{"id":72262,"date":"2025-02-16T09:58:21","date_gmt":"2025-02-16T02:58:21","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=72262"},"modified":"2025-02-16T09:58:21","modified_gmt":"2025-02-16T02:58:21","slug":"minggu-16-februari-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=72262","title":{"rendered":"Minggu, 16 Februari 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nMinggu 16 Februari 2025<br \/>\nLuk 6:20-21 (Luk 6: 17, 20-26)<br \/>\n\u201dBerbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.\u201d<\/p>\n<p>Miskin Koq Bahagia<\/p>\n<p>Dalam kotbah di bukit, Yesus menyebut bahagia orang-orang yang justru oleh dunia masuk dalam kalangan orang-orang yang tidak bahagia. Itulah orang-orang yang miskin, lapar dan sedang menangis. Bagaimana mungkin orang bahagia bila ia hidup dalam situasi yang tidak menyenangkan atau yang menyedihkan?<br \/>\nMari kita simak alasan mengapa Yesus menyebut orang-orang susah ini bahagia! Yesus berkata \u201dmerekalah yang empunya Kerajaan Allah.\u201d Mereka punya Allah dan segala anugerahNya. Allah menjadi bagi kita kekayaan ilahi yang tak terkirakan, sukacita iman yang tak terkatakan, kebahagiaan hidup yang tak akan pernah dapat diambil dari kita.<br \/>\nMemiliki Tuhan dan hidup dalam naungan kasihNya adalah segalanya, karena Tuhanlah sumber sukacita kita. Siapapun atau situasi apapun tak akan dapat merebut kebahagiaan kita karena Tuhan sendirilah pokok kebahagiaan kita. Dia-lah sumber segala berkat kehidupan.<br \/>\nKeyakinan inilah yang kiranya tertanam dalam hati, terus kita hidupi dan selalu disyukuri. Oleh iman yang pasti ini kita akan selalu mampu melihat tangan Tuhan tempat kita berpegang dan hatiNya penuh cinta tempat kita bersandar.<br \/>\nJangan biarkan kemiskinan dan kelaparan, duka dan luka di hati, kegagalan dan kejatuhan, merenggut kebahagiaan kita. Yesus yang mengucapkan sabda bahagia ini, Dia-lah segalanya bagi kita dan alasan kita untuk berbahagia. Seperti kata Pemazmur, \u201cTuhan-lah Gembalaku, aku tak akan berkekurangan.\u201d<br \/>\nSemua yang kita miliki akan pergi dan berlalu, tapi Tuhan Yesus akan terus ada di hati. Ia tetap sama, dahulu sekarang dan selamanya, memenuhi semua kerinduan hati kita.<\/p>\n<p>Selamat berbahagia oleh pujian syukur kita kepada Tuhan di hari Minggu ini.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 16 Feb 2025<br \/>\nMinggu Pekan Biasa VI<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Luk 6:23ab<br \/>\nBacaan Injil: Luk 6:17.20-26<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nLuk 6:23ab<br \/>\nBersukacita dan bergembiralah, sabta Tuhan,<br \/>\nsebab besarlah ganjaranmu di surga.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 6:17.20-26<br \/>\nBerbahagialah hai kamu yang miskin.<br \/>\nTetapi celakalah kamu, hai orang kaya.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa<br \/>\nYesus turun dari sebuah bukit<br \/>\nbersama dengan kedua belas rasul,<br \/>\ndan berhenti pada suatu tempat yang datar.<br \/>\nDi situ berkumpul sejumlah besar murid-murid-Nya<br \/>\ndan banyak orang lain<br \/>\nyang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem,<br \/>\ndan dari daerah pantai Tirus dan Sidon.<br \/>\nLalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata,<br \/>\n&#8220;Berbahagialah, hai kamu yang miskin,<br \/>\nkarena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.<br \/>\nBerbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar,<br \/>\nkarena kamu akan dipuaskan.<br \/>\nBerbahagialah, hai kamu yang kini menangis,<br \/>\nkarena kamu akan tertawa.<br \/>\nBerbahagialah kamu, bila demi Anak Manusia kamu dibenci,<br \/>\ndikucilkan dan dicela serta ditolak;<br \/>\nbersukacitalah dan bergembiralah pada waktu itu,<br \/>\nsebab sesungguhnya besarlah ganjaranmu di surga.<br \/>\nKarena secara itu pula<br \/>\nnenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.<br \/>\nTetapi celakalah kamu, hai orang kaya,<br \/>\nkarena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburan.<br \/>\nCelakalah kamu yang kini kenyang,<br \/>\nkarena kamu akan lapar.<br \/>\nCelakalah kamu yang kini tertawa,<br \/>\nkarena kamu akan berdukacita dan menangis.<br \/>\nCelakalah kamu, jika semua orang memuji kamu,<br \/>\nkarena secara itu pula<br \/>\nnenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cBerbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu,dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.\u201d (Luk 6: 20 \u2013 23)<\/p>\n<p>Adakah yang ingin miskin, lapar, menangis dan dibenci? Pasti tidak ada! Siapakah yang ingin kaya, kenyang, tertawa dan dipuji? Tentu banyak atau bahkan semua menginginkannya. Siapa sih yang ingin hidup miskin, lapar, menangis dan dibenci? Tetapi Yesus dalam Injil hari ini malahan mengatakan: \u201cBerbahagialah (terberkatilah) yang miskin, lapar, menangis dan dibenci! Bahkan Ia melanjutkan, \u201cCelakalah kamu yang kaya, kenyang, tertawa dan dipuji!\u201d Jadi apa maksudnya? Apakah Lukas ingin mengatakan bahwa Tuhan menginginkan kita ini miskin dan tidak menginginkan kita kaya? Tentu saja tidak!<\/p>\n<p>Kunci dari Sabda Bahagia menurut Lukas dapat ditemukan dalam bagian yang mengatakan bahwa semuanya itu \u201cKARENA ANAK MANUSIA\u201d. Yang ingin dikatakan oleh Lukas adalah, mereka yang menerima untuk mengalami hal-hal buruk itu, sebagai konsekuensi dari mengikuti Kristus, mereka sungguh-sungguh bahagia dan terberkati.<\/p>\n<p>Sahabat-sahabat, Yesus sendiri pernah berkata: \u201cAku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan,\u201d (Yoh 10: 10). Ia memanggil kita pada kehidupan yang penuh:<\/p>\n<p>* Hidup yang berfokus pada mengikuti Tuhan kita Yesus Kristus.<br \/>\n* Hidup yang melibatkan hal-hal penting &#8211; seperti kasih pengampunan, kebaikan, belas kasihan, kejujuran &#8230;.<br \/>\n* Hidup dengan kebijaksanaan yang tidak biasa di mana hanya kekayaan jiwa kita dan isi hati kita yang diperhitungkan\u2026.<\/p>\n<p>Kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu! (Ul 3: 19)<\/p>\n<p>Tuhan, berilah kami keberanian untuk menaruh semua kepercayaan dan pengharapan kami kepada-Mu, agar kami dapat mengikuti-Mu, dengan sadar dan sukarela di jalan kesetiaan dan kemiskinan-Mu, sehingga kami dapat mencapai kebahagiaan kekal bersama-Mu.<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu. Jadilah orang-orang yang terberkati! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"7evB04kvkc\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/miskin-tetapi-bahagia\/\">MISKIN TETAPI BAHAGIA?<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;MISKIN TETAPI BAHAGIA?&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/miskin-tetapi-bahagia\/embed\/#?secret=mQBrZiIZip#?secret=7evB04kvkc\" data-secret=\"7evB04kvkc\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Minggu 16 Februari 2025 Luk 6:20-21 (Luk 6: 17, 20-26) \u201dBerbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-72262","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/72262","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=72262"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/72262\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":72263,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/72262\/revisions\/72263"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=72262"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=72262"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=72262"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}