{"id":69951,"date":"2025-01-11T08:12:20","date_gmt":"2025-01-11T01:12:20","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=69951"},"modified":"2025-01-11T08:12:20","modified_gmt":"2025-01-11T01:12:20","slug":"sabtu-11-januari-2025-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=69951","title":{"rendered":"Sabtu, 11 Januari 2025"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSabtu 11 Januari 2025<br \/>\nYohanes 3:29-30 (Yoh 3:22-30)<br \/>\n\u201dYang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.\u201d<\/p>\n<p>Biarlah Yesus Semakin Besar Dan Kita Semakin Kecil<\/p>\n<p>Dari segi kekerabatan dan dari segi usia, Yohanes Pembaptis harusnya dipanggil kakak oleh Yesus. Akan tetapi Yohanes Pembaptis begitu rendah hati, karena ia sungguh menyadari bahwa kelahirannya adalah untuk mempersiapkan kedatangan Mesias, Yesus Kristus yuniornya.<br \/>\nBagi Yohanes sukacitanya menjadi penuh ketika semua orang dapat memandang Yesus sebagai Mesias, percaya padaNya dan menaruh harapan keselamatan pada Yesus. Inilah semangat sejati semua hamba Tuhan. Biarlah Yesus makin besar dan kita semakin kecil.<br \/>\nHidup kita mendapatkan maknanya yang paling dalam ketika kita dapat menempatkan Yesus sebagai Tuhan kita dan kita ini pelayan-pelayanNya.<br \/>\nKetika begitu banyak orang ingin menjadi nomor satu, paling besar, paling kuat dan hebat, paling terkenal, marilah kita belajar dari Yohanes Pembaptis. Dengan penuh kerendahan hati kita mengosongkan diri dan membiarkan Yesus memenuhi seluruh relung hati dan hidup kita. Biarlah nama Yesus yang ditinggikan dan Allah Bapa yang dimuliakan. Semua yang ada pada kita semata anugerah dan kasih karunia Allah melalui Yesus Tuhan kita.<br \/>\n\u201dYa Yesus, mengenalMu itulah sukacitaku. MencintaiMu itulah kebahagiaanku. MelayaniMu itulah kepenuhan hidupku. Biarlah Engkau semakin besar dan aku semakin kecil. Pakailh aku untuk kemuliaan namaMu. Dimuliakanlah namaMu untuk selamanya. Amin.\u201d<\/p>\n<p>Selamat berbahagia di akhir pekan. Kasih Yesus memenuhi hidup kita.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 11 Jan 2025<br \/>\nSabtu Masa Natal<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mat 4:16<br \/>\nBacaan Injil: Yoh 3:22-30<br \/>\n**************************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMat 4:16<br \/>\nBangsa yang diam dalam kegelapan<br \/>\ntelah melihat Terang yang besar,<br \/>\ndan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut<br \/>\ntelah terbit Terang.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nYoh 3:22-30<br \/>\nSahabat mempelai bersukacita mendengar suara mempelai.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Yohanes:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa<br \/>\nYesus bersama murid-murid-Nya pergi ke tanah Yudea,<br \/>\ndan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis.<br \/>\nAkan tetapi Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim,<br \/>\nsebab di situ banyak air,<br \/>\ndan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis,<br \/>\nsebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara.<\/p>\n<p>Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes<br \/>\ndengan seorang Yahudi tentang penyucian.<br \/>\nLalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya,<br \/>\n&#8220;Rabi, orang yang bersama dengan engkau<br \/>\ndi seberang sungai Yordan,<br \/>\ndan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian,<br \/>\nDia membaptis juga, dan semua orang pergi kepada-Nya.&#8221;<br \/>\nJawab Yohanes,<br \/>\n&#8220;Tidak ada seorang pun<br \/>\nyang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya,<br \/>\nkalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga.<br \/>\nKamu sendiri dapat memberi kesaksian,<br \/>\nbahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias,<br \/>\ntetapi aku diutus untuk mendahului-Nya.<br \/>\nYang empunya mempelai perempuan ialah mempelai laki-laki;<br \/>\ntetapi sahabat mempelai,<br \/>\nyang berdiri dekat dia dan mendengarkannya,<br \/>\nsangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu.<br \/>\nItulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh.<br \/>\nIa harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**************************************<\/p>\n<p>FOKUS KEPADA TUHAN ALLAH, ORANG LAIN DAN LINGKUNGAN ALAM CIPTAAN LAINNYA<br \/>\n(RD. John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng)<\/p>\n<p>Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan\/C<\/p>\n<p>1 Yoh. 5:14-21: Pengetahuan akan hidup yang kekal.<br \/>\nYoh. 3:22-30: Kesaksian Yohanes tentang Yesus<\/p>\n<p>Yohanes menyadarkan dan mengingatkan saya, anda semua bahwa Tuhan Allah adalah SEGALA2NYA. Dia berada di atas segala2nya. Segala sesuatu terarah dan tertuju kepadaNya. Demikian pun hidup dan karya saya, anda hic et nunc, here and now, di sini dan saat ini hendaknya terarah dan tertuju kepadaNya. TUHAN ALLAH MENJADI FOKUS.<br \/>\nYohanes Pembaptis menyadari betul &#8220;siapa dirinya&#8221; di hadapan Tuhan. Dia tidak merasa diri hebat atau memuji dirinya sendiri atau merasa diri &#8220;disaingi&#8221; saat orang2 mengatakan kepadanya bahwa Yesus juga melakukan pembaptisan dan banyak orang datang kepadaNya. &#8220;Rabi, orang yang bersama engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepadaNya&#8221; (Yoh. 3:26).<br \/>\nYohanes memberikan jawaban:&#8221;Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau TIDAK DIKARUNIAKAN KEPADANYA DARI SURGA (Tuhan Allah)&#8221; (Yoh. 3:27.<\/p>\n<p>Yohanes mengingatkan dan mengajar sata, anda bahwa SEGALA2NYA KITA PEROLEH DARI TUHAN. Dalam SEGALA HAL\/PERKARA, TUHANLAH YANG HARUS DIMULIAKAN, bukan diri saya, anda!! Orang lainlah yang dimuliakan, bukan diri sendiri. Alam ciptaan lainlah yang &#8220;dimuliakan&#8221;. SUKACITA atau KEGEMBIRAAN saya, anda adalah TUHAN dan orang lain dan alam ciptaan lainnya. Tuhan dan orang lain dan alam ciptaan lainnya harus &#8220;makin besar&#8221; dan dan saya, anda harus semakin kecil. RENDAH HATI terhadap Tuhan, orang lain dan lingkungan alam ciptaan lainnya. Inilah tanda orang rendah hati. Fokus kepada Tuhan dan kepada orang lain dan lingkungan alam ciptaannya. &#8220;Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. IA HARUS MAKIN BESAR, tetapi aku harus makin kecil&#8221;.<\/p>\n<p>Selamat FOKUS KEPADA TUHAN ALLAH DAN ORANG LAIN dan LINGKUNGAN ALAM CIPTAAN LAINNYA! Jangan fokus bagi diri sendiri. Nanti bonus sukacita, kegembiraan, kebahagiaan hidup diberikan Tuhan kepada saya, anda.<\/p>\n<p>Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) MEMBERKATI saya, anda sekalian yang selalu fokus kepada Tuhan Allah dan orang lain dan lingkungan alam ciptaan\u00a0lainnya.\u00a0Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Sabtu 11 Januari 2025 Yohanes 3:29-30 (Yoh 3:22-30) \u201dYang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-69951","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/69951","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=69951"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/69951\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":69952,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/69951\/revisions\/69952"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=69951"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=69951"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=69951"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}