{"id":72968,"date":"2025-02-27T09:18:56","date_gmt":"2025-02-27T02:18:56","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=72968"},"modified":"2025-02-27T09:18:56","modified_gmt":"2025-02-27T02:18:56","slug":"kamis-27-februari-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=72968","title":{"rendered":"Kamis, 27 Februari 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nKamis 27 Februari 2025<br \/>\nMarkus 9:50 (Mrk 9:41-50)<br \/>\n\u201dGaram memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.\u201d<\/p>\n<p>Kehadiran Yang Membawa Arti<\/p>\n<p>Yesus mengingatkan kita untuk selalu membawa arti bagi dunia, bagaikan garam yang ditaburkan dalam makanan untuk memberi cita rasa. Kiranya kehadiran kita memberi semangat dan gairah, membawa damai dan sukacita, memberi harapan dan optimisme, menyehatkan dan menyuburkan, mengawetkan relasi dan membersihkan yang kotor.<br \/>\nUntuk itu Yesus menganugerahkan kepada kita Roh KudusNya sendiri, agar cinta Yesus, semangat dan gairah hidupNya, kasih dan pengorbananNya nampak dan dirasakan oleh siapa saja yang hidup bersama kita.<br \/>\nItulah maksudnya Yesus mengatakan bahwa setiap orang akan digarami dengan api (Mrk 9:49) yang tidak lain adalah api Roh Kudus yang tinggal di hati kita. Agar ada gelora selalu di hati dan kita tidak tawar hati dalam bekerja dan berkarya. Dalam menjalin relasi yang hangat dan penuh kasih dengan orang lain.<br \/>\nBetapa Tuhan yang menciptakan kita akan kecewa ketika semua anugerah yang Ia berikan pada kita tertabur sia-sia karena kita hanya menerimanya begitu saja, tanpa memanfaatkan dan mengembangkannya untuk cita-cita kerajaan Allah. Hal ini terjadi ketika tangan kita tak bergerak menolong dan melayani, kaki kita berhenti melangkah untuk melakukan kebaikan dan tak mau berjalan mencari jiwa untuk diselamatkan.<br \/>\nBerjuanglah agar api Roh Kudus tidak padam, kita dapat terus menggarami lingkungan sekitar, dan terus menjadi saksi kebaikan Tuhan. Kiranya Tuhan menjauhkan kita dari pikiran dan perbuatan yang menyesatkan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.<\/p>\n<p>Selamat berkarya, menjadi garam dan terang di sekitar kita.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 27 Feb 2025<br \/>\nKamis Pekan Biasa VII<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: 1Tes 2:13<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 9:41-50<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\n1Tes 2:13<br \/>\nSambutlah sabda Tuhan, bukan sebagai perkataan manusia,<br \/>\nmelainkan sebagai sabda Allah.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 9:41-50<br \/>\nLebih baik bagimu dengan tangan terkudung masuk dalam kehidupan,<br \/>\ndaripada dengan kedua belah tangan masuk dalam api yang tak terpadamkan.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Pada suatu hari berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya,<br \/>\n&#8220;Barangsiapa memberi kalian minum air secangkir<br \/>\noleh karena kalian adalah pengikut Kristus,<br \/>\nia tidak akan kehilangan ganjarannya.<\/p>\n<p>Barangsiapa menyesatkan salah seorang<br \/>\ndari anak-anak kecil yang percaya ini,<br \/>\nlebih baik baginya<br \/>\njika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya<br \/>\nlalu ia dibuang ke dalam laut.<\/p>\n<p>Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah,<br \/>\nkarena lebih baik bagimu<br \/>\ndengan tangan terkudung masuk dalam kehidupan,<br \/>\ndaripada dengan utuh kedua belah tangan masuk dalam neraka,<br \/>\nke dalam api yang tak terpadamkan.<br \/>\nDan jika kaki menyesatkan engkau, penggallah,<br \/>\nkarena lebih baik bagimu<br \/>\ndengan kaki timpang masuk ke dalam hidup,<br \/>\ndaripada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka.<br \/>\nDan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah,<br \/>\nkarena lebih baik bagimu masuk ke dalam Kerajaan Allah<br \/>\ndengan bermata satu<br \/>\ndaripada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka,<br \/>\ndi mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tak pernah padam.<\/p>\n<p>Sebab setiap orang akan digarami dengan api.<br \/>\nGaram memang baik!<br \/>\nTetapi jika garam menjadi hambar,<br \/>\ndengan apakah kalian akan mengasinkannya?<br \/>\nHendaklah kalian selalu mempunyai garam dalam dirimu<br \/>\ndan selalu hidup berdamai seorang dengan yang lain.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cGaram memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.\u201d [Mrk 9: 50]<\/p>\n<p>Garam memiliki fungsi yang sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari. Garam tidak hanya memberi rasa pada makanan, tetapi juga dapat dipakai untuk membersihkan barang-barang tertentu dan juga utuk mengawetkan daging atau ikan agar tidak busuk. Sebagaimana garam membersihkan, mengawetkan, dan menghasilkan rasa yang lezat untuk makanan, demikian pula murid Kristus harus menjadi garam di dunia untuk memurnikan, mengawetkan, dan membawa \u201crasa\u201d kerajaan Allah yang penuh dengan kebenaran, kedamaian, sukacita, dan belas kasihan.<\/p>\n<p>Ketika kita bekerja untuk Tuhan, kita menerima lebih dari yang kita bayangkan. Setiap perbuatan baik, meski kecil &#8211; mengunjungi orang sakit, sapaan penyemangat, atau makanan dan minuman yang dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan &#8211; tidak hanya menghangatkan hati orang lain, tetapi juga hati kita. Tidak ada tindakan kasih yang sia-sia; Tuhan melihat dan menghargai setiap perbuatan baik.<\/p>\n<p>Pada saat yang sama, Yesus memperingatkan kita agar tidak menjadi batu sandungan. Di dunia saat ini, kita sangat menyadari adanya tantangan dan luka di dalam Gereja. Namun, seperti halnya setiap keluarga memiliki pergumulan, demikian pula keluarga rohani kita. Alih-alih menjadi acuh tak acuh atau berkecil hati, kita harus menanggapinya dengan doa, kerendahan hati, dan komitmen untuk hidup berintegritas. Skandal muncul bukan hanya dari kegagalan publik tetapi juga dari kontradiksi dalam kehidupan kita sendiri &#8211; ketika hidup dan perilaku kita tidak mencerminkan iman yang kita nyatakan. Marilah kita memohon pengampunan Tuhan atas batu sandungan yang kita buat dan berdoa untuk kesembuhan dan kekudusan Gereja.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, Injil mengundang kita untuk mencari kedamaian. Kedamaian sejati ditemukan ketika hidup kita dipenuhi dengan \u201crasa\u201d kasih Kristus. Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri: Apakah cara hidup saya membawa damai dalam hati saya dan orang-orang di sekitar saya? Jika jawabannya ya, maka Anda sedang berjalan di jalan kekudusan.<\/p>\n<p>Tuhan, tolonglah kami untuk menjadi garam bagi dunia, membawa kasih di mana ada luka, dan kedamaian di mana ada perpecahan. Semoga hidup kami mencerminkan kebaikan-Mu. Amin!<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Selamat menggarami hidup! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Kamis 27 Februari 2025 Markus 9:50 (Mrk 9:41-50) \u201dGaram memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-72968","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/72968","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=72968"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/72968\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":72969,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/72968\/revisions\/72969"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=72968"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=72968"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=72968"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}