{"id":71140,"date":"2025-01-29T10:36:59","date_gmt":"2025-01-29T03:36:59","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=71140"},"modified":"2025-01-29T10:36:59","modified_gmt":"2025-01-29T03:36:59","slug":"rabu-29-januari-2025","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=71140","title":{"rendered":"Rabu, 29 Januari 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nRabu 29 Januari 2025<br \/>\nTahun Baru Imlek<br \/>\nMarkus 4:3-4 (Mrk 4:1-20)<br \/>\n\u201dDengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis\u2026\u201d<\/p>\n<p>Semua Mendapat Berkat<\/p>\n<p>Yesus menggambarkan Allah Bapa sebagai seorang penabur. Tapi anehnya, si Penabur ini kelihatan bukan ahli dalam memilih tempat untuk menabur. Bukankah Ia harus memilih tanah yang baik baru benih ditabur? Mengapa sampai ada benih yang jatuh di pinggir jalan, di tanah yang berbatu, bahkan di tengah semak berduri?<br \/>\nKalau kita simak lebih dalam, ternyata apa yang aneh dan ganjil dalam sebuah perumpamaan Yesus, di situlah justru letak pesan perumpamaan itu, yakni keistimewaan Allah kita yang bertindak jauh melampaui daya nalar dan kebiasaan manusia.<br \/>\nBerbeda dengan kita, Allah tidak membeda-bedakan anak-anakNya. Allah menabur benih sabdaNya kepada semua orang tanpa peduli jenis karakternya, apakah ia orang baik atau tidak, pandai atau bodoh, kaya atau miskin, tua atau muda, dari mana ia berasal. Sama halnya hujan tidak jatuh hanya bagi orang baik, dan matahari tidak bersinar hanya bagi orang suci.<br \/>\nSiapapun kita, benih kasih Allah terus dianugerahkan. Mari terus benahi diri, mengolah budi dan hati, membersihkan hati, menyingkirkan kerikil-kerikil yang mengganjal relasi, mengeluarkan duri-duri dosa, bekerjasama dengan rahmat Allah agar hati kita menjadi tanah yang subur untuk tempat benih Firman dan kasih Allah ditabur, dan kita dapat berakar, bertumbuh dan berbuah, di tempat di mana kita ditanam.<br \/>\nTak perlu menyesali diri dan melihat apa yang kurang dalam diri kita. Tak perlu juga membedakan diri dengan berkat yang diterima orang lain. Mari mengandalkan Tuhan, dan terus menyadari bahwa tanpa rahmat dan belas kasih Allah, kita tak berdaya apa-apa.<\/p>\n<p>Selamat Hari Baru. Selamat Tahun Baru. Bahagianya kita semua diberkati Tuhan dengan hidup baru. Gong Xi Fa Cai, Selamat dan Sejahtera dalam Tuhan.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 29 Jan 2025<br \/>\nRabu Pekan Biasa III<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 4:1-20<br \/>\n*************<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 4:1-20<br \/>\nSeorang penabur keluar untuk menabur.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Pada suatu hari Yesus mengajar di tepi danau Galilea.<br \/>\nMaka datanglah orang yang sangat besar jumlahnya<br \/>\nmengerumuni Dia,<br \/>\nsehingga Ia terpaksa naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh,<br \/>\nlalu duduk di situ,<br \/>\nsedangkan semua orang banyak itu ada di darat,<br \/>\ndi tepi danau itu.<br \/>\nDan Yesus mengajarkan banyak hal kepada mereka<br \/>\ndalam bentuk perumpamaan.<br \/>\nDalam ajaran-Nya itu Yesus berkata kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Dengarlah! Ada seorang penabur keluar untuk menabur.<br \/>\nPada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan,<br \/>\nlalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.<br \/>\nSebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu,<br \/>\nyang tidak banyak tanahnya,<br \/>\nlalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.<br \/>\nTetapi sesudah matahari terbit,<br \/>\nlayulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.<br \/>\nSebagian lagi jatuh di tengah semak duri,<br \/>\nlalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati,<br \/>\nsehingga benih itu tidak berbuah.<br \/>\nDan sebagian jatuh di tanah yang baik,<br \/>\nlalu tumbuh dengan subur dan berbuah,<br \/>\nhasilnya ada yang tiga puluh kali lipat,<br \/>\nada yang enam puluh kali lipat,<br \/>\nada yang seratus kali lipat.&#8221;<br \/>\nDan Yesus bersabda lagi,<br \/>\n&#8220;Siapa mempunyai telinga untuk mendengar,<br \/>\nhendaklah ia mendengar!&#8221;<br \/>\nKetika Yesus sendirian,<br \/>\npengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid<br \/>\nmenanyakan arti perumpamaan itu.<br \/>\nJawab-Nya, &#8220;Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah,<br \/>\ntetapi kepada orang-orang luar<br \/>\nsegala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan,<br \/>\nsupaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menangkap,<br \/>\nsekalipun mendengar, mereka tidak mengerti,<br \/>\nbiar mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.&#8221;<br \/>\nLalu Yesus berkata kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini?<br \/>\nKalau demikian bagaimana kamu dapat memahami<br \/>\nsemua perumpamaan yang lain?<br \/>\nPenabur itu menaburkan sabda.<br \/>\nOrang-orang yang di pinggir jalan, tempat sabda itu ditaburkan,<br \/>\nialah mereka yang mendengar sabda,<br \/>\nlalu datanglah Iblis dan mengambil sabda<br \/>\nyang baru ditaburkan di dalam mereka.<br \/>\nDemikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu,<br \/>\nialah orang-orang yang mendengar sabda itu<br \/>\ndan segera menerimanya dengan gembira,<br \/>\ntetapi sabda itu tidak berakar dan tahan sebentar saja.<br \/>\nApabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan<br \/>\nkarena sabda itu, mereka segera murtad.<br \/>\nDan yang lain, yang ditaburkan di tengah semak duri,<br \/>\nialah yang mendengar sabda itu,<br \/>\ntetapi sabda itu lalu dihimpit oleh kekuatiran dunia,<br \/>\ntipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain<br \/>\nsehingga sabda itu tidak berbuah.<br \/>\nDan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik,<br \/>\nialah orang yang mendengar dan menyambut sabda itu lalu berbuah,<br \/>\nada yang tiga puluh kali lipat,<br \/>\nada yang enam puluh kali lipat,<br \/>\ndan ada yang seratus kali lipat.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n************<\/p>\n<p>  \u210d ?<\/p>\n<p>\u201dDengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur\u2026.. sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat,\u201d (Mrk 4: 3 \u2013 8 )<\/p>\n<p>Biasanya, permenungan atas perumpamaan tentang seorang penabur kita pandang dari sudut kita sebagai tanah di mana benih ditabur. Kali ini saya ajak anda memandang dari sudut kita sebagai mitra Allah dalam menabur benih Kerajaan Allah.<\/p>\n<p>Perumpamaan ini menunjukkan kepada kita bagaimana Allah memperlakukan kita dalam membangun Kerajaan-Nya di antara kita. Perumpamaan itu menyadarkan kita, bahwa untuk bekerja bagi Allah, dan bekerja dengan semangat Allah maka:<\/p>\n<p>* Kita harus bekerja dengan sabar. Menabur benih adalah pekerjaan yang melelahkan punggung. Penabur harus membungkuk dan menaburkan\/menanam benih yang baik dekat dengan tanah yang baik. Jika kita sekadar menyebarkan benih tanpa membungkuk dekat dengan tanah, maka risiko bahwa banyak benih yang jatuh di pinggir jalan, di tanah berbatu atau di tengah semak duri menjadi lebih besar. Dengan membungkuk dekat dengan tanah yang baik, maka benih yang ditabur tidak akan terbuang percuma.<br \/>\n* Benih Kerajaan bukan tanpa tantangan. Dalam banyak kasus, benih tidak bertunas, yang bertunas tidak bertumbuh, yang bertumbuh menjadi layu. Mengapa hal ini terjadi? Jika Allah itu baik, mengapa Kerajaan-Nya tidak bertumbuh tanpa tantangan? Sang Penabur itu tampaknya bekerja dengan sia-sia dan membuang-buang benih dan tenaganya. Yesus sendiri, Sang Penabur Agung, di Nazaret ditolak, di Kapernaum dianggap gila, orang-orang Farisi ingin membunuh-Nya, dan para murid meninggalkan-Nya. Ia menghadapi banyak tantangan. Dengan perumpamaan ini, Ia ingin menyampaikan pesan kepada murid-murid-Nya yang patah semangat dan meragukan manfaat dari karya yang Ia lakukan. Terlepas dari semua tantangan dan rintangan yang ada, firman-Nya akan menghasilkan buah yang berlimpah karena firman itu sendiri memiliki kekuatan kehidupan yang tak tertahankan.<br \/>\n* Kita harus bekerja dengan murah hati. Hanya seperempat dari benih yang ditaburkan itu menghasilkan buah, tetapi sang penabur tak pernah berhenti menabur benih. Hasil yang sedikit tak boleh membuat kita putus asa.<\/p>\n<p>Semoga kita tidak hanya menjadi tanah yang menerima benih, tetapi kita juga menjadi rekan kerja SANG PENABUR yang baik, yang bekerja dengan tekun dan tanpa kenal lelah.<\/p>\n<p>Tuhan, meski banyak tantangan, kuatkan kami dalam usaha kami menjadi rekan-rekan kerja-Mu untuk menabur benih-benih Kerajaan-Mu dengan tekun dan tanpa kenal lelah. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Tanpa lelah tabur cinta kasih! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"lJb63FIV9U\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/tanpa-lelah-menabur-benih-kerajaan\/\">TANPA LELAH MENABUR BENIH KERAJAAN<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;TANPA LELAH MENABUR BENIH KERAJAAN&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/tanpa-lelah-menabur-benih-kerajaan\/embed\/#?secret=jWCgk4Opp0#?secret=lJb63FIV9U\" data-secret=\"lJb63FIV9U\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni Astanto MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Rabu 29 Januari 2025 Tahun Baru Imlek Markus 4:3-4 (Mrk 4:1-20) \u201dDengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-71140","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/71140","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=71140"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/71140\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":71141,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/71140\/revisions\/71141"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=71140"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=71140"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=71140"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}