{"id":72310,"date":"2025-02-17T09:26:26","date_gmt":"2025-02-17T02:26:26","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=72310"},"modified":"2025-02-17T09:26:26","modified_gmt":"2025-02-17T02:26:26","slug":"senin-17-februari-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=72310","title":{"rendered":"Senin, 17 Februari 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSenin 17 Februari 2025<br \/>\nMarkus 8:11 (Mrk 8:11-13)<br \/>\nLalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga.<\/p>\n<p>Membaca Tanda Dari Surga<\/p>\n<p>Sudah begitu banyak tanda dan mujizat yang dibuat Yesus di tengah umat Israel. Ia menyembuhkan orang sakit, memulihkan yang lumpuh, memberi makan ribuan orang, menenangkan badai, mengusir roh jahat, dan membangkitkan orang mati.<br \/>\nSemuanya ini adalah tanda dari surga, sebagaimana yang dinubuatkan para nabi, bila Mesias datang. Sayangnya orang Farisi tetap menolak untuk percaya.<br \/>\nPikiran mereka yang negatif, merasa hebat sendiri, cemburu dan iri hati, sikap tidak menghargai orang yang bukan dari kalangannya, semuanya itu telah menutup mata mereka terhadap karya Allah yang Yesus lakukan.<br \/>\nBeriman butuh kerendahan hati dan keterbukaan terhadap segala sesuatu yang baru yang Tuhan kerjakan. Tak perlu menuntut bukti untuk percaya bahwa Allah hidup dan berkarya di tengah kita.<br \/>\nBerita Injil dan kesaksian semua orang percaya dari masa ke masa, kiranya menjadi bagian dari pengalaman kita sendiri betapa Allah hadir dalam diri Yesus yang selalu siap sedia menemani kita berjalan mengarungi hidup ini, terutama di tengah badai dan gelombang kehidupan.<br \/>\nTerbitnya mentari pagi kiranya menjadi tanda kesetiaan Allah untuk menyapa kita selalu melalui alam semesta. Perjumpaan dengan saudara-saudari kita adalah tanda hadirnya Yesus yang tak pernah meninggalkan kita. Bisikan di hati dan pikiran untuk berdoa dan bersyukur, serta dorongan untuk membaca dan merenungkan firmanNya, semuanya adalah tanda hadirnya Roh Kudus yang diutus Yesus menemani kita setiap hari.<br \/>\nBerbahagialah kita karena dapat melihat dan membaca dengan iman tanda-tanda kehadiran Tuhan dan kasih sayangNya yang setia menemani kita.<\/p>\n<p>Semangat Senin! Sambutlah mentari pagi sebagai senyuman Allah menemani kita berjalan bersama Yesus dan sesama saudara kita di pekan yang baru ini.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 17 Feb 2025<br \/>\nSenin Pekan Biasa VI<br \/>\nPF Tujuh Saudara Suci Pendiri Tarekat Hamba-Hamba SP Maria<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 14:6<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 8:11-13<br \/>\n**************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 14:6<br \/>\nAku ini jalan, kebenaran dan kehidupan, sabda Tuhan.<br \/>\nTiada orang dapat sampai kepada Bapa tanpa melalui Aku.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 8:11-13<br \/>\nMengapa angkatan ini meminta tanda?<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa datanglah orang-orang Farisi<br \/>\ndan bersoal jawab dengan Yesus.<br \/>\nUntuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya<br \/>\nsuatu tanda dari surga.<br \/>\nMaka mengeluhlah Yesus dalam hati dan berkata,<br \/>\n&#8220;Mengapa angkatan ini meminta tanda?<br \/>\nAku berkata kepadamu,<br \/>\nSungguh,<br \/>\nkepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.&#8221;<br \/>\nLalu Yesus meninggalkan mereka.<br \/>\nIa naik ke perahu dan bertolak ke seberang.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201dMengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.\u201d (Mrk 8: 12)<\/p>\n<p>Yesus menolak untuk memberikan tanda \u2013 penyembuhan atau mukjizat \u2013 bagi para Farisi. Yesus tidak hanya menolak untuk memberikan tanda. Ia juga mengeluh dan kemudian naik perahu dan meninggalkan mereka. Semuanya menunjukkan betapa Ia kecewa.<\/p>\n<p>Narasi Injil hari ini membawa kita pada permenungan:<\/p>\n<p>* Pentingnya kepercayaan dan respek. Yesus, sungguh Allah dan sungguh manusia, merasa sedih dan kecewa karena para Farisi dan para pemimpin Yahudi benar-benar keras kepala. Jika mereka mencari tanda\/mukjizat sebagai bukti misi Yesus sebagai Mesias, mereka harusnya sudah melihat betapa banyak tanda yang telah dikerjakan oleh Yesus. Nampaknya, apapun yang dikerjakan Yesus, mereka tidak percaya bahwa Ia adalah Sang Mesias. Maka tidak ada gunanya mengerjakan tanda bagi mereka. Para Farisi tidak percaya dan tidak memiliki rasa hormat kepada-Nya. Bebal.<br \/>\n* Allah menginginkan yang normal. Para Farisi, seperti kita juga, mengharapkan Allah selalu mengerjakan yang luar biasa dan spektakuler dalam menyatakan diri-Nya. Itulah logika di belakang kepala mereka. Allah itu harus \u201ctidak normal\u201d. Akan tetapi, misteri Inkarnasi menyatakan kepada kita bahwa Yesus, Putera Allah menjadi sama dengan kita \u2013 kecuali dalam hal dosa. Maka, temukan Allah dalam hal-hal dan peristiwa-peristiwa yang biasa. Melalui hidup keseharian kita yang biasa kita dapat menemukan peyelenggaraan dan cinta-Nya. Alam semesta diciptakan oleh Allah, maka hukum alam mencerminkan juga hukum Allah.<\/p>\n<p>Dalam usaha kita menemukan Allah dalam segala hal, kita jumpai saat-saat kudus dalam kehidupan sehari-hari &#8211; kesempatan penuh rahmat untuk bertemu dengan Tuhan dalam alam, dalam relasi kita, segala karya kita, kisah hidup kita sendiri, dan dalam kisah orang-orang di sekitar kita. Dalam saat-saat kudus ini, kita menyadari keterhubungan kita dengan Tuhan dan bagaimana kita dipanggil untuk berpartisipasi dalam transformasi dunia baik dalam hal besar maupun kecil.<\/p>\n<p>Tuhan Yesus, semoga aku selalu mengenali kehadiran-Mu yang menyelamatkan dalam hidup keseharianku dan tidak pernah melupakan janji-Mu saat aku menghadapi cobaan dan kesulitan. Beri aku iman yang tak pernah goyah, harapan yang tak pernah pudar, dan cinta yang tak menjadi dingin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas di pekan yang baru. Temukan kehadiran-Nya di sekitar anda. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"gRIiznn1MG\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/tanda-cinta-nya\/\">TANDA CINTA-NYA<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;TANDA CINTA-NYA&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/tanda-cinta-nya\/embed\/#?secret=luiLI8Q3ER#?secret=gRIiznn1MG\" data-secret=\"gRIiznn1MG\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Senin 17 Februari 2025 Markus 8:11 (Mrk 8:11-13) Lalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga. Membaca Tanda Dari Surga&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-72310","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/72310","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=72310"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/72310\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":72311,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/72310\/revisions\/72311"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=72310"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=72310"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=72310"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}