{"id":67977,"date":"2024-12-19T17:58:39","date_gmt":"2024-12-19T10:58:39","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=67977"},"modified":"2024-12-19T17:58:39","modified_gmt":"2024-12-19T10:58:39","slug":"kamis-19-desember-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=67977","title":{"rendered":"Kamis, 19 Desember 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nKamis 19 Desember 2024<br \/>\nLukas 1:6-7 (Luk 1:5-25)<br \/>\nKeduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.<\/p>\n<p>Hidup Sebagai Alat Tuhan<\/p>\n<p>Ayat ini berbicara mengenai imam Zakharia dan istrinya Elisabet, orangtua dari Yohanes Pembaptis. Dikatakan bahwa mereka adalah orang benar di hadapan Allah dan setia menaati semua perintah Tuhan.<br \/>\nTetapi apa yang menjadi doa dan kerinduan mereka tidaklah terwujud, yakni mendapatkan keturunan agar ada dari keluarga ini yang meneruskan garis keturunan suku Lewi dan menjadi imam Allah yang melayani di Bait Suci. Nanti di saat usia mereka sudah tua dan kelihatan mustahil mendapatkan anak, barulah doa mereka terkabul.<br \/>\nApakah betul doa mereka terkabul? Mendapatkan anak, ya! Tapi menjadi imam di Bait Suci, tidak! Apa yang terjadi dengan Yohanes Pembaptis? Ia justru tidak melanjutkan fungsi imamat suku Lewi mengikuti ayahnya Zakharia. Dan lebih tragis, Yohanes mati dipenggal kepalanya oleh Herodes. Maka orang bisa saja mengatakan, kalau begitu, lebih baik tidak lahir daripada mengalami nasib seperti itu.<br \/>\nTapi Injil diwartakan sebagai Kabar Gembira, bukan kabar duka. Bukan hanya bagi 1 keluarga tapi bagi seluruh umat manusia. Di sinilah kita melihat, betapa Keluarga Zakharia-Elisabet-Yohanes Pembaptis dipakai Tuhan untuk berita keselamatan datangnya Mesias, Yesus Tuhan kita, Penyelamat manusia.<br \/>\nBukanlah rancangan manusia yang menjadi ukuran pengabulan doa dan berhasilnya hidup, namun terlaksananya rancangan Allah melalui hidup dan karya kita. \u201cPakailah kami Tuhan, pribadi maupun keluarga kami, demi recanaMu yang indah, untuk menyatakan kasih karuniaMu bagi dunia dan umat manusia.\u201d<\/p>\n<p>Selamat hari baru. Biarlah rencana Allah terwujud dalam hidup kita\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 19 Des 2024<br \/>\nKamis Masa Adven<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBacaan Injil: Luk 1:5-25<br \/>\n************************************<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 1:5-25<br \/>\nKelahiran Yohanes Pembaptis diberitahukan oleh Gabriel.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Di zaman Herodes, raja Yudea,<br \/>\nhiduplah seorang imam yang bernama Zakharia,<br \/>\ndari kalangan imam Abia.<br \/>\nIsterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet.<br \/>\nKeduanya hidup benar di hadapan Allah,<br \/>\ndan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.<br \/>\nTetapi mereka tidak mempunyai anak,<br \/>\nsebab Elisabet mandul, dan keduanya telah lanjut usia.<br \/>\nSekali peristiwa, waktu tiba giliran kelompoknya,<br \/>\nZakharia melakukan tugas sebagai imam di hadapan Allah.<br \/>\nSebab ketika diundi,<br \/>\nsebagaimana lazimnya untuk menentukan imam yang bertugas,<br \/>\ndialah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait allah<br \/>\ndan membakar ukupan di situ.<br \/>\nPada saat pembakaran ukupan itu<br \/>\nseluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang.<br \/>\nMaka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan<br \/>\nberdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan.<br \/>\nMelihat kejadian itu Zakharia terkejut dan menjadi takut.<br \/>\nTetapi malaikat itu berkata kepadanya,<br \/>\n&#8220;Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan;<br \/>\nElisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu,<br \/>\ndan haruslah engkau menamai dia Yohanes.<br \/>\nEngkau akan bersukacita dan bergembira,<br \/>\nbahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya.<br \/>\nSebab ia akan besar di hadapan Tuhan,<br \/>\ndan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras;<br \/>\nia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya;<br \/>\nia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka,<br \/>\ndan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia<br \/>\nuntuk membuat hati para bapa berbalik kepada anak-anaknya,<br \/>\ndan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar.<br \/>\nDengan demikian<br \/>\nia menyiapkan suatu umat yang layak Tuhan.&#8221;<\/p>\n<p>Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu,<br \/>\n&#8220;Bagaimanakah aku tahu bahwa hal ini akan terjadi?<br \/>\nSebab aku sudah tua, dan isteriku pun sudah lanjut umurnya.&#8221;<br \/>\nJawab malaikat itu kepadanya,<br \/>\n&#8220;Akulah Gabriel yang melayani Allah.<br \/>\nAku telah diutus untuk berbicara dengan engkau<br \/>\ndan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu.<br \/>\nSesungguhnya, engkau akan menjadi bisu<br \/>\ndan tidak dapat berkata-kata<br \/>\nsampai kepada hari semuanya ini terjadi,<br \/>\nkarena engkau tidak percaya akan perkataanku<br \/>\nyang pada waktunya akan terbukti kebenarannya.&#8221;<\/p>\n<p>Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia.<br \/>\nMereka begitu heran bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci.<br \/>\nKetika ia keluar dan tidak dapat berkata-kata kepada mereka,<br \/>\nmengertilah mereka bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci.<br \/>\nLalu Zakharia memberi isyarat kepada mereka, sebab ia tetap bisu.<br \/>\nKetika selesai masa tugasnya, ia pulang ke rumah.<\/p>\n<p>Tak lama kemudian mengandunglah Elisabet, isterinya,<br \/>\ndan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri.<br \/>\nKatanya, &#8220;Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku!<br \/>\nSekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n****************************************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cSesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya.\u201d [Luk 1: 20]<\/p>\n<p>Hari ini, kita membaca kisah kunjungan malaikat kepada Zakharia. Ketika Zakharia sedang mempersembahkan ukupan di Ruang Mahakudus seorang malaikat memberitahukan kepadanya bahwa istrinya Elisabet, yang telah lanjut usia dan telah lama mandul, akan melahirkan seorang anak laki-laki. Seorang anak dipandang sebagai berkat yang besar, ketika harta benda, kedudukan, hak istimewa, dan kekuasaan diwariskan melalui garis keturunan. Oleh karena itu, Zakharia dan Elisabet juga mendambakan seorang anak, lebih-lebih anak laki-laki.<\/p>\n<p>Namun, Zakharia tidak percaya. Dia berkata di hadapan malaikat: &#8220;Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya.&#8221; Zakharia merasa bahwa waktu untuk berharap telah lama berlalu; alam mengatakan bahwa mereka telah melewati masa-masa subur. Dia dan istrinya telah pasrah pada takdir dan jalan alam.<\/p>\n<p>Kedatangan Yesus sebagai Mesias juga telah lama dinanti-nantikan oleh Umat Terpilih. Perasaan Zakharia bisa jadi mencerminkan harapan yang memudar di Israel di mana satu demi satu bangsa secara bergantian menyerang dan menjarah negeri itu. Dalam semua itu, tidak ada tanda-tanda bahwa doa-doa mereka dijawab, tak ada tanda datangnya Mesias.<\/p>\n<p>Banyak dari kita yang mungkin merasakan hal yang sama dalam hidup kita. Seakan-akan Tuhan membutuhkan waktu terlalu panjang sebelum Dia bertindak. Tetapi siapakah kita ini yang mempertanyakan Tuhan? Konsep kita tentang waktu adalah kronos (kronologi) dan kita khawatir dengan waktu kita yang terbatas, sehingga kita ingin memanfaatkan setiap momen dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi, konsep waktu Tuhan adalah kairos (penggenapan), waktu rahmat, dan bagi-Nya segala sesuatu dan setiap peristiwa memiliki waktu-waktu terbaiknya. Waktu Tuhan pasti yang terbaik!<\/p>\n<p>Oleh karena itu, memiliki iman yang besar kepada Tuhan berarti tidak hanya berharap &#8211; tetapi berharap dengan kesabaran. Marilah kita berdoa agar kebajikan ini menjadi salah satu berkat Adven kita.<\/p>\n<p>Renungkan, apa alasan Anda menjadi tidak sabar? Bawalah ini ke dalam doa.<\/p>\n<p>Tuhan, aku percaya kepada-Mu, atas rencana-Mu untuk hidupku. Aku percaya bahwa penundaan-Mu bukanlah penyangkalan; sering kali Engkau menunda untuk memberikan yang lebih sempurna sesuai rencana-Mu. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas. Tetap teguh percaya. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"EyXRrNLYMA\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/ketika-allah-menunda\/\">KETIKA ALLAH MENUNDA<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;KETIKA ALLAH MENUNDA&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/ketika-allah-menunda\/embed\/#?secret=ag3VO8WlJ7#?secret=EyXRrNLYMA\" data-secret=\"EyXRrNLYMA\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Kamis 19 Desember 2024 Lukas 1:6-7 (Luk 1:5-25) Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-67977","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/67977","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=67977"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/67977\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":67978,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/67977\/revisions\/67978"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=67977"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=67977"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=67977"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}