{"id":73861,"date":"2025-03-14T10:47:44","date_gmt":"2025-03-14T03:47:44","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=73861"},"modified":"2025-03-14T10:47:44","modified_gmt":"2025-03-14T03:47:44","slug":"jumat-14-maret-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=73861","title":{"rendered":"Jumat, 14 Maret 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nJumat 14 Maret 2025<br \/>\nMatius 5:23-24 (Mat 5:20-26)<br \/>\n\u201dJika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.\u201d<\/p>\n<p>Berdamailah Selalu<\/p>\n<p>Yesus mengingatkan kita bahwa relasi kita dengan Bapa di surga tak terlepas dari relasi kita dengan orang lain. Untuk apa datang beribadah dan membawa persembahan kepada Tuhan bila hati masih penuh dengan rasa marah, dendam dan benci serta pelbagai pikiran negatif terhadap orang lain.<br \/>\nMenganggap semua beres padahal ada ganjalan di hati, berarti orang itu berpura-pura. Tuhan yang tahu isi hati manusia tentu saja kecewa. Rasul Yohanes berkata, \u201cJikalau seorang berkata: &#8220;Aku mengasihi Allah,&#8221; dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.\u201d (1 Yoh 4:20).<br \/>\nRekonsiliasi atau berdamai kembali dengan saudara itulah persembahan terindah untuk Tuhan. Bukankah ketika berdoa Bapa Kami, kita telah berjanji, \u201campunilah kami seperti kami-pun mengampuni yang bersalah pada kami.\u201d<br \/>\nBeranilah meminta maaf dari orang yang telah kita lukai agar ada damai di hati. Lepaskanlah juga pengampunan bila hati terluka dan sakit. Cara terbaik untuk mengampuni adalah mengambil sikap seperti Yesus. Di atas kayu salib Yesus mengampuni orang-orang yang telah menganiayaNya. Ia juga meminta Bapa mengampuni mereka katanya, \u201cBapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang dilakukannya.\u201d<br \/>\nBegitulah caranya kita mengerti dan mengampuni seorang anak kecil karena kita tahu dia tidak mengerti apa yang dia lakukan. Mengampuni selalu membawa damai. Allah Bapa juga senang menerima persembahan hati kita.<\/p>\n<p>Selamat hari Jumat. Damai selalu di hati.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 14 Mar 2025<br \/>\nJumat Prapaskah I<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yeh 18:31<br \/>\nBacaan Injil: Mat 5:20-26<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYeh 18:31<br \/>\nBuangkanlah daripadamu,<br \/>\nsegala durhaka yang kamu buat terhadap Aku, sabda Tuhan,<br \/>\ndan perbaharuilah hati serta rohmu.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 5:20-26<br \/>\nPergilah berdamai dahulu dengan saudaramu.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Dalam khotbah di bukit berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya,<br \/>\n&#8220;Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar<br \/>\ndaripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi,<br \/>\nkalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.<\/p>\n<p>Kalian telah mendengar<br \/>\napa yang difirmankan kepada nenek moyang kita:<br \/>\nJangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.<br \/>\nTetapi Aku berkata kepadamu:<br \/>\nSetiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum;<br \/>\nbarangsiapa berkata kepada saudaranya: Kafir!<br \/>\nharus dihadapkan ke Mahkamah Agama<br \/>\ndan siapa yang berkata: Jahil!<br \/>\nharus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.<\/p>\n<p>Sebab itu,<br \/>\njika engkau mempersembahkan persembahan di atas mezbah<br \/>\ndan engkau teringat akan sesuatu<br \/>\nyang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,<br \/>\ntinggalkanlah persembahan di depan mezbah itu,<br \/>\ndan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu,<br \/>\nlalu kembali untuk mempersembahkan persembahan itu.<\/p>\n<p>Segeralah berdamai dengan lawanmu<br \/>\nselama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan,<br \/>\nsupaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim,<br \/>\ndan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya,<br \/>\ndan engkau dilemparkan ke dalam penjara.<br \/>\nAku berkata kepadamu:<br \/>\nSesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana,<br \/>\nsebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n*************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cJika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.\u201d [Mat 5: 23 \u2013 24]<\/p>\n<p>Injil hari ini mengingatkan kita akan hubungan yang tak terpisahkan antara hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama. Yesus mengajarkan bahwa kasih persaudaraan adalah dasar dari iman kita. Para ahli Taurat dan orang Farisi percaya bahwa ketaatan mutlak terhadap Hukum Taurat adalah satu-satunya cara untuk mendekat kepada Allah.<\/p>\n<p>Pola pikir ini masih ada sampai sekarang. Banyak orang lebih peduli dengan apakah suatu tindakan, seperti makan daging pada hari Jumat selama masa Prapaskah, adalah dosa atau bukan. Berfokus hanya pada menghindari dosa dapat membuat kita takut akan hukuman Tuhan daripada merangkul kasih-Nya. Pemikiran legalistik seperti ini mereduksi Tuhan menjadi sosok hakim yang menghukum, yang selalu mengawasi kesalahan kita.<\/p>\n<p>Yesus menentang cara pandang yang terbatas ini. Dia menjelaskan bahwa perintah untuk tidak membunuh tidak hanya melarang tindakan itu sendiri, tetapi juga mendorong kita untuk menjauhi kebencian, kemarahan, dan bahkan kata-kata yang merusak. Pembunuhan secara fisik hanyalah ekspresi lahiriah dari kekejaman rohani yang lebih dalam yang berasal dari hati. Seberapa sering kita menghampiri salib Tuhan selama Misa sambil memendam amarah atau konflik yang belum terselesaikan dengan sesama?<\/p>\n<p>Kita diingatkan bahwa kemarahan jika dibiarkan, dapat menyebabkan bahaya yang lebih besar. Sebelum kita mendekati Ekaristi, kita harus terlebih dahulu berekonsiliasi dengan saudara dan saudari kita. Misa sendiri adalah sebuah momen rekonsiliasi, dimulai dengan tindakan penyesalan dan dilanjutkan dengan tanda perdamaian. Namun, seberapa sering kita membiarkan salam damai menjadi sebuah gerakan hampa, tidak memiliki makna yang sesungguhnya? Marilah kita mengembalikan kedalamannya dan benar-benar berdamai satu sama lain sehingga kita dapat benar-benar berbagi dalam Tubuh dan Darah Kristus.<\/p>\n<p>Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai. Amin.<\/p>\n<p>Selamat berpantang. Bawalah damai senantiasa. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<\/p>\n<p>https:\/\/heypasjon.com\/berdamailah\/<\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Jumat 14 Maret 2025 Matius 5:23-24 (Mat 5:20-26) \u201dJika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-73861","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73861","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=73861"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73861\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":73862,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73861\/revisions\/73862"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=73861"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=73861"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=73861"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}