{"id":71091,"date":"2025-01-27T20:42:41","date_gmt":"2025-01-27T13:42:41","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=71091"},"modified":"2025-01-27T20:42:41","modified_gmt":"2025-01-27T13:42:41","slug":"senin-27-januari-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=71091","title":{"rendered":"Senin, 27 Januari 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSenin 27 Januari 2025<br \/>\nMarkus 3:28-29 (Mrk 3:22-30)<br \/>\n\u201dAku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.&#8221;<\/p>\n<p>Jangan Padamkan Api Roh Kudus Dalam Hati<\/p>\n<p>Bukanlah maksud Yesus membedakan siapa yang lebih berkuasa: Yesus atau Roh Kudus. Ingatlah bahwa Yesus telah menganugerahkan Roh Kudus, Roh-Nya sendiri untuk tinggal dalam hati kita. Roh Kudus adalah sumber nurani kita, bisikan Allah dalam pikiran dan hati kita untuk melakukan kebaikan dan menolak yang jahat.<br \/>\nBila seseorang memadamkan api Roh Kudus dalam dirinya, maka ia telah menolak sama sekali kehadiran Allah dalam dirinya dan menutup pintu pertobatan yang datang dari Roh Kudus yang setiap saat berbisik dalam nurani untuk kembali kepada Allah dan hidup sesuai martabatnya sebagai anak Allah.<br \/>\nMenolak Roh Kudus berarti ia telah mengeraskan hatinya untuk tidak lagi percaya dan memutuskan untuk hidup tanpa Tuhan. Menghujat Roh Kudus berarti ia telah menyingkirkan Tuhan dalam hidupnya bahkan ia membuat dirinya menjadi tuhan atas hidupnya dan tidak mau hidup dalam tuntunan Allah.<br \/>\nMengikuti Yesus dan percaya pada Allah adalah sebuah keputusan. Allah sangat menghargai keputusan bebas manusia. Bila seseorang telah memutuskan untuk terpisah dari Allah maka ia tidak lagi mengharapkan pengampunan dan pertobatan. Inilah dosa kekal yang tak dapat diampuni, karena ia sendiri tidak lagi merasa perlu bertobat dan juga tidak mendambakan pengampunan. Ia sama sekali tidak membutuhkan Tuhan.<br \/>\nMari selalu membuka hati kita untuk mendengarkan bisikan Roh Kudus agar hati kita selalu tertuju pada Allah Bapa kita. Tanda bahwa Roh Allah masih bekerja dalam diri kita adalah ketika kita mampu untuk berdoa.<br \/>\nJangan padamkan api Roh Kudus dalam hati. Berserulah selalu, \u201cAbba, ya Bapa. Engkaulah Allahku. Buka hatiku ya Bapa untuk selalu dapat mendengar bisikanMu. Kuatkan imanku untuk selalu berserah dan bersandar pada Yesus Tuhan-ku. Tuntunlah langkahku untuk senantiasa berjalan dalam terang sabdaMu. Amin.\u201d<\/p>\n<p>Semangat Senin! Janganlah bertegar hati, hiduplah dalam tuntunan Roh Kudus Allah.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 27 Jan 2025<br \/>\nSenin Pekan Biasa III<br \/>\nPF S. Angela Merici, Perawan<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: 2Tim 1:10<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 3:22-30<br \/>\n**************************************<\/p>\n<p>EMBUN ROHANI PAGI DARI KOTA AMBON MANISE<\/p>\n<p>HANYA YESUS YANG MAMPU MENGALAHKAN IBLIS<\/p>\n<p>Seorang ibu pernah berbagi kisah Minggu lalu: \u201cKetika putrinya dikuasai kuasa kegelapan\/disantet, ia pun membayar ratusan juta kepada dukun untuk melawan dan bila perlu membunuh orang yang disinyalir mengirim roh jahat kepada putrinya. Namun apa yang terjadi? Hasilnya nihil. Uang habis tapi putrinya tetap dikuasai oleh roh jahat itu. Ibu ini akhirnya mengakui bahwa hanya Yesuslah yang luar biasa mengatasi segalanya. Karena itu, ia mulai andalkan Yesus dalam hidupnya walaupun semua yang diharapkan tidak didapatkan serentak, tapi ia tetap berserah kepada Yesus.<\/p>\n<p>Inilah faktanya, \u201cjika Anda menggunakan iblis untuk melawan iblis maka tidak ada pemenangnya, karena keduanya akan bersekutu untuk menghancurkan dan membuat keadaanmu bertambah parah.\u201d<\/p>\n<p>Dalam Injil hari ini, Yesus mengingatkan kita untuk tidak menggunakan kuasa gelap melawan iblis:&#8221;Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan: &#8220;Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis?&#8221; ( ayat 23 )<\/p>\n<p>Pelajaran penting bagi kita di hari ini adalah:<\/p>\n<p>1) Andalkan dan teruslah berserah kepada Yesus walaupun harapanmu tidak serta merta dikabulkan, pun mungkin sampe saat ini Anda masih diganggu oleh roh jahat;<\/p>\n<p>2) Jangan pernah menyerah atau lari dari Tuhan karena itulah yang dinantikan oleh iblis ketika engkau meragukan kuat kuasa Tuhan atas hidup dan masalah yang Anda hadapi saat ini;<\/p>\n<p>3) Nantikanlah pertolongan Tuhan pada waktu-Nya karena Ia sangat tahun kapan harus menolongmu.<\/p>\n<p>Ingat bahwa jika iblis adalah malaikat yang berontak terhadap Allah, maka hanya kekuatan Allah-lah yang dapat mengalahkan si iblis, yakni, Yesus. Marilah berseru dengan penuh keyakinan: \u201cYesus, Engkaulah Andalanku.\u201d<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas untuk para sahabat.<\/p>\n<p>Salam, doa dan berkatku ( + ) untuk semua.<br \/>\n( Dari: Mgr. Inno Ngutra : Minnong &#8211; Duc in Altum )<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\n2Tim 1:10<br \/>\nPenebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut,<br \/>\ndan menerangi hidup dengan Injil.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 3:22-30<br \/>\nKesudahan setan telah tiba.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Pada suatu hari datanglah ahli-ahli Taurat dari Yerusalem,<br \/>\ndan berkata tentang Yesus, &#8220;Ia kerasukan Beelzebul!&#8221;<br \/>\nAda juga yang berkata,<br \/>\n&#8220;Dengan penghulu setan Ia mengusir setan.&#8221;<br \/>\nMaka Yesus memanggil mereka,<br \/>\nlalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan,<br \/>\n&#8220;Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis?<br \/>\nKalau suatu kerajaan terpecah-pecah,<br \/>\nkerajaan itu tidak dapat bertahan,<br \/>\ndan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah,<br \/>\nrumah tangga itu tidak dapat bertahan.<br \/>\nDemikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri,<br \/>\nkalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan,<br \/>\nmalahan sudahlah tamatlah riwayatnya!<\/p>\n<p>Camkanlah,<br \/>\nTidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat,<br \/>\nuntuk merampas harta bendanya,<br \/>\nkecuali kalau ia mengikat lebih dahulu orang kuat itu.<br \/>\nLalu barulah ia dapat merampok rumah itu.<br \/>\nAku berkata kepadamu:<br \/>\nSungguh, semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni,<br \/>\nya, semua hujat yang mereka ucapkan.<br \/>\nTetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus,<br \/>\nia tidak mendapat ampun untuk selama-lamanya,<br \/>\nsebab dosa yang dilakukannya adalah dosa kekal.&#8221;<br \/>\nYesus berkata demikian karena mereka bilang<br \/>\nbahwa Ia kerasukan roh jahat.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Senin 27 Januari 2025 Markus 3:28-29 (Mrk 3:22-30) \u201dAku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus,&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-71091","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/71091","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=71091"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/71091\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":71092,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/71091\/revisions\/71092"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=71091"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=71091"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=71091"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}