{"id":68560,"date":"2024-12-25T09:01:40","date_gmt":"2024-12-25T02:01:40","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=68560"},"modified":"2024-12-25T09:01:40","modified_gmt":"2024-12-25T02:01:40","slug":"rabu-25-desember-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=68560","title":{"rendered":"Rabu, 25 Desember 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nRabu 25 Desember 2024<br \/>\nHari Raya Natal<br \/>\nLukas 2:15 (Luk 2:15-20)<br \/>\nSetelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke surga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain, \u201cMarilah sekarang kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.&#8221;<\/p>\n<p>Marilah Pergi Ke Betlehem<\/p>\n<p>Kota Betlehem sudah dinubuatkan Tuhan menjadi kota kelahiran Sang Mesias, Penyelamat dunia. Bersabdalah Tuhan melalui nabi Mikha, \u201cDan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.&#8221; (Mat 2:6; Mikha 5:2).<br \/>\nSesungguhnya nama &#8216;Betlehem&#8217; terdiri dari 2 kata yakni \u2018bait\u2019 artinya rumah, dan \u2018lehem\u2019 yang berarti roti&#8217;. Jadi Betlehem berarti \u2018rumah roti\u2019. Terlebih lagi ketika Yesus lahir di Betlehem, Bunda Maria meletakkan bayi Yesus di dalam \u2018palungan\u2019 tempat makanan hewan. Terpenuhilah makna kedatangan Yesus ke dunia sebagai Mesias untuk menjadi \u201dRoti Kehidupan.\u201d santapan jiwa kita.<br \/>\nYesus sendiri berkata, \u201cAkulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.&#8221; (Yoh 6:51).<br \/>\nBetapa bahagia dan sukacita hidup kita, Allah menjelma menjadi manusia untuk memuaskan lapar dan dahaga kita akan kasih sayang Tuhan. Yesus menjadi santapan jiwa kita anak-anak kesayangan Allah. Anak-anak dunia makan roti atau nasi dan minum anggur atau air. Kita, putra putri Allah makan dan minum tubuh dan darah Kristus. Maka kita tan bisa hidup tanpa Yesus, santapan jiwa kita.<br \/>\n&#8220;Trimakasih ya Yesus, Engkau menjadi santapan jiwa kami yang selalu haus dan lapar akan kasih Allah. Lahirlah di hati kami, penuhilah hidup kami dengan kasih setiaMu, ya Tuhan dan Penebus kami. Selamat Hari Ulang Tahun ya Yesus, kekasih jiwa kami.\u201d<\/p>\n<p>Selamat Hari Natal. Mari kita ke Betlehem, menyambut Roti Hidup, Sang Imanuel, Allah beserta kita. \u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 25 Des 2024<br \/>\nRabu Masa Natal<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBacaan Injil: Yoh 1:1-18<br \/>\n***************************************<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nYoh 1:1-18<br \/>\nFirman telah menjadi manusia.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Yohanes:<\/p>\n<p>Pada awal mula adalah Firman.<br \/>\nFirman itu ada bersama-sama dengan Allah.<br \/>\ndan Firman itu adalah Allah.<br \/>\nFirman itu pada mulanya bersama-sama dengan Allah.<br \/>\nSegala sesuatu dijadikan oleh Dia,<br \/>\ndan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi<br \/>\ndari segala yang telah dijadikan.<br \/>\nDalam Dia ada hidup,<br \/>\ndan hidup itu adalah terang manusia.<br \/>\nTerang itu bercahaya di dalam kegelapan,<br \/>\ntetapi kegelapan tidak menguasainya.<\/p>\n<p>Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes.<br \/>\nia datang sebagai saksi<br \/>\nuntuk memberi kesaksian tentang terang itu,<br \/>\nsupaya oleh dia semua orang menjadi percaya.<br \/>\nIa sendiri bukan terang itu,<br \/>\ntetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.<br \/>\nTerang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang,<br \/>\nsedang datang ke dalam dunia.<br \/>\nTerang itu telah ada di dalam dunia,<br \/>\ndan dunia dijadikan oleh-Nya,<br \/>\ntetapi dunia tidak mengenal-Nya.<br \/>\nIa datang kepada milik kepunyaan-Nya,<br \/>\ntetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.<br \/>\nTetapi semua orang yang menerima Dia<br \/>\ndiberi-Nya kuasa menjadi anak-anak Allah,<br \/>\nyaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya,<br \/>\norang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau daging,<br \/>\nbukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki,<br \/>\nmelainkan dari Allah.<\/p>\n<p>Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita,<br \/>\ndan kita telah melihat kemuliaan-Nya,<br \/>\nyaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya<br \/>\nsebagai Anak Tunggal Bapa,<br \/>\npenuh kasih dan kebenaran.<br \/>\nTentang Dia Yohanes memberi kesaksian dan berseru,<br \/>\n&#8220;Inilah Dia yang kumaksudkan ketika aku berkata:<br \/>\nSesudah aku akan datang Dia yang telah mendahului aku,<br \/>\nsebab Dia telah ada sebelum aku.&#8221;<br \/>\nKarena dari kepenuhan-Nya<br \/>\nkita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia;<br \/>\nsebab hukum Taurat diberikan oleh Musa,<br \/>\ntetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus.<br \/>\nTidak seorang pun yang pernah melihat Allah;<br \/>\ntetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa,<br \/>\nDialah yang menyatakan-Nya.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**************************************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cFirman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.\u201d (Yoh 1: 14)<\/p>\n<p>Kisah Natal telah berulang kali diceriterakan dan telah berulang kali juga kita dengar. Maria melahirkan dalam gelapnya malam yang dingin; bayi yang baru lahir itu, rentan, ringkih; lahir di kandang, karena tak seorangpun memberi tempat bagi ibu dan bapanya untuk menginap.<\/p>\n<p>Semua terjadi dalam suatu kontras bukan? Ada kegelapan malam, tetapi cahaya terang kasih Allah ada pada bayi itu. Bayi itu lahir di malam dingin, tetapi ia membawa api kasih Allah ke bumi ini dan betapa Ia mengharapkan api itu menyala. Bayi itu begitu kecil, ringkih; tetapi Dialah Sang Sabda, yang dari semula adalah Allah dan ada bersama Allah (Yoh 1: 1).<\/p>\n<p>Binatang-binatang hina dan para gembala miskin yang mengelilingi bayi itu, namun para malaikat Allah bernyanyi memaklumkan kelahiran-Nya. Bayi itu miskin, namun segala kuasa Allah adalah milik-Nya. Kandang hewan itu hina, tetapi Raja segala rajalah yang lahir di dalamnya.<\/p>\n<p>Mengapa kisah kelahiran-Nya terjadi dalam kontras seperti itu? Mengapa Sang Juruselamat datang sebagai bayi yang lemah? Mengapa tidak datang langsung sebagai orang dewasa saja? Mengapa Sang Sabda yang menjelma itu hadir sebagai seorang yang miskin dan ringkih? Mengapa tidak menjelma sebagai Kaisar Roma? Mengapa lahir di musim dingin, pada waktu malam?<\/p>\n<p>Jawabannya ada dalam diri kita. Kita sendiri sering berada dalam kontras, paradoks. Kita adalah anak-anak terang, tetapi lebih suka kegelapan dan dingin (Yoh 1: 5). Kita sering hidup dalam kegelapan. Hati kita dingin. Walau demikian ada kerinduan dalam diri kita masing-masing yang selalu mengusik. Kita menginginkan terang dan kehangatan \u2013 dalam diri sesama, dalam diri kita, dalam Allah. Kita merindukan kasih, walau sering kali juga kita menyangkalnya. Kita mencari dan membungkus diri dan tinggal dalam hati yang dingin. Kita khawatir kalau-kalau realitas kehidupan kita hanya malam gelap yang dingin.<\/p>\n<p>Dalam gelapnya malam dan dinginnya hati, bayi itu lahir. Terang itu bercahaya dalam kegelapan. Mari, biarkan terang itu menembus relung-relung terdalam hati kita dan melalui diri kita memancar ke sekitar kita, kepada sesama. Biarkan kehangatan kasih Allah membungkus diri kita dan melaui diri kita kehangatan itu merambat ke sekitar kita.<\/p>\n<p>Tuhan, biarlah terang-Mu menembus relung-relung kegelapan hatiku dan memancar ke sekitarku. Biarlah kehangatan kasih-Mu membungkusku dan merambat ke sekitarku. Rengkuh aku dalam kasih-Mu dan biarlah aku menjadi saluran kasih-Mu kepada sesamaku. Amin.<\/p>\n<p>Selamat natal untuk kita semua. Yesus lahir di hatiku, di hatimu, di hati kita! ! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"Mc5SK5170u\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/natal-kontras\/\">NATAL : KONTRAS<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;NATAL : KONTRAS&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/natal-kontras\/embed\/#?secret=NpJ2N7cnoM#?secret=Mc5SK5170u\" data-secret=\"Mc5SK5170u\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Rabu 25 Desember 2024 Hari Raya Natal Lukas 2:15 (Luk 2:15-20) Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke surga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain, \u201cMarilah sekarang kita pergi ke&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-68560","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/68560","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=68560"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/68560\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68561,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/68560\/revisions\/68561"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=68560"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=68560"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=68560"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}