{"id":70640,"date":"2025-01-20T17:04:37","date_gmt":"2025-01-20T10:04:37","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=70640"},"modified":"2025-01-20T17:04:37","modified_gmt":"2025-01-20T10:04:37","slug":"senin-20-januari-2025-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=70640","title":{"rendered":"Senin, 20 Januari 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSenin 20 Januari 2025<br \/>\nMarkus 2:22 (Mrk 2:18-22)<br \/>\n\u201dTidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.&#8221;<\/p>\n<p>Pembaharuan Diri Terus Menerus<\/p>\n<p>Yesus datang ke dunia dan memberikan pemaknaan baru pada semua tradisi yang telah lama dijalankan umat Israel. Dalam Injil hari ini Yesus memberi makna baru mengenai puasa, yang bukan hanya soal menahan diri dari makan dan minum, melainkan terutama puasa batin untuk semakin dekat dengan Allah dan menyelami rancangan Tuhan dalam hidup yang selalu aktual dan baru.<br \/>\nYesus kemudian menyampaikan perumpamaan yang indah dan bijaksana tentang hal menambal baju yang lama dengan kain yang baru dan mengisi anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang lama. Kain yang baru tidak untuk menambal kain yang lama. Anggur yang baru tidak pas lagi dengan kantong kulit yang lama. Yang lama harus dibaharui.<br \/>\nBetapa relevan perumpamaan ini untuk kita jadikan prinsip yang bijak dalam menghadapi perubahan-perubahan di setiap jaman yang memerlukan penyesuaian diri dan adaptasi.<br \/>\nSeiring dengan perubahan jaman oleh ilmu pengetahuan dan teknologi, demikian juga halnya cara Tuhan hadir dan berkarya dan cara kita menyikapinya perlu selalu diperbaharui agar dapat terus melihat bahwa \u201cTuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.\u201d (Rom 8:28).<br \/>\nSiapa menyangka internet akan mengubah segala sesuatunya. Dulunya kita tidak mengenal apa itu online dan offline. Untuk naik taxi kita harus berdiri di pinggir jalan. Untuk memesan makanan kita harus ke rumah makan. Untuk belanja kita harus ke toko. Sekarang semuanya bisa dilakukan sambil duduk di rumah dan memesan secara online.<br \/>\nPerubahan ini ikut juga merubah cara pandang kita mengenai nilai-nilai yang kita pegang. Dahulu akan sangat tabu dan tidak sopan bila seorang wanita digonceng di sepeda motor oleh pria yang tidak dikenalnya. Sekarang, dengan ojek online, mau tak mau kita menerima kenyataan baru ini.<br \/>\nApabila kita tak mampu menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan keadaan dan kemajuan saat ini, apalagi menolak perubahan yang cepat ini membuat kita ketinggalan bahkan terlindas oleh perubahan. Karena itu cara pikir, mindset, paradigma lama, mestilah terus menerus diperbaharui.<br \/>\nYesus dengan begitu indah dan bijaksana, mengumpamakan cara lama, paradigma lama, sebagai kantong kulit yang lama, yang kapasitasnya sudah terbatas. Maka Yesus meminta kita meningkatkan kapasitas diri. Ganti kain yang lama, kantong kulit anggur yang lama dengan yang baru. Caranya ialah dengan terus menerus belajar dan membaharui diri.<br \/>\nMari selalu terbuka terhadap pembaharuan. Bersikap open minded dan terus bertumbuh dan berkembang. Yesus adalah Pembaharu. Doronglah hati dan budi untuk terus belajar hal-hal baru dan berani berubah, tidak takut gagal atau salah. Berani berbeda dan selalu bersyukur atas hal-hal baru yang Tuhan hadirkan dalam hidup kita.<\/p>\n<p>Semangat Senin, semangat pembaharuan diri dalam Tuhan.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 20 Jan 2025<br \/>\nSenin Pekan Biasa II<br \/>\nPF S. Sebastianus, Martir<br \/>\nPF S. Fabianus, Paus dan Martir<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Ibr 4:12<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 2:18-22<br \/>\n***************************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nIbr 4:12<br \/>\nSabda Allah itu hidup dan kuat.<br \/>\nSabda itu menguji segala pikiran dan maksud hati.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 2:18-22<br \/>\nPengantin itu sedang bersama mereka.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Waktu itu<br \/>\nmurid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa,<br \/>\nPada suatu hari datanglah orang kepada Yesus dan berkata,<br \/>\n&#8220;Murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa,<br \/>\nmengapa murid-murid-Mu tidak?&#8221;<br \/>\nJawab Yesus kepada mereka<br \/>\n&#8220;Dapatkah sahabat-sahabat pengantin pria berpuasa<br \/>\nselagi pengantin itu bersama mereka?<br \/>\nSelama pengantin itu ada bersama mereka,<br \/>\nmereka tidak dapat berpuasa.<br \/>\nTetapi waktunya akan datang pengantin itu diambil dari mereka,<br \/>\ndan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.<br \/>\nTidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut<br \/>\npada baju yang tua,<br \/>\nkarena jika demikian, kain penambal itu akan mencabiknya;<br \/>\nyang baru mencabik yang tua, sehingga makin besarlah koyaknya.<br \/>\nDemikian juga<br \/>\ntak seorang pun mengisikan anggur baru<br \/>\nke dalam kantong kulit yang sudah tua,<br \/>\nkarena jika demikian<br \/>\nanggur tersebut akan mengoyakkan kantong itu,<br \/>\nsehingga baik anggur maupun kantongnya akan terbuang.<br \/>\nJadi anggur yang baru<br \/>\nhendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n****************************************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cTidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.\u201d [Mrk 2: 22]<\/p>\n<p>Kita tidak lagi mengenal kantong kulit untuk menyimpan anggur pada masa kini, karena anggur sekarang dikemas dalam botol. Perumpamaan tentang kantong kulit untuk menyimpan anggur mungkin sulit untuk dipahami di zaman kita, namun pesan yang disampaikannya tetap relevan saat ini seperti pada masa itu &#8211; bahwa transformasi dalam hidup seseorang menuntut perubahan dalam aspek-aspek lain dari keberadaan manusia.<\/p>\n<p>Diterapkan pada iman Kristiani kita, perumpamaan ini menunjuk pada penerimaan Kabar Baik tentang keselamatan. Iman yang dihasilkan dari penerimaan Kabar Baik ini dapat dipahami sebagai \u201canggur\u201d. \u201cKantong kulit\u201d dapat berarti perilaku kita, sistem nilai kita, dan hampir semua hal lain dalam hidup kita. Ketika kita telah memutuskan untuk menyatakan iman kita kepada Tuhan, itu berarti kita akan membuang beberapa perilaku atau kebiasaan yang mungkin tidak sesuai dengan iman ini. Kita mengubah diri kita sendiri. Kita meningkatkan diri kita dari kehidupan yang penuh dosa dan mementingkan diri sendiri menjadi kehidupan yang mencari kekudusan dan kesempurnaan.<\/p>\n<p>Mereka yang tetap menggunakan \u201ckantong kulit\u201d yang lama dapat dianggap sebagai orang-orang yang disebut sebagai orang Kristen yang \u201cbermuka dua\u201d. Mereka mengaku mengaku beriman tetapi sangat kurang dalam menyatakan iman mereka dalam tindakan nyata. Mereka mengaku memiliki anggur iman yang baru tetapi berpegang teguh pada kantong kulit yang lama, yaitu cinta diri dan keberdosaan.<\/p>\n<p>Kita ditantang untuk menjalani hidup yang baru, untuk senantiasa memperbarui diri kita, dan mengikuti Tuhan yang menjadikan segala sesuatu baru.<\/p>\n<p>Tuhan Yesus Kristus, tolonglah kami untuk berubah menjadi yang terbaik bagi-Mu. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas di pekan yang baru. Berubah menjadi yang terbaik! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Senin 20 Januari 2025 Markus 2:22 (Mrk 2:18-22) \u201dTidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-70640","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/70640","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=70640"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/70640\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":70641,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/70640\/revisions\/70641"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=70640"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=70640"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=70640"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}