{"id":73538,"date":"2025-03-08T09:48:48","date_gmt":"2025-03-08T02:48:48","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=73538"},"modified":"2025-03-08T09:48:48","modified_gmt":"2025-03-08T02:48:48","slug":"sabtu-08-maret-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=73538","title":{"rendered":"Sabtu, 08 Maret 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSabtu 08 Maret 2025<br \/>\nLukas 5:31-32 (Luk 5:27-32)<br \/>\nJawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: &#8220;Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.&#8221;<\/p>\n<p>Yesus Datang Untuk Menolong Orang Berdosa<\/p>\n<p>Paus Fransiskus selalu mengingatkan bahwa Gereja itu adalah rumah sakit. Di sinilah tempat orang sakit datang berobat, orang berdosa datang bertobat.<br \/>\nGereja sebagai umat Allah adalah tempat kita mengalami pengampunan dan didamaikan kembali dengan Tuhan dan sesama. Semakin orang jauh dari Tuhan semakin terbuka lebar pintu Gereja untuk menyambutnya kembali sama seperti Bapa di surga yang menyambut dengan sukacita anakNya yang hilang dan kembali pulang ke rumah. Sama halnya yang dilakukan Yesus untuk Matius si pemungut cukai.<br \/>\nGereja adalah rumah Allah, rumah kita, rumah sakit kita. Mari datang untuk check up. Barangkali kolesterol egoisme terlalu tinggi; ada penyumbatan saluran nadi belas kasih karena rasa benci, dendam dan iri; mungkin asam urat terlalu tinggi karena terlalu banyak asupan pikiran negatif dan prasangka.<br \/>\nDemikian juga, jangan sampai karena beban dosa yang berat membuat kita stroke dan lumpuh. Bukankah Yesus adalah \u201cpenyembuh segala luka, penegak hukum cinta?\u201d<br \/>\nYesus adalah dokter keluarga kita. Dia tahu semua jenis penyakit kita. Pada Dia-lah kita datang memohon kesembuhan dan pengampunan. Yesus adalah tempat kita mencurahkan isi hati yang penuh luka batin.<br \/>\n\u201dAmpunilah kami ya Yesus. Tolong angkat kami yang tak mampu berdiri tegak karena beban dosa kami. Jadikanlah kami pengampun dan penyembuh luka hati. Biarlah ada damai dan sukacita di hati kami karena boleh mengampuni dan mencintai sebagaimana Engkau tetap mencintai dan mengampuni kami sekalipun kami banyak kali melukai hatiMu. Ampunilah kami, orang berdosa ini. Amin.\u201d<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan. Syalom, damai di hati!\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 08 Mar 2025<br \/>\nSabtu Rabu Abu<br \/>\nPF S. Yohanes a Deo, Biarawan<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yeh 33:11<br \/>\nBacaan Injil: Luk 5:27-32<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYeh 33:11<br \/>\nAku tidak berkenan akan kematian orang fasik,<br \/>\nmelainkan akan pertobatannya supaya ia hidup.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 5:27-32<br \/>\nAku datang bukan untuk memanggil orang benar,<br \/>\ntetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa<br \/>\nYesus melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi,<br \/>\nsedang duduk di rumah cukai.<br \/>\nYesus berkata kepadanya, &#8220;Ikutlah Aku!&#8221;<br \/>\nMaka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu,<br \/>\nlalu mengikut Dia.<br \/>\nLalu Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Yesus di rumahnya.<br \/>\nSejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia.<br \/>\nOrang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut<br \/>\nkepada murid-murid Yesus,<br \/>\n&#8220;Mengapa kamu makan dan minum<br \/>\nbersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?&#8221;<br \/>\nLalu jawab Yesus kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Bukan orang sehat yang memerlukan tabib,<br \/>\ntetapi orang sakit!<br \/>\nAku datang bukan untuk memanggil orang benar,<br \/>\ntetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**************<\/p>\n<p>PENDOSA YANG BERLAGAK SUCI<\/p>\n<p>\u201cBanyak pendosa sombong menutup mata terhadap dosanya sendiri, tapi selalu membuka mulutnya untuk menceritakan dosa orang lain. Akhir kisah, keduanya memiliki gelar yang sama yakni pendosa. Maka jangan berlagak suci tentang kesucian dirimu sebagai pendosa, karena seringan dan sekecil apa pun dosamu, dosa tetaplah dosa.\u201d<\/p>\n<p>Arogansi pendosa yang sombong terekspresi lewat karakter golongan ini: \u201cOrang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: &#8220;Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?&#8221; ( Ayat 30 )<\/p>\n<p>Pelajaran penting bagi kita di hari ini adalah:<\/p>\n<p>1) Sadarlah bahwa sekecil dan seringan apa pun dosamu tidak bisa mengecualikanmu dari sebutan manusia pendosa;<\/p>\n<p>2) Pendosa yang sombong akan selalu bangga dengan kesombongannya, namun orang suci adalah pendosa yang berbalik dari dosanya, bertobat dan berjuang menjadi kudus seperti Lewi;<\/p>\n<p>3) Percayalah bahwa Tuhan sedang mencarimu untuk merintis jalan pertobatan demi mendapatkan rahmat pengampunan;<\/p>\n<p>Akhirnya sadarlah bahwa masa prapaskah ini adalah saat terindah di mana Tuhan sedang menantimu untuk membawa pulang ke dalam hati-Nya yang penuh kerahiman.<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan untuk para sahabat.<\/p>\n<p>Salam, doa dan berkatku ( + ) untuk semua.<br \/>\n( Dari: Mgr. Inno Ngutra : Minnong &#8211; Duc in Altum )<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Sabtu 08 Maret 2025 Lukas 5:31-32 (Luk 5:27-32) Jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: &#8220;Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa,&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-73538","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73538","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=73538"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73538\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":73539,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73538\/revisions\/73539"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=73538"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=73538"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=73538"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}