{"id":68756,"date":"2024-12-27T13:34:49","date_gmt":"2024-12-27T06:34:49","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=68756"},"modified":"2024-12-27T13:34:49","modified_gmt":"2024-12-27T06:34:49","slug":"jumat-27-desember-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=68756","title":{"rendered":"Jumat, 27 Desember 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nJumat 27 Desember 2024<br \/>\nPesta St Yohanes Penginjil<br \/>\nYohanes 20:8 (Yoh 20:2-8)<br \/>\nMaka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.<\/p>\n<p>Natal Tak Terpisahkan Dari Paskah<\/p>\n<p>Injil Yohanes pasal 20 mengisahkan kebangkitan Yesus. Kisah kebangkitan Yesus ditempatkan dalam bacaan Injil di hari ke tiga oktaf Natal, untuk mengaitkan dua kisah dalam hidup Yesus yang tak terpisahkan, yang menjadi bagian penting untuk mengimani Yesus yakni Natal dan Paskah.<br \/>\nKebangkitan Yesus memberi makna atas kelahiranNya, dan kelahiran Yesus menjadi pemenuhan nubuatan datangnya Raja Semesta Alam Penguasa Segala Waktu, Firman yang menjelma menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Iman akan kebangkitan Yesus, menjadi pesan inti Injil Yohanes agar kita juga percaya seperti Yohanes.<br \/>\nSaat pergi ke kubur Yesus dan melihat kain kafan telah tergeletak di tanah dan kain peluh penutup kepala Yesus telah digulung rapi, yakinlah Yohanes, Yesus telah bangkit seperti telah disabdakanNya, \u201cAkulah kebangkitan dan hidup.\u201d (Yoh 11:25).<br \/>\nKandang hina Betlehem dan salib hina Yerusalem menjadi dua tempat bersejarah dalam sejarah keselamatan, mengingatkan dan menguatkan kita untuk berjalan dalam iman akan Imanuel: Allah beserta kita, sejak kita lahir hingga ajal tiba.<br \/>\nSeperti Yohanes, mari melihat tanda-tanda kelahiran Kristus yaitu hadirnya Kristus dalam hidup kita dan tanda-tanda kebangkitan Kristus yaitu karya keselamatan yang diperbuat Yesus di tengah suka duka perjalanan hidup kita. Kita melihat dan percaya.<\/p>\n<p>Mari terus melangkah dalam iman akan Imanuel: Allah beserta kita, sejak lahir hingga ajal tiba.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 27 Des 2024<br \/>\nJumat Masa Natal<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBacaan Injil: Yoh 20:2-8<br \/>\n***************************************<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nYoh 20:2-8<br \/>\nMurid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus<br \/>\nsehingga lebih dahulu sampai di kubur.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Yohanes:<\/p>\n<p>Pada hari Minggu Paskah,<br \/>\nsetelah mendapati makam Yesus kosong,<br \/>\nMaria Magdalena berlari-lari mendapatkan Simon Petrus<br \/>\ndan murid yang lain yang dikasihi Yesus.<br \/>\nIa berkata kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Tuhan telah diambil orang dari kuburnya,<br \/>\ndan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.&#8221;<\/p>\n<p>Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur.<br \/>\nKeduanya berlari bersama-sama,<br \/>\ntetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus,<br \/>\nsehingga ia lebih dahulu sampai di kubur.<br \/>\nIa menjenguk ke dalam,<br \/>\ndan melihat kain kapan terletak di tanah;<br \/>\ntetapi ia tidak masuk ke dalam.<br \/>\nMaka tibalah Simon menyusul dia,<br \/>\ndan masuk ke dalam kubur itu.<br \/>\nIa melihat kain kapan terletak di tanah,<br \/>\nsedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus<br \/>\ntidak terletak dekat kain kapan itu,<br \/>\ntetapi agak di samping di tempat yang lain,<br \/>\ndan sudah tergulung.<br \/>\nMaka masuklah juga murid yang lain,<br \/>\nyang lebih dahulu sampai di kubur itu;<br \/>\ndan ia melihatnya dan percaya.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n******************************************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cIa melihatnya dan percaya,\u201d (Yoh 20: 8 )<\/p>\n<p>Kita rayakan hari ini Pesta St. Yohanes Penginjil, murid terkasih Tuhan Yesus. Injil hari ini menawarkan sebuah permenungan tentang murid yang dikasihi, yang sering diidentifikasikan sebagai rasul Yohanes. Meskipun Injil Yohanes tidak pernah secara eksplisit menyebutkan namanya, Murid yang Terkasih mewakili sebuah realitas yang lebih dalam &#8211; komunitas iman yang baru, yang terbentuk di sekitar Yesus.<\/p>\n<p>Di kaki Salib, kita melihat simbol yang kuat: Murid yang Terkasih berdiri bersama Maria, Bunda Yesus. Maria melambangkan Perjanjian Lama, dan Murid yang dikasihi melambangkan komunitas Perjanjian Baru. Ketika Yesus mempercayakan Maria dan Murid yang dikasihi kepada satu sama lain, Dia menjembatani yang Lama dan yang Baru, menyatukan iman dan kehidupan. Kesatuan ini mengingatkan kita bahwa kita tidak dapat memisahkan janji-janji Allah yang kekal di dalam Perjanjian Lama dengan penggenapannya di dalam Kristus.<\/p>\n<p>Dalam kisah Kebangkitan, Murid yang dikasihi melihat dan percaya ketika ia sampai di kubur yang kosong. Dia merasakan kehadiran Yesus yang baru dan penuh kuasa. Ia percaya bukan karena melihat Yesus yang bangkit mulia, tetapi karena ia mengenali tanda-tanda kenangan kehadiran Tuhan, kain kafan yang mengingatkan Kasih yang tercurah dalam hidup dan wafat Yesus. Kemudian, pada saat para murid menangkap ikan secara ajaib setelah kebangkitan Yesus, Murid yang Terkasih mengenali Tuhan dan menyatakan, \u201cItu Tuhan!\u201d (Yohanes 21:7).<\/p>\n<p>Hari ini, kita dipanggil untuk menjadi Murid-murid yang dikasihi, yakni orang-orang beriman yang melihat dengan mata kasih. Seperti Yohanes, dalam hidup kita, kita tidak dapat melihat kehadiran Tuhan secara penuh. Kita hanya melihat tanda-tanda. Iman kitalah yang memungkinkan kita melihat kehadiran-Nya di balik tanda-tanda itu. Perjalanan Murid Terkasih mengilhami kita untuk memupuk hubungan pribadi yang mendalam dengan Kristus dan membawa orang lain kepada-Nya melalui kesaksian kita.<\/p>\n<p>Apakah saya mengenali kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari saya dengan mata seorang Murid yang dikasihi? Bagaimana saya dapat menyatukan iman saya dengan tindakan saya di dunia saat ini?<\/p>\n<p>Tuhan, curahkanlah kepadaku cinta yang sama yang Kaucurahkan kepada St. Yohanes, dan tariklah aku ke dalam Hati-Mu agar aku juga menjadi murid-Mu yang terkasih. Santo Yohanes, doakanlah kami. Amin<\/p>\n<p>Selamat Pesta St. Yohanes. ! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"sRTqs9yO2K\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/dipanggil-menjadi-murid-murid-terkasih\/\">DIPANGGIL MENJADI MURID-MURID TERKASIH<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;DIPANGGIL MENJADI MURID-MURID TERKASIH&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/dipanggil-menjadi-murid-murid-terkasih\/embed\/#?secret=9S1iyFjzIi#?secret=sRTqs9yO2K\" data-secret=\"sRTqs9yO2K\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Jumat 27 Desember 2024 Pesta St Yohanes Penginjil Yohanes 20:8 (Yoh 20:2-8) Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. Natal Tak&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-68756","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/68756","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=68756"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/68756\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68757,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/68756\/revisions\/68757"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=68756"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=68756"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=68756"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}