{"id":73689,"date":"2025-03-11T17:02:01","date_gmt":"2025-03-11T10:02:01","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=73689"},"modified":"2025-03-11T17:02:01","modified_gmt":"2025-03-11T10:02:01","slug":"selasa-11-maret-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=73689","title":{"rendered":"Selasa, 11 Maret 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSelasa 11 Maret 2025<br \/>\nMatius 6:9-10 (Mat 6:7-15)<br \/>\n\u201dKarena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga&#8230;\u201d<\/p>\n<p>Doa Yesus Menjadi Doa Kita<\/p>\n<p>Sesungguhnya doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus bagi kita, adalah doaNya sendiri. Dalam doaNya Yesus datang kepada Allah sebagai BapaNya. Ia tahu persis siapakah Bapa di surga dan bagaimana keadaan di surga.<br \/>\nSebagaimana Yesus telah menjadi manusia, Ia pun tahu apa yang kita perlukan karena Ia-pun mengalami yang sama seperti yang kita alami. Oleh karena itu Yesus mengajak kita untuk meminta, mencari, mengetuk pintu hati Allah.<br \/>\nNamun di atas segalanya kita memohon agar kehendak Allah Bapa kita, itulah yang terjadi. Kita ingat bahwa di taman Getsemani, betapa Yesus ingin lepas dari derita yang sudah di depan mata. Karena itu Ia berdoa, \u201cYa Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.&#8221; (Mat 26:39).<br \/>\nSalah satu yang dikehendaki Bapa bagi kita adalah mengampuni orang yang bersalah pada kita saat kita juga mohon ampun atas kesalahan kita. Jangan biarkan ada dendam dan simpan marah dalam hati.<br \/>\nDan ingatlah bahwa jawaban utama doa kita tak lain adalah Roh Kudus yang dianugerahkan Allah untuk tinggal di hati kita, menggerakkan hati kita untuk selalu berseru \u201cAbba ya Bapa.\u201d<br \/>\nIa memberi kita kekuatan untuk menghadapi kenyataan hidup, menjadikan yang tak mungkin menjadi mungkin, dan memampukan kita untuk berserah dan bersandar pada ksih Bapa.<\/p>\n<p>Selamat hari Selasa. Tiada hari tanpa doa \u201cBapa Kami.\u201d\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 11 Mar 2025<br \/>\nSelasa Prapaskah I<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mat 4:4b<br \/>\nBacaan Injil: Mat 6:7-15<br \/>\n**************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMat 4:4b<br \/>\nManusia hidup bukan dari roti saja,<br \/>\ntetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 6:7-15<br \/>\nYesus mengajar murid-Nya berdoa.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,<br \/>\n&#8220;Dalam doamu janganlah kamu bertele-tele<br \/>\nseperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah.<br \/>\nMereka menyangka bahwa<br \/>\nkarena banyaknya kata-kata doa mereka dikabulkan.<br \/>\nJadi janganlah kamu seperti mereka,<br \/>\nkarena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan,<br \/>\nsebelum kamu minta kepada-Nya.<br \/>\nKarena itu berdoalah begini:<br \/>\n&#8220;Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu.<br \/>\nDatanglah Kerajaan-Mu,<br \/>\njadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.<br \/>\nBerikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,<br \/>\ndan ampunilah kami akan kesalahan kami,<br \/>\nseperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;<br \/>\ndan janganlah membawa kami ke dalam percobaan,<br \/>\ntetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Amin.<\/p>\n<p>Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang,<br \/>\nBapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.<br \/>\nTetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang,<br \/>\nBapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cKarena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.\u201d (Mat 6: 9 \u2013 13).<\/p>\n<p>Bagaimanakah anda berdoa? Doa yang sejati tidak mencoba untuk memaksa Tuhan. Doa yang diajarkan oleh Yesus adalah contoh terbaik. Kita berdoa pertama-tama untuk \u201curusan\u201d Allah agar Kerajaan-Nya datang dan bertumbuh, serta kasih-Nya menguasai seluruh alam semesta. Kita berdoa agar kehendak-Nya terlaksana, bukan kehendak kita. S\u00f8ren Kierkegaard berkata: \u201cDoa tidak mengubah Tuhan, tetapi mengubah orang yang berdoa.\u201d<\/p>\n<p>Setelah semuanya itu barulah kita dapat menyampaikan permohonan sederhana kita, makanan, rejeki yang secukupnya, pengampunan atas dosa-dosa kita karena kita telah mengampuni orang lain sehingga Kerajaan-Nya dapat tumbuh dalam diri kita. Untuk masa depan kita, kita meminta perlindungan dari jerat si jahat yang berusaha terus-menerus untuk menjauhkan kita dari Kerajaan-Nya.<\/p>\n<p>Doa yang sejati berkaitan dengan Allah, bukan dengan \u201csaya\u201d. Doa sejati mengarah kepada-Nya, bukan mengarah pada diri sendiri. Doa sejati mengubah saya.<\/p>\n<p>Akhirnya, apa yang dikatakan oleh seorang penulis ini patut menjadi permenungan kita:<br \/>\n\u201cAnda tidak dapat berdoa Bapa Kami dan anda sekali saja berkata \u201cSaya\u201d.<br \/>\nAnda tidak dapat berdoa Bapa kami dan tidak berdoa untuk orang lain.<br \/>\nSebab saat anda memohon rejeki sehari-hari, anda harus menyertakan sesama anda.<br \/>\nSebab sesama disertakan dalam setiap permohonan:<br \/>\ndari awal sampai akhir doa itu, tak pernah sekalipun anda berkata \u201csaya.\u201d<\/p>\n<p>Tuhan, terima kasih telah menyadarkanku kembali bahwa doaku sering kali tidak berkenan di hati-Mu. Seperti Engkau mengajar murid-murid-Mu bagaimana cara berdoa, ajarlah aku lagi dan lagi. Amin.<\/p>\n<p>Selamat pagi, selamat beraktivitas dalam kepercayaan akan kasih-Nya. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"XbFSNX4MyM\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/berdoa\/\">BERDOA<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;BERDOA&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/berdoa\/embed\/#?secret=TWv3IYztz8#?secret=XbFSNX4MyM\" data-secret=\"XbFSNX4MyM\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Selasa 11 Maret 2025 Matius 6:9-10 (Mat 6:7-15) \u201dKarena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga&#8230;\u201d Doa Yesus Menjadi Doa&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-73689","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73689","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=73689"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73689\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":73690,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73689\/revisions\/73690"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=73689"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=73689"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=73689"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}