{"id":73338,"date":"2025-03-05T13:51:15","date_gmt":"2025-03-05T06:51:15","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=73338"},"modified":"2025-03-05T13:51:15","modified_gmt":"2025-03-05T06:51:15","slug":"rabu-abu-05-maret-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=73338","title":{"rendered":"Rabu Abu, 05 Maret 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nRabu 05 Maret 2025<br \/>\nHari Rabu Abu &#8211; Pantang dan Puasa<br \/>\nMatius 6:17-18 (Mat 6:1-6; 16-18)<br \/>\n\u201dApabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.&#8221;<\/p>\n<p>Masa Puasa-Pertobatan-Pemulihan<\/p>\n<p>Hari ini adalah hari Rabu Abu, kita memulai kembali masa penuh rahmat yakni masa Pra-Paskah, masa persiapan Paskah Kristus, yang kita persiapkan selama 40 hari dengan berpuasa dan berpantang.<br \/>\nSebagai tanda dimulainya masa penuh rahmat ini, kita menandai diri kita dengan menaruh abu di dahi atau di kepala, sebagaimana bentuk pertobatan umat Israel sejak perjanjian lama (lihat Yosua 7:6, Ayub 2:12).<br \/>\nRitual ini untuk mengingatkan kita manusia akan kefanaan hidup kita bila tanpa Allah. Kita menyadari siapakah kita di hadapan Allah. Kita begitu rapuh karena diciptakan dari debu tanah dan akan kembali menjadi abu. Hanya oleh kasih Allah kita diberi nafas kehidupan (Kejadian 2:7 dan 3:19).<br \/>\nYesus juga berpuasa 40 hari lamanya, untuk ikut mengalami arti penting dari puasa yakni berserah sepenuhnya pada kasih Allah. Maka kitapun ikut berpuasa selama 40 hari. Kali ini kita berpuasa untuk mempersiapkan Paskah Kristus 20 April 2025, agar perayaan Hari kemenanganNya atas dosa dan maut, kita persiapkan secara lahir batin melalui pertobatan dan puasa. Hidup doa kita perdalam agar kita semakin dekat dengan Tuhan telah menderita sengsara bagi kita.<br \/>\nPuasa membantu kita untuk menyangkal diri supaya hati kita tertuju pada Allah dan menyadari dosa dan kesalahan kita karena merasa sombong dan mandiri, egois dan hanya mencari kepentingan diri sendiri. Kita telah jauh dari Tuhan dan juga relasi kita dengan sesama telah jauh bahkan putus.<br \/>\nDengan mengosongkan diri, memurnikan hati, memperdalam hidup doa serta amal kasih, kita dipulihkan Allah untuk menjadi anakNya yang terkasih, bersinar kembali sebagai citra Allah.<br \/>\nSaat Paskah tiba, hati kita dipenuhi dengan sukacita karena dapat ikut mengalami misteri Paskah Kristus. Kita ikut wafat dengan meninggalkan manusia lama yang kelam, lalu bangkit bersama Yesus serta mengalami hidup baru bersama Dia (Rom 6:11-12).<br \/>\nInilah saatnya kita mau mengalami rasa lapar dan haus akan kasih Allah. Kita percaya hanya Allah yang dapat memuaskan hati kita oleh kasih karuniaNya. Mari meninggalkan manusia lama kita, bertobat dan berbalik kepada Allah. Semoga pengampunan Allah oleh salib Yesus membaharui hidup kita, dan mendorong kita untuk sungguh hidup bagi Tuhan.<\/p>\n<p>Selamat memasuki masa Pra-Paskah. Kasih karunia Allah memuaskan lapar dan dahaga kita.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 05 Mar 2025<br \/>\nRabu Rabu Abu<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mzm 95:8ab<br \/>\nBacaan Injil: Mat 6:1-6.16-18<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMzm 95:8ab<br \/>\nPada hari ini, kalau kamu mendengar suara Tuhan,<br \/>\njanganlah bergetar hati.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 6:1-6.16-18<br \/>\nBapamu yang melihat yang tersembunyi akan mengganjar engkau.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Dalam khotbah di bukit Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya,<br \/>\n&#8220;Hati-hatilah,<br \/>\njangan sampai melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang<br \/>\nsupaya dilihat.<br \/>\nKarena jika demikian,<br \/>\nkamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.<br \/>\nJadi, apabila engkau memberi sedekah,<br \/>\njanganlah engkau mencanangkan hal itu,<br \/>\nseperti yang dilakukan orang munafik<br \/>\ndi rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong,<br \/>\nsupaya mereka dipuji orang.<br \/>\nAku berkata kepadamu: &#8216;Mereka sudah mendapat upahnya.&#8217;<br \/>\nTetapi jika engkau memberi sedekah,<br \/>\njanganlah diketahui tangan kirimu<br \/>\napa yang diperbuat tangan kananmu.<br \/>\nHendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi.<br \/>\nMaka Bapamu yang melihat yang tersembunyi<br \/>\nakan membalasnya kepadamu.<br \/>\nDan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik.<br \/>\nMereka suka mengucapkan doanya<br \/>\ndengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat<br \/>\ndan pada tikungan-tikungan jalan raya,<br \/>\nsupaya mereka dilihat orang.<br \/>\nAku berkata kepadamu, &#8216;Mereka sudah mendapat upahnya.&#8217;<br \/>\nTetapi jika engkau berdoa,<br \/>\nmasuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu,<br \/>\ndan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.<br \/>\nMaka Bapamu yang melihat yang tersembunyi<br \/>\nakan membalasnya kepadamu.<\/p>\n<p>Dan apabila kamu berpuasa,<br \/>\njanganlah muram mukamu seperti orang munafik.<br \/>\nMereka mengubah air mukanya,<br \/>\nsupaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa.<br \/>\nAku berkata kepadamu, &#8216;Mereka sudah mendapat upahnya.&#8217;<br \/>\nTetapi apabila engkau berpuasa,<br \/>\nminyakilah kepalamu dan cucilah mukamu,<br \/>\nsupaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa,<br \/>\nmelainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.<br \/>\nMaka Bapamu yang melihat yang tersembunyi<br \/>\nakan membalasnya kepadamu.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n************<\/p>\n<p>EMBUN ROHANI PAGI DARI KOTA AMBON MANISE<\/p>\n<p>MASA PUASA: SAAT KEMBALI KEPADA TUHAN LEWAT PERTOBATAN<\/p>\n<p>\u201cBerpuasa yang benar dan baik adalah saat kita membenamkan hati dalam sesal dan tobat yang sejati sehingga hati kita terbuka terhadap rahmat Allah, yang memampukan kita untuk membantu sesama yang memerlukan. Inilah doa, puasa dan sedekah.\u201d<\/p>\n<p>Maka ada 3 keutamaan dalam puasa atau masa prapaskah orang Katolik, yakni:<\/p>\n<p>1) BERDOA<\/p>\n<p>&#8211; Yang boleh: \u201cTetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.\u201d<\/p>\n<p>&#8211; \u2060 Yang tidak boleh: \u201cJanganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang.\u201d<\/p>\n<p>2) BERPUASA<\/p>\n<p>&#8211; Yang boleh: \u201cMinyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.\u201d<\/p>\n<p>&#8211; \u2060 Yang tidak boleh : \u201cJanganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa.\u201d<\/p>\n<p>3) BERSEDEKAH<\/p>\n<p>&#8211; Yang boleh: \u201cHendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi.\u201d<\/p>\n<p>&#8211; Yang tidak boleh: \u201cJanganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu.\u201d<\/p>\n<p>Akhirnya, marilah:<br \/>\n&#8211; Berdoa dengan khusyuk dan terus menerus,<br \/>\n&#8211; \u2060Berpuasalah dengan benar,<br \/>\n&#8211; \u2060Serta lakukanlah amal dan bersedekah lah dengan tulus.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas untuk para sahabat.<\/p>\n<p>Salam, doa dan berkatku ( + ) untuk semua.<br \/>\n( Dari: Mgr. Inno Ngutra : Minnong &#8211; Duc in Altum )<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Rabu 05 Maret 2025 Hari Rabu Abu &#8211; Pantang dan Puasa Matius 6:17-18 (Mat 6:1-6; 16-18) \u201dApabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-73338","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73338","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=73338"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73338\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":73339,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73338\/revisions\/73339"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=73338"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=73338"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=73338"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}