadi seperti Yesus, terlebih dalam hal mengasihi Tuhan dan sesama. Bila hukum dunia mengajarkan balas dendam, membenci orang yang berbuat jahat pada kita, itu bukan prinsip hidup kita.<br \/>\nYesus mengingatkan kita bahwa dendam dan permusuhan memisahkan kita satu sama lain. Membuat hidup penuh ancaman, bukan hanya dari luar, melainkan dari pikiran-pikiran negatif dalam diri yang membuat kita khawatir dan cemas karena merasa ada orang yang tidak suka dengan kita, yang bermaksud jahat, yang setiap saat bisa menyerang, merusak dan membawa petaka bagi kita.<br \/>\nMengapa mesti ada musuh dalam hidup bila musuh itu dapat dikalahkan dengan jalan mengasihinya? Kasih mengalahkan permusuhan, membuang kebencian dan rasa takut, serta membawa damai di hati.<br \/>\nDemikian juga saat kita merasa menjadi korban, teraniaya entah secara fisik terlebih secara batin oleh sikap orang lain. Kata Yesus, \u201cBerdoalah bagi mereka yang menganiaya kmu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.\u201d<br \/>\nAnak-anak Allah sungguh berbeda dengan anak-anak dunia dalam hal cintakasih. Karena kita mencintai seperti Yesus telah mencintai kita. Ia tak henti mencintai kita sekalipun kita selalu melukai hatiNya.<br \/>\nLepaskan prinsip-prinsip duniawi yang membuat kita tidak lebih dari orang-orang yang pilih kasih, penuh dendam dan kebencian, iri hati dan prasangka. Mari berani berbeda dengan yang lain karena kita adalah anak-anak Allah, saudara saudari Yesus.<br \/>\n\u201cYa Yesus berilah kami rahmat untuk saling mengasihi, sebagaimana Engkau mengasihi kami. Amin.\u201d<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan dalam naungan kasih Tuhan\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 15 Mar 2025<br \/>\nSabtu Prapaskah I<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBait Pengantar Injil: 2Kor 6:2b<br \/>\nBacaan Injil: Mat 5:43-48<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\n2Kor 6:2b<br \/>\nWaktu ini adalah waktu perkenanan.<br \/>\nHari ini adalah hari penyelamatan.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 5:43-48<br \/>\nHaruslah kamu sempurna,<br \/>\nsebagaimana Bapamu yang di surga sempurna adanya.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,<br \/>\n&#8220;Kamu telah mendengar firman:<br \/>\nKasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.<br \/>\nTetapi Aku berkata kepadamu:<br \/>\nKasihilah musuh-musuhmu,<br \/>\ndan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.<br \/>\nKarena dengan demikian<br \/>\nkamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga.<br \/>\nSebab Ia membuat matahari-Nya terbit<br \/>\nbagi orang yang jahat dan bagi orang yang baik pula,<br \/>\nhujan pun diturunkan-Nya<br \/>\nbagi orang yang benar dan juga orang yang tidak benar.<br \/>\nApabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu,<br \/>\napakah upahmu?<br \/>\nBukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?<br \/>\nDan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja,<br \/>\napakah lebihnya daripada perbuatan orang lain?<br \/>\nBukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?<br \/>\nKarena itu haruslah kamu sempurna,<br \/>\nsebagaimana Bapamu yang di surga sempurna adanya.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n*************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cKamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga.\u201d (Mat 5: 43 \u2013 45a).<\/p>\n<p>Yesus dalam Injil hari ini mengundang kita untuk membuat perubahan cara berpikir secara radikal. \u201cKasihilah sesamamu manusia.\u201d Perintah ini tidaklah asing. Bahkan pada masa Musa, orang-orang Yahudi juga mendapatkan perintah yang sama, walau \u201csesama\u201d dalam pengertian mereka sangatlah rancu. Mengasihi sesama bagi mereka berarti mengasihi sesama orang-orang Israel. Maka mengasihi musuh sungguh merupakan suatu kegilaan.<\/p>\n<p>Yesus memberi makna baru pada hukum lama itu dan makna baru pula tentang siapa itu sesama, mulai dari yang terdekat hingga yang terjauh di ujung bumi, bahkan yang terjauh di sudut hati yakni \u201cmusuh-musuh\u201d kita. Kabar baik Kristus menuntut kasih yang lebih sempurna, kasih terhadap sesama dan terhadap musuh. Dan Ia bukan hanya mengajarkan tetapi menghidupinya.<\/p>\n<p>Kita semua memahami bahwa perintah ini sulit. Bagaimana mungkin kita dapat mengasihi seseorang yang menyakiti kita? Kita mengasihi musuh bukan karena mereka layak tetapi karena Allah menghendaki mereka diperlakukan dengan belas kasih dan kerahiman. Bukankah kasih dan kerahiman-Nya diberikan baik bagi orang baik maupun orang jahat?<\/p>\n<p>Mungkin kita bertanya, Apakah murid-murid Kristus mempunyai musuh? Kita melihat bahwa \u201cmusuh\u201d di sini berarti mereka yang membenci para murid, bukan mereka yang dibenci para murid. Murid Kritus tidak boleh membenci siapa pun. Jika musuh yang kita maksud adalah mereka yang kita benci, maka itu bukan sikap murid Kristus. Tetapi jika musuh yang kita maksud adalah mereka yang membenci kita, maka kita tidak bisa tidak memiliki \u201cmusuh\u201d. Kita tidak dapat mengontrol bagaimana orang lain memperlakukan kita; kita hanya bisa mengontrol bagaimana kita memperlakukan mereka. Kita tidak bisa memaksa siapa pun untuk menyukai kita, tetapi kita selalu bisa meyakinkan diri sendiri \u2013 untuk mencintai, meskipun kita tidak dicintai.<\/p>\n<p>Yesus membawa kita pada hakikat dan kodrat keberadaan manusia sejak penciptaan, yaitu gambar dan rupa Allah. Kita, akan menjadi sungguh manusiawi, lebih manusiawi jika kita semakin serupa dengan Bapa. \u201cHendaklah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.\u201d<\/p>\n<p>Tuhan, semoga kami dapat mengasihi seperti Engkau mengasihi dan berusaha hari demi hari menjadi semakin sempurna. Amin.<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan. Mari belajar mengasihi tanpa batas. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<\/p>\n<p>https:\/\/heypasjon.com\/mengasihi-musuh\/<\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Sabtu 15 Maret 2025 Matius 5:46-47 (Mat 5:42-48) \u201dApabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja,&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-73926","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73926","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=73926"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73926\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":73927,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73926\/revisions\/73927"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=73926"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=73926"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=73926"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}