{"id":73399,"date":"2025-03-06T09:18:32","date_gmt":"2025-03-06T02:18:32","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=73399"},"modified":"2025-03-06T09:18:32","modified_gmt":"2025-03-06T02:18:32","slug":"kamis-06-maret-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=73399","title":{"rendered":"Kamis, 06 Maret 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nKamis 06 Maret 2025<br \/>\nLukas 9:24-25 (Luk 9:22-25)<br \/>\n\u201dBarangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?\u201d<\/p>\n<p>Menjadi Saluran Berkat Tuhan Bagi Yang Lain<\/p>\n<p>Adalah kisah sebatang pohon bambu yang ingin menjadi pohon yang paling tinggi di dunia. Itulah kebanggaannya. Namun ia begitu begitu sedih karena hidupnya berakhir tragis sudah ditebang saat ia merasa berada pada kejayaan hidupnya. Ia menemukan dirinya tergeletak di tanah tak berdaya.<br \/>\nBelum lagi hilang kesedihannya, daun-daun kebanggaannya juga dipotong sampai habis. Lebih sakit lagi, bagian tengahnya dilubangi dan ia tergeletak begitu saja. Ia merasa hidupnya sia-sia, karena impiannya tidak menjadi kenyataan. Bukannya menjadi sebatang bambu yang paling tinggi dan megah mengatasi yang lain, ia diletakkan pada sebuah mata air.<br \/>\nTapi tunggu sebentar! Ternyata ia telah menjadi pancuran air, tempat menyalurkan air hidup untuk kehidupan di sekitarnya. Ia telah kehilangan semua impiannya, tapi ia menemukan dirinya begitu berarti menjadi saluran berkat Tuhan untuk menghidupkan yang lain.<br \/>\nSungguh suatu kebijaksanaan ilahi dari alam sekitar, menunjukkan betapa berarti hidup itu ketika kita hidup bukan untuk diri sendiri, tapi menjadikan hidup itu saluran berkat Tuhan bagi yang lain.<br \/>\nYesus telah bersabda, \u201cSesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.\u201d (Yoh 12:24).<br \/>\nSalib, sengsara dan kematian Yesus telah menyebabkan penebusan umat manusia. Mengikuti Yesus memikul salib dan memberikan hidup bagi Tuhan dan sesama, itulah arti hidup kita yang sesungguhnya.<\/p>\n<p>Tetaplah kuat dan semangat memikul salib dan berkurban. Tuhanlah kekuatan kita\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 06 Mar 2025<br \/>\nKamis Rabu Abu<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mat 4:17<br \/>\nBacaan Injil: Luk 9:22-25<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMat 4:17<br \/>\nBertobatlah, sabda Tuhan, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 9:22-25<br \/>\nBarangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku,<br \/>\nia akan menyelamatkannya.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya<br \/>\nbahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan,<br \/>\ndan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat,<br \/>\nlalu dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga.<\/p>\n<p>Kata-Nya kepada mereka semua,<br \/>\n&#8220;Setiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal dirinya,<br \/>\nmemikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.<br \/>\nKarena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya,<br \/>\nia akan kehilangan nyawanya;<br \/>\ntetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku,<br \/>\nia akan menyelamatkannya.<br \/>\nApa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia,<br \/>\ntetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**************<\/p>\n<p> Sabda Hidup <\/p>\n<p>\u201cKepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup,\u201d [Ul 30: 19]<\/p>\n<p>Pada awal peziarahan masa Prapaskah, Gereja mengajak kita untuk merenungkan perkataan Musa dan Yesus. Musa berkata kepada bangsa Israel, \u201cKepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk,\u201d Kamu harus memilih. Namun, tidak mudah untuk memilih. Lebih nyaman untuk hidup dengan membiarkan diri kita terbawa oleh kemapanan, keengganan untuk berubah, dan kebiasaan.<\/p>\n<p>Sudahkah Anda memilih cara hidup Anda? Apakah Anda berada di sisi kehidupan atau di sisi kematian? Hari ini, Gereja mengajak kita untuk berhenti sejenak. Mulailah masa Prapaskah dengan pertanyaan-pertanyaan kecil yang akan membantu kita untuk menimbang-nimbang dan merenung: \u201cSeperti apakah hidup saya?\u201d<\/p>\n<p>Hal pertama yang harus ditanyakan kepada diri kita sendiri adalah: \u201cSiapakah Allah bagi saya? Bagaimana hubungan saya dengan Yesus?\u201d Dan yang kedua: \u201cBagaimana hubungan saya dengan sesama, keluarga, dengan orang tua, saudara kandung, istri atau suami, dan anak-anak?\u201d Kedua rangkaian pertanyaan ini pasti akan membantu kita menemukan hal-hal yang perlu kita perbaiki.<\/p>\n<p>Kita selalu ingin menang, kita ingin menghasilkan, kita ingin sukses. Tetapi Yesus menantang kita: \u201cApa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?\u201d Jalan yang salah untuk diikuti adalah selalu mengejar kesuksesan dan kekayaan tanpa mempertimbangkan Tuhan atau keluarga.<\/p>\n<p>Marilah kita mempercayakan hidup kita kepada Tuhan, yang menyertai kita dan menolong kita untuk memilih yang baik. Marilah kita memohon kepada-Nya anugerah keberanian, karena dibutuhkan sedikit keberanian untuk berhenti dan bertanya pada diri sendiri: bagaimana saya berdiri di hadapan Tuhan? Bagaimana hubungan saya dengan sesama? Bagaimana hubungan saya dalam keluarga? Apa yang perlu saya ubah?<\/p>\n<p>Tuhan, beri aku keberanian untuk mengasihi Engkau, berjalan di jalan-Mu dan mematuhi perintah-perintah-Mu. Mampukan aku untuk menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti-Mu. Sebab dengan semuanya itu aku memilih kehidupan. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Pilihlah kehidupan. JLU! \u2764\ufe0f<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"XbC8cZQ0xN\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/memilih-kehidupan-atau-kematian\/\">MEMILIH KEHIDUPAN ATAU KEMATIAN<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;MEMILIH KEHIDUPAN ATAU KEMATIAN&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/memilih-kehidupan-atau-kematian\/embed\/#?secret=iAc6wr5IlX#?secret=XbC8cZQ0xN\" data-secret=\"XbC8cZQ0xN\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Kamis 06 Maret 2025 Lukas 9:24-25 (Luk 9:22-25) \u201dBarangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-73399","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73399","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=73399"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73399\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":73400,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73399\/revisions\/73400"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=73399"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=73399"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=73399"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}