{"id":72120,"date":"2025-02-14T09:33:22","date_gmt":"2025-02-14T02:33:22","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=72120"},"modified":"2025-02-14T09:33:22","modified_gmt":"2025-02-14T02:33:22","slug":"jumat-14-februari-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=72120","title":{"rendered":"Jumat, 14 Februari 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nJumat 14 Februari 2025<br \/>\nPeringatan St Sirilus dan Metodius<br \/>\nMarkus 7:37 (Mrk 7:31-37)<br \/>\nMereka takjub dan tercengang dan berkata: &#8220;Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.&#8221;<\/p>\n<p>Karunia Takjub Dan Heran<\/p>\n<p>Adalah tantangan yang sangat besar bagi kita di zaman digital dan modern ini \u201cApakah kita masih merasa takjub dan heran akan pekerjaan-pekerjaan Tuhan?\u201d<br \/>\nDi era ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini segala sesuatunya seakan sudah terjawab secara ilmiah oleh kemajuan akal budi manusia, sehingga rasa takjub dan heran akan karya Allah yang mengagumkan seakan hilang dari kehidupan orang beriman.<br \/>\nTidak ada lagi \u201camazing grace\u201d karena semua bisa dijelaskan, semua bisa dilakukan manusia. Semuanya biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa. Tempat Tuhan semakin tidak kelihatan dan tersingkirkan dari hidup manusia. Apalagi dengan hadirnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sudah tak ada lagi yang tak terjangkau oleh kehebatan manusia.<br \/>\nJumlah orang yang tidak peduli lagi dengan Tuhan, yang tidak tergerak lagi untuk bersyukur dan datang ke gereja semakin bertambah. Mujizat dan keajaiban Tuhan sudah menjadi masa lalu. Semuanya itu hanyalah terjadi di zaman Yesus tempo dulu.<br \/>\nIngatlah bahwa Yesus tetap sama, dahulu, sekrang dan selamanya (Ibrani 13:8). Maka sesungguhnya rasa takjub, kagum dan heran adalah anugerah iman. Itulah sebabnya Yesus meminta kita beriman seperti anak kecil. Anak kecil selalu kagum akan begitu banyak hal baru yang mencengangkan dia. Oleh karena itu jangan pernah menekan rasa kagum yang muncul dalam diri kita atas apa yang dilakukan Tuhan bagi kita. Kagumilah selalu semua karya Tuhan, bahkan pada apa yang nampak kecil dan sederhana.<br \/>\n\u201dYa Yesusku Engkau sungguh luar biasa. Engkau mengangkat aku yang lemah dan rapuh ini, membuatku mendengar dan melihat keagungan karya Allah. Beri aku hati yang kagum, heran dan takjub atas semua yang Kau lakukan bagiku. Engkau sungguh mencintaiku apa adanya. Terimakasih Tuhan.\u201d<\/p>\n<p>Amazing grace! Happy Valentine! Kagumilah kasih Tuhan setiap hari dalam setiap cinta Tuhan yang kita terima dan kita selalu bagikan.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 14 Feb 2025<br \/>\nJumat Pekan Biasa V<br \/>\nPW S. Sirilus, Rahib, dan Metodius, Uskup<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Kis 16:14b<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 7:31-37<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nKis 16:14b<br \/>\nYa Allah, bukalah hati kami,<br \/>\nagar kami memperhatikan sabda Anak-Mu.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 7:31-37<br \/>\nYang tuli dijadikan-Nya mendengar,<br \/>\nyang bisu dijadikan-Nya bicara.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Pada waktu itu Yesus meninggalkan daerah Tirus,<br \/>\ndan lewat Sidon pergi ke Danau Galilea,<br \/>\ndi tengah-tengah daerah Dekapolis.<br \/>\nDi situ orang membawa kepada-Nya seorang tuli dan gagap<br \/>\ndan memohon supaya Yesus meletakkan tangan-Nya atas orang itu.<br \/>\nMaka Yesus memisahkan dia dari orang banyak,<br \/>\nsehingga mereka sendirian.<br \/>\nKemudian Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu,<br \/>\nlalu meludah dan meraba lidah orang itu.<br \/>\nKemudian sambil menengadah ke langit<br \/>\nYesus menarik nafas dan berkata kepadanya,<br \/>\n&#8220;Effata!&#8221;, artinya: Terbukalah!<br \/>\nMaka terbukalah telinga orang itu<br \/>\ndan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya,<br \/>\nlalu ia berkata-kata dengan baik.<br \/>\nYesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ<br \/>\nsupaya jangan menceriterakannya kepada siapa pun juga.<br \/>\nTetapi makin dilarang-Nya mereka,<br \/>\nmakin luas mereka memberitakannya.<br \/>\nMereka takjub dan tercengang dan berkata,<br \/>\n&#8220;Ia menjadikan segala-galanya baik!<br \/>\nYang tuli dijadikan-Nya mendengar,<br \/>\nyang bisu dijadikan-Nya berbicara.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cIa memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: &#8220;Efata!&#8221;, artinya: Terbukalah!\u201d (Mrk 7: 33 \u2013 34).<\/p>\n<p>Bacaan Injil hari ini menggambarkan bagaimana Yesus menyembuhkan seorang yang tuli dan gagap. Orang tuli dan bisu\/gagap ini adalah gambaran manusia pada umumnya. Karena menjadi tuli dan dengan demikian tidak dapat mendengarkan suara dan kata-kata maka seseorang tidak dapat belajar membuat suara dan kata-kata, dan orang itu menjadi bisu\/gagap. Inilah kondisi manusia yang tuli terhadap Firman Tuhan; ketidakmampuan mereka untuk mengerti, memahami, dan menerima Firman, dan dengan demikian ia memiliki ketidakmampuan untuk berkomunikasi, untuk berbicara tentang Firman yang telah diterimanya.<\/p>\n<p>\u201cEfata!\u201d kata yang Yesus ucapkan dengan tegas: \u201cBukalah!\u201d. Ada seorang yang tertutup, dan Yesus memberikan perintah kepadanya: \u201cBukalah.\u201d<\/p>\n<p>Dia memerintahkan orang ini, yang menutup diri, untuk membuka diri. Telinganya terbuka, pengikat lidahnya terlepas. Ini adalah gambaran yang nampak konyol. Orang itu memiliki lidah yang terikat. Kata-kata Yesus melepaskannya. Ritus ini dipertahankan dalam perayaan pembaptisan dan kita terus melakukannya sekarang. Setelah pengurapan, pemakaian pakaian\/kain putih, pemberian lilin bernyala, imam atau pembaptis lainnya menyentuh telinga dan mulut orang yang dibaptis, sambil berkata: &#8220;Engkau telah membuka mulut dan telinga orang-orang bisu-tuli, maka sudilah membuka mulut dan telinga anak ini agar ia dapat mendengarkan Sabda-Mu dan mengakui imannya demi keselamatan manusia serta kemuliaan-Mu.\u201d<\/p>\n<p>Dengarkanlah dan akuilah. Dengarkanlah Firman dan akuilah iman. Inilah rencana perjalanannya, program hidupnya. Orang bisu-tuli ini menjadi prototipe dari orang yang mengikuti masa persiapan untuk menerima baptisan, terbuka untuk mendengarkan Firman dan terbuka untuk mewartakan imannya. Sesungguhnya, perlulah Tuhan terus membisikkan perintah ini ke dalam hidup kita, \u201cEfata\u201d, sehingga kita menjadi terbuka terhadap Firman-Nya dan mewartakan iman kita.<\/p>\n<p>Tuhan, bukalah telinga dan lepaskan kekeluan lidah kami, agar kami mendengar Sabda-Mu dan mewartakannya, agar kami mendengar suara mereka yang terpinggirkan dan mampu menyuarakan mereka yang tak mampu menyuarakan kebutuhan mereka akan kasih dan keadilan. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Happy Valentine\u2019s Day! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764\ufe0f<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"JmPyqLqcqV\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/efata-bukalah\/\">EFATA, BUKALAH!<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;EFATA, BUKALAH!&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/efata-bukalah\/embed\/#?secret=HdGO1xYgQy#?secret=JmPyqLqcqV\" data-secret=\"JmPyqLqcqV\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Jumat 14 Februari 2025 Peringatan St Sirilus dan Metodius Markus 7:37 (Mrk 7:31-37) Mereka takjub dan tercengang dan berkata: &#8220;Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.&#8221; Karunia&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-72120","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/72120","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=72120"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/72120\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":72121,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/72120\/revisions\/72121"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=72120"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=72120"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=72120"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}