{"id":72513,"date":"2025-02-20T09:50:16","date_gmt":"2025-02-20T02:50:16","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=72513"},"modified":"2025-02-20T09:50:16","modified_gmt":"2025-02-20T02:50:16","slug":"kamis-20-februari-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=72513","title":{"rendered":"Kamis, 20 Februari 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nKamis 20 Februari 2025<br \/>\nMarkus 8:33 (Mrk 8:27-33)<br \/>\nMaka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: &#8220;Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.&#8221;<\/p>\n<p>Mari Sejalan Dengan Pikiran Allah<\/p>\n<p>Diceritakan oleh penginjil Markus bahwa baru saja Yesus memuji Petrus karena pengakuan imannya akan Yesus sebagai Mesias (ayat 29), kini Yesus berbalik memarahi Petrus dan menyebutnya Iblis. Padahal kelihatannya Petrus bermaksud baik agar Yesus dijauhkan dari penderitaan dan salib.<br \/>\nRupanya Petrus salah mengerti mengenai gambaran Mesias yang diimaninya. Petrus berpikir bahwa sebagai Mesias yang adalah Tuhan dan Penebus, tidak selayaknya Yesus menderita dan disalibkan. Ia harus berada di istana dengan segala kemegahan dan gaya hidup yang menyenangkan. Ia dijaga oleh pengawal yang tidak akan membiarkannya susah dan menderita.<br \/>\nTapi bagi Yesus, semuanya itu justru membuatNya jauh dari kehendak Allah yang menghendaki PutraNya mengalami kenyataan hidup manusia biasa yang harus menanggung susah dan derita. Yesus telah turun dari surga untuk ikut mengalami susah senang menjadi manusia dan ikut menanggung sengsara kita. Karena itu dengan tegas Ia memarahi Petrus yang menggodaNya untuk keluar dari jalan yang dikehendaki BapaNya dan tinggal dalam zona nyaman.<br \/>\nBerbahagialah kita yang mempunyai Tuhan yang mengerti dan turut mengalami susah derita kita. Tuhan yang peduli dan solider mau ikut merasakan pahitnya penolakan, pedihnya dihina dan beratnya salib kehidupan.<br \/>\n\u201dYa Yesus, Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup. Kuatkanlah kami untuk merangkul salib dan derita. Gerakkan hati kami untuk berani keluar dari zona nyaman dan ikut peduli dengan kesusahan orang lain serta mau berbeban untuk membantu. Semoga oleh kesaksian hidup kami, semakin banyak orang percaya Engkau Tuhan yang peduli dan penuh belaskasih. Amin.\u201d<\/p>\n<p>Semangat pagi. Tetaplah percaya agar kuat memikul salib.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 20 Feb 2025<br \/>\nKamis Pekan Biasa VI<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 6:64b.69b<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 8:27-33<br \/>\n************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 6:64b.69b<br \/>\nSabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan.<br \/>\nPada-Mulah sabda kehidupan kekal.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 8:27-33<br \/>\nEngkaulah Kristus\u2026 Anak Manusia harus menderita banyak.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Pada suatu hari<br \/>\nYesus bersama murid-murid-Nya pergi ke kampung-kampung<br \/>\ndi sekitar Kaisarea Filipi.<br \/>\nDi tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya,<br \/>\n&#8220;Kata orang, siapakah Aku ini?&#8221;<\/p>\n<p>Para murid menjawab,<br \/>\n&#8220;Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis,<br \/>\nada juga yang mengatakan: Elia,<br \/>\nada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi.&#8221;<\/p>\n<p>Yesus bertanya lagi kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Tetapi menurut kamu, siapakah Aku ini?&#8221;<br \/>\nMaka Petrus menjawab, &#8220;Engkaulah Mesias!&#8221;<br \/>\nDan Yesus melarang mereka dengan keras,<br \/>\nsupaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia.<br \/>\nKemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka,<br \/>\nbahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan.<br \/>\nIa akan ditolak oleh para tua-tua,<br \/>\nimam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat,<br \/>\nlalu dibunuh, dan bangkit sesudah tiga hari.<br \/>\nHal ini dikatakan-Nya dengan terus terang.<\/p>\n<p>Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur-Nya.<br \/>\nMaka berpalinglah Yesus<br \/>\ndan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus,<br \/>\nkata-Nya, &#8220;Enyahlah Iblis!<br \/>\nSebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah,<br \/>\nmelainkan apa yang dipikirkan manusia.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cTetapi apa katamu, siapakah Aku ini?&#8221; Maka jawab Petrus: &#8220;Engkau adalah Mesias!\u201d [Mrk 8: 29]<\/p>\n<p>Laporan berita dapat dianggap lengkap dan dapat diandalkan ketika menjawab lima pertanyaan penting. Itu merupakan prinsip jurnalistik: 4W1H (Who, Where, When, What + How). Siapa? Dimana? Kapan? Apa? Bagaimana? Tampaknya, inilah yang gagal dipertimbangkan oleh para murid Yesus ketika suatu hari Yesus menanyakan kepada mereka pertanyaan-pertanyaan ini, \u201cApa kata orang tentang Aku?\u201d Apa yang telah kalian dengar dari orang-orang tentang Aku? Apa yang kamu ketahui tentang Aku?<\/p>\n<p>Sayangnya, banyak dari tanggapan mereka tidak seakurat yang diharapkan Yesus dari mereka. Mereka membandingkannya dengan beberapa nabi dalam Perjanjian Lama, atau sebagai Yohanes Pembaptis. Dengan kata lain, para murid tidak lengkap dan akurat dalam memberi laporan mereka tentang Dia, khususnya, pertama, tentang identitasNya (tentang siapa Dia bagi mereka) dan kedua, seperti apa Dia bagi mereka dan ketiga, atas cara bagaimana Dia mencapai misi-Nya.<\/p>\n<p>Petrus seperti biasa, mengambil inisiatif, berdiri dan menyatakan atas nama semua murid: &#8220;Engkau adalah Mesias.&#8221; Dia benar di satu sisi, tentang siapa Yesus baginya &#8211; seorang Mesias. Tetapi dia salah dalam dua pertanyaan krusial lainnya tentang &#8220;Apa&#8221; dan &#8220;Bagaimana.&#8221; Dia gagal memahami bahwa Yesus adalah &#8220;Mesias yang Menderita&#8221; dan yang akan mencapai misi-Nya dengan sengsara dan kematian-Nya di Kayu Salib. Gagasan Petrus tentang &#8220;Mesias&#8221; sebagai seorang pemimpin politik dan prajurit militer ditolak oleh Yesus.<\/p>\n<p>\u201cApa katamu, siapakah Aku ini?\u201d adalah pertanyaan pribadi yang menuntut tanggapan pribadi dari kita. Memang benar bahwa kita telah membaca dan mendengar banyak hal tentang Yesus sebagai Tuhan, guru, tabib, pengkhotbah, dan nabi. Tetapi apakah pemahaman ini menggerakkan dan mengilhami kita untuk lebih mengasihi Dia? Mengenal Yesus bukan hanya masalah pikiran dan pengetahuan, kita harus mengikuti cara hidup-Nya, mengasihi dan mengampuni seperti Dia, melayani dan memberikan hidup kepada orang lain seperti Dia.<\/p>\n<p>Dengan kata lain, kita hanya bisa mengatakan bahwa kita mengenal Yesus secara pribadi jika kita mulai mengikuti Dia dalam hidup kita. Untuk itu diperlukan kesetiaan mengikuti-Nya bukan hanya saat Ia mulia, tetapi juga saat Ia bersengsara.<\/p>\n<p>Tuhan, aku ingin lebih mengenal Engkau dan mengikuti Engkau. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Kenali lebih dekat dan ikuti Dia! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"lJwRR72OIb\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/mengenal-dan-mengikuti-yesus\/\">MENGENAL DAN MENGIKUTI YESUS<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;MENGENAL DAN MENGIKUTI YESUS&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/mengenal-dan-mengikuti-yesus\/embed\/#?secret=4EJkLpT6qG#?secret=lJwRR72OIb\" data-secret=\"lJwRR72OIb\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Kamis 20 Februari 2025 Markus 8:33 (Mrk 8:27-33) Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: &#8220;Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-72513","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/72513","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=72513"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/72513\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":72514,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/72513\/revisions\/72514"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=72513"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=72513"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=72513"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}