{"id":72270,"date":"2025-02-16T12:07:09","date_gmt":"2025-02-16T05:07:09","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=72270"},"modified":"2025-02-16T12:07:17","modified_gmt":"2025-02-16T05:07:17","slug":"senin-17-februari-2025","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=72270","title":{"rendered":"Senin, 17 Februari 2025"},"content":{"rendered":"\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ANTIFON PEMBUKA&nbsp; \u2014 Maz. 50:14a.15\u2063<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Persembahkanlah puji syukur sebagai kurban kepada Allah! Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan dikau dan engkau memuliakan Daku.\u2063\u2063<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>PENGANTAR\u2063:&nbsp;<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Orang sering membandingkan diri dengan sesama. Maka timbullah iri hati, persaingan dan kebencian. Kebalikannya ialah sikap iman dan \u2018nrimo\u2019 seperti tampak pada Kristus. Ia juga merupakan satu-satunya tanda bagi kita. Kita pun ingin mohon tanda agar mereka merasa, bahwa kitalah yang baik. Tetapi tanda itu takkan kita peroleh.\u2063\u2063<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA KOLEKTAN:&nbsp;<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah berdoa: Allah Bapa Maharahim, semoga kami semakin mengenal diri kami. Ajarilah kami saling membimbing dan mengasuh, sebagaimana putra dan putri se-Bapa, yang menyayangi umat ciptaan-Nya. Demi Yesus Kristus Putra-Mu, Tuhan dan pengantara kami,\u2026.\u2063\u2063<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BACAAN PERTAMA: Pembacaan dari Kitab Kejadian 4:1-15.25<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong><em>\u201cKain memukul Habel, adiknya, lalu membunuh dia.\u201d<\/em><\/strong><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Adam menghampiri Hawa, isterinya. Maka mengandunglah wanita itu, lalu melahirkan Kain; dan Hawa berkata, \u201cAku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan Tuhan.\u201d Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain. Habel menjadi gembala kambing domba, sedang Kain menjadi petani. Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada Tuhan sebagai kurban persembahan. Habel juga mempersembahkan kurban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya. Maka Tuhan mengindahkan Habel dan kurban persembahannya itu. Tetapi Kain dan kurban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. Sabda Tuhan kepada Kain, \u201cMengapa hatimu panas dan mukamu muram? Masakan mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu. Dosa itu sangat menggoda engkau tetapi engkau harus berkuasa atasnya.\u201d Pada suatu hari Kain berkata kepada Habel, adiknya, \u201cMarilah kita pergi ke padang.\u201d Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. Sabda Tuhan kepada Kain, \u201cDi mana Habel adikmu itu?\u201d Jawab Kain, \u201cAku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?\u201d Sabda Tuhan pula, \u201cApakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah. Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. Apabila engkau mengusahakan tanah, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu. Engkau akan menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi.\u201d Berkatalah Kain kepada Tuhan, \u201cHukumanku itu lebih besar daripada yang dapat kutanggung. Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapan-Mu, seorang pelarian dan pengembara di bumi. Barangsiapa bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku.\u201d Sabda Tuhan kepadanya, \u201cSekali-kali tidak! Barangsiapa membunuh Kain, ia akan dibalas tujuh kali lipat.\u201d Kemudian Tuhan menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh siapa pun yang bertemu dengan dia. Adam menghampiri pula isterinya. Lalu wanita itu melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamainya Set, sebab katanya, \u201c Allah telah mengaruniakan kepadaku anak yang lain sebagai ganti Habel; sebab Kain telah membunuhnya.\u201d<br>Demikianlah sabda Tuhan.<br>U. Syukur kepada Allah.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 50:1.8.16bc-17.20-21<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>Ref. Persembahkanlah puji syukur kepada Allah sebagai kurban.<\/strong><\/em><\/h3>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Yang Mahakuasa, Tuhan Allah, berfirman dan memanggil bumi, dari terbitnya matahari sampai kepada terbenamnya. Bukan karena kurban sembelihan engkau Kuhukum, sebab kurban bakaranmu senantiasa ada di hadapan-Ku.<\/li>\n\n\n\n<li>\u201dApakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu, padahal engkau membenci teguran dan mengesampingkan firman-Ku?<\/li>\n\n\n\n<li>Engkau duduk, dan menjelek-jelekkan saudaramu, engkau memfitnah saudara kandungmu. Itulah yang engkau lakukan! Apakah Aku akan diam saja? Apakah kaukira Aku ini sederajat dengan kamu? Aku menggugat engkau dan ingin berperkara denganmu.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">BAIT PENGANTAR INJIL:&nbsp;<\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">U : Alleluya<br>S : (Yoh 14:6) Aku ini jalan, kebenaran, dan kehidupan, sabda Tuhan. Tiada orang dapat sampai kepada Bapa tanpa melalui Aku. Alleluya.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus 8:11-13<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong><em>\u201cMengapa angkatan ini meminta tanda?\u201d<\/em><\/strong><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Sekali peristiwa datanglah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari surga. Maka mengeluhlah Yesus dalam hati dan berkata, \u201cMengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, \u201cSungguh, kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberikan tanda.\u201d Lalu Yesus meninggalkan mereka. Ia naik ke perahu dan bertolak ke seberang.<br>Demikianlah Injil Tuhan<br>U. Terpujilah Kristus.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Agustinus Guntoro SCJ<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria.<\/strong><\/em><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Para sabahat dimana pun Anda berada, saya, Agustinus Guntoro, SCJ dari Kota Roma, menyapa dan mengundang Anda untuk sejenak merenung bersama RESI (Renungan Singkat) Dehonian, hari ini, tanggal 17 Februari 2025, dengan judul: \u201cEh\u2026 Yesus ternyata bisa bete juga ya!\u201d<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Para sahabatku yang terkasih, pernah nggak kalian merasa kesal sama orang yang nggak ngerti-ngerti juga? Misalnya, kalian sudah jelasin sesuatu dengan sabar, tapi dia tetap aja nggak percaya. Rasanya pengen garuk-garuk tembok, kan?<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Nah, di Injil Markus 8:11-13, Yesus mengalami hal serupa. Orang-orang Farisi datang dan minta tanda dari surga. Padahal, kalau kita pikir-pikir, Yesus sudah kasih banyak tanda! Dia nyembuhin orang sakit, bikin orang buta melihat, bahkan memberi makan ribuan orang dengan beberapa roti dan ikan. Tapi mereka masih aja ngeyel!<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Lalu apa reaksi Yesus? Di ayat 12 dinyatakan, \u201cIa mengeluh dalam hati-Nya.\u201d Nah, ini bahasa Alkitab yang sopan. Kalau bahasa kita mungkin bisa dibilang, \u201cYesus tuh bete!\u201d Sampai-sampai Dia bilang, \u201cTidak akan diberikan tanda kepada angkatan ini!\u201d Lalu, Dia langsung pergi, naik perahu, dan meninggalkan mereka.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Sahabatku, ketika Yesus mengeluh dalam hati-Nya, kita bisa melihat betapa besar kasih-Nya kepada umat manusia. Kasih Tuhan itu tidak terbatas dan terus-menerus hadir dalam hidup kita. Dalam spiritualitas Hati Kudus Yesus, kita diajak untuk memahami bahwa kasih Tuhan sangat besar, bahkan ketika kita sering tidak peka terhadap tanda-tanda yang Dia berikan.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Pelajaran buat kita? Jangan jadi orang yang keras kepala seperti Farisi. Kadang kita juga suka minta \u201ctanda\u201d dari Tuhan: \u201cTuhan, kalau Engkau benar-benar sayang aku, kasih aku jodoh dalam waktu 24 jam!\u201d atau \u201cKalau Engkau memang ada, besok pagi aku bangun langsung jadi sultan.\u201d<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Padahal, Tuhan itu sudah kasih banyak tanda dalam hidup kita: kesehatan, keluarga, makanan di meja, dan bahkan nafas yang kita hirup sekarang. Kasih Tuhan itu seperti Hati Kudus-Nya yang penuh sabar, pengertian, dan tidak mudah kecewa meskipun kita sering lalai. Jangan sampai Tuhan jadi \u201cbete\u201d sama kita karena kita nggak sadar betapa besar kasih-Nya.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Para sahabatku yang terkasih, semoga Hati Kudus Yesus semakin merajai hati kita, agar kita lebih peka! Jangan nunggu tanda-tanda aja, tapi belajar untuk percaya dan bersyukur! Mari kita juga belajar mengasihi sesama dengan penuh kesabaran, seperti Hati Kudus Yesus yang selalu mengasihi kita. Amin! &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;&nbsp;<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN\u2063:&nbsp;<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Allah Bapa mahabaik, semoga Engkau berkenan menerima persembahan syukur ini sebagaimana Engkau menerima persembahan Habel, dan semoga kami Kaujadikan orang yang selalu berkenan di hati-Mu. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami.\u2063<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ANTIFON KOMUNI&nbsp; \u2014 Kejadian 4:6 7\u2063<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Masakan mukamu tidak berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, maka dosa sudah mengintip di depan pintu.\u2063<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA SESUDAH KOMUNI:&nbsp;<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah berdoa: Allah Bapa mahabaik,\u2063 Engkau telah memberikan tanda sekali untuk selamanya,ialah Yesus Kristus Putra-Mu. Berkenanlah membuka mata dan telinga kami, agar kami dapat belajar mendengarkan sabda-Nya dan menyaksikan teladan-Nya. Sebab Dialah Tuhan dan pengantara kami.<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Resi-Senin-17-Februari-2025-oleh-Rm.-Agustinus-Guntoro-SCJ-dari-Komunitas-Generalat-SCJ-Roma-Italia.mp3\">Resi-Senin 17 Februari 2025 oleh Rm. Agustinus Guntoro SCJ dari Komunitas Generalat SCJ Roma \u2013 Italia<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sumber <a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/2025\/02\/15\/senin-17-februari-2025-hari-biasa-pekan-vi\/\">https:\/\/resi.dehonian.or.id\/2025\/02\/15\/senin-17-februari-2025-hari-biasa-pekan-vi\/<\/a><\/p>\n\n\n\n<figure><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/katolikindonesia.org\/?powerpress_pinw=72270-podcast&amp;powerpress_player=default\" width=\"320\" height=\"50\"><\/iframe><\/figure>\n<div class=\"powerpress_player\" id=\"powerpress_player_991\"><audio class=\"wp-audio-shortcode\" id=\"audio-72270-1\" preload=\"none\" style=\"width: 100%;\" controls=\"controls\"><source type=\"audio\/mpeg\" src=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Resi-Senin-17-Februari-2025-oleh-Rm.-Agustinus-Guntoro-SCJ-dari-Komunitas-Generalat-SCJ-Roma-Italia.mp3?_=1\" \/><a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Resi-Senin-17-Februari-2025-oleh-Rm.-Agustinus-Guntoro-SCJ-dari-Komunitas-Generalat-SCJ-Roma-Italia.mp3\">https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Resi-Senin-17-Februari-2025-oleh-Rm.-Agustinus-Guntoro-SCJ-dari-Komunitas-Generalat-SCJ-Roma-Italia.mp3<\/a><\/audio><\/div><p class=\"powerpress_links powerpress_links_mp3\" style=\"margin-bottom: 1px !important;\">Podcast: <a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Resi-Senin-17-Februari-2025-oleh-Rm.-Agustinus-Guntoro-SCJ-dari-Komunitas-Generalat-SCJ-Roma-Italia.mp3\" class=\"powerpress_link_pinw\" target=\"_blank\" title=\"Play in new window\" onclick=\"return powerpress_pinw('https:\/\/katolikindonesia.org\/?powerpress_pinw=72270-podcast');\" rel=\"nofollow\">Play in new window<\/a> | <a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Resi-Senin-17-Februari-2025-oleh-Rm.-Agustinus-Guntoro-SCJ-dari-Komunitas-Generalat-SCJ-Roma-Italia.mp3\" class=\"powerpress_link_d\" title=\"Download\" rel=\"nofollow\" download=\"Resi-Senin-17-Februari-2025-oleh-Rm.-Agustinus-Guntoro-SCJ-dari-Komunitas-Generalat-SCJ-Roma-Italia.mp3\">Download<\/a><\/p><!--powerpress_player-->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ANTIFON PEMBUKA&nbsp; \u2014 Maz. 50:14a.15\u2063 Persembahkanlah puji syukur sebagai kurban kepada Allah! Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan dikau dan engkau memuliakan Daku.\u2063\u2063 PENGANTAR\u2063:&nbsp; Orang sering membandingkan diri dengan sesama. Maka timbullah&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"audio","meta":{"footnotes":""},"categories":[18,1,20],"tags":[],"class_list":["post-72270","post","type-post","status-publish","format-audio","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan-audio","category-bacaan-harian","category-renungan-text","post_format-post-format-audio"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/72270","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=72270"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/72270\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":72272,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/72270\/revisions\/72272"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=72270"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=72270"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=72270"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}