{"id":70522,"date":"2025-01-18T08:03:20","date_gmt":"2025-01-18T01:03:20","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=70522"},"modified":"2025-01-18T08:03:20","modified_gmt":"2025-01-18T01:03:20","slug":"sabtu-18-januari-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=70522","title":{"rendered":"Sabtu, 18 Januari 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSabtu 18 Januari 2025<br \/>\nMarkus 2:14 (Mrk 2:13-17)<br \/>\nKemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: &#8220;Ikutlah Aku!&#8221; Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia.<\/p>\n<p>Jdilah Karunia Allah<\/p>\n<p>Lewi adalah seorang pemungut cukai yang dipandang hina oleh orang Yahudi. Pertama karena ia adalah pengkhianat bangsa, antek penjajah Romawi. Namanya Lewi, seharusnya jadi kebanggaan orang Israel karena mengambil nama anak ke tiga Yakub yang jadi leluhur suku Lewi, para imam Israel. Tapi ia tidak hidup sesuai martabat namanya.<br \/>\nKe dua, ia juga masuk kalangan para preman, karena memungut cukai lebih dari yang seharusnya demi kepentingan diri sendiri, termasuk dengan memakai ancaman bahkan kekerasan.<br \/>\nTentu bagi Lewi gaya hidup seperti ini membuat dia merasa bersalah dengan apa yang ia kerjakan. Namun siapa yang akan menolong dia keluar dari rasa bersalah yang membebani hatinya?<br \/>\nKetika Yesus memanggil dia, inilah kesempatan bagi Lewi untuk memulai hidup baru dan membaharui diri oleh kepercayaan Yesus, yang mengangkatnya sebagai salah satu muridNya.<br \/>\nPesan yang indah di balik kisah Lewi adalah: seberapa hina kita di mata manusia, tidak seperti itulah kita di mata Tuhan. Yesus tidak melihat dosa dan kelemahan kita, tapi semua yang indah yang Allah anugerahkan ketika kita diciptakanNya.<br \/>\nOrang berdosa di mata Yesus adalah orang yang sakit yang perlu disembuhkan. Bukan dibiarkan sakit oleh dosa. Karena itu Yesus bersabda, \u201cBukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.&#8221; (Ay 17).<br \/>\nSebagaimana Yesus sanggup memulihkan jati diri Lewi sebagai pemungut cukai dan membuatnya menjadi Matius (artinya \u201ckarunia Allah\u201d), demikian juga Yesus sanggup mengubah kita menjadi anak kekasih Allah Bapa.<br \/>\nPengampunan Yesus membebaskan kita dari rasa bersalah yang senantiasa menghantui. Yesus memanggil kita bukan karena kehebatan kita, melainkan karena Ia mencintai kita dan menjadi segalanya bagi kita. Kita dijadikanNya kudus bukan karena jasa kita melainkan oleh karunia Roh Kudus yang dianugerahkan Yesus bagi kita saat kita dibaptis. Roh Yesus tinggal dalam hati kita untuk terus membaharui kita sesuai nama baptis kita. Tetaplah mengikuti Yesus dengan setia.<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan. Jadilah \u2018karunia Allah\u2019 oleh kasih Yesus.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 18 Jan 2025<br \/>\nSabtu Pekan Biasa I<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Luk 4:18-19<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 2:13-17<br \/>\n*******&#8221;*************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nLuk 4:18-19<br \/>\nTuhan mengutus Aku<br \/>\nmewartakan Injil kepada orang yang hina-dina<br \/>\ndan memberitakan pembebasan kepada orang tawanan.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 2:13-17<br \/>\nAku datang bukan untuk memanggil orang benar,<br \/>\nmelainkan orang berdosa.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa Yesus pergi lagi ke pantai Danau Galilea,<br \/>\ndan semua orang datang kepada-Nya.<br \/>\nYesus lalu mengajar mereka.<br \/>\nKemudian ketika meninggalkan tempat itu,<br \/>\nIa melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai,<br \/>\nYesus berkata kepadanya, &#8220;Ikutlah Aku!&#8221;<br \/>\nMaka berdirilah Lewi, lalu mengikuti Yesus.<br \/>\nKemudian, ketika Yesus makan di rumah Lewi,<br \/>\nbanyak pemungut cukai dan orang berdosa<br \/>\nmakan bersama dengan Dia dan murid-murid-Nya,<br \/>\nsebab banyak orang yang mengikuti Dia.<br \/>\nWaktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat,<br \/>\nbahwa Yesus makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa,<br \/>\nberkatalah mereka kepada murid-murid-Nya,<br \/>\n&#8220;Mengapa Gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?&#8221;<br \/>\nYesus mendengar pertanyaan itu dan berkata kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit!<br \/>\nAku datang bukan untuk memanggil orang benar,<br \/>\nmelainkan orang berdosa!&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***************************************<\/p>\n<p>EMBUN ROHANI PAGI DARI KOTA TOBELO, MALUKU UTARA<\/p>\n<p>PENDOSA BERLAGAK SUCI<\/p>\n<p>\u201cHanya ada selaput tipis yang membedakan orang lain dengan kita dalam hal dosa; Dosa orang lain berat tapi ringan dosa kita atau pun sebaliknya. Demikian pun dosa orang lain diketahui publik sedangkan dosa kita tersembunyi. Jika inilah yang terjadi maka janganlah berlagak suci karena di mata Tuhan kita semua pendosa yang memerlukan pengampunan-Nya untuk menjadi suci dan terselamatkan.\u201d<\/p>\n<p>Lagak suci yang ditampilkan oleh orang Farisi dan Agli Taurat dikisahkan dalam Injil hari ini:&#8221;Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: &#8220;Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?&#8221; ( ayat 16 )<\/p>\n<p>Pelajaran penting bagi kita di hari ini adalah:<\/p>\n<p>1) Sadarlah bahwa sekecil dan seringan apa pun dosamu, tapi dosa tetaplah dosa yang membuat kita terpisah dari cinta Allah;<\/p>\n<p>2) Janganlah menuduh dan menyebarkan aib serta dosa orang lain karena sesungguhnya saat itulah kesombonganmu menampilkan dosa pribadimu;<\/p>\n<p>3) Bangunlah pertobatan pribadi sebagai ungkapan niatmu untuk mendapatkan pengampunan Allah sebagai syarat selamat.<\/p>\n<p>Ingatlah bahwa berlagak suci tidak serta merta menghapus dosa-dosamu, melainkan hanya menutup dosamu sehingga tidak diketahui oleh orang lain. Namun saatnya akan tiba di mana Anda akan dipermalukan lebih daripada Anda mempermalukan sesamamu.<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan untuk para sahabat.<\/p>\n<p>Salam, doa dan berkatku ( + ) untuk semua.<br \/>\n( Dari: Mgr. Inno Ngutra : Minnong &#8211;\u00a0Duc\u00a0in\u00a0Altum\u00a0)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Sabtu 18 Januari 2025 Markus 2:14 (Mrk 2:13-17) Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: &#8220;Ikutlah Aku!&#8221; Maka berdirilah&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-70522","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/70522","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=70522"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/70522\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":70523,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/70522\/revisions\/70523"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=70522"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=70522"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=70522"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}