{"id":66813,"date":"2024-12-04T13:31:54","date_gmt":"2024-12-04T06:31:54","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=66813"},"modified":"2024-12-04T13:31:54","modified_gmt":"2024-12-04T06:31:54","slug":"rabu-04-desember-2024-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=66813","title":{"rendered":"Rabu, 04 Desember 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nRabu 04 Desember 2024<br \/>\nMatius 15:31 Mat 15:29-37)<br \/>\nMaka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel.<\/p>\n<p>Jaman Now Jaman Mesianis<\/p>\n<p>Bangsa Israel sudah lama menantikan datangnya Mesias yang akan memulihkan tahta Daud, raja kebanggaan mereka. Nabi Yesaya telah menggambarkan kedatangan Mesias dengan tanda-tanda mujizat, katanya, \u201cPada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai.\u201d (Yes 35:5-6)<br \/>\nJaman Mesianis sebagaimana dinubuatkan Nabi Yesaya terpenuhi dalam diri Yesus saat Ia memulihkan penglihatan orang buta, membuat orang tuli mendengar, orang bisu berbicara, orang lumpuh berjalan, dan orang lapar dikenyangkan, sebagaimana dikisahkan dalam Injil hari ini<br \/>\nBagaimana dengan jaman kita sekarang ini: apakah dapat disebut sebagai Jaman Mesianis? Tentu saja. Tahun-tahun sesudah kedatangan Yesus disebut Tahun Masehi atau Tahun Mesianis, dan berlangsung hingga selamanya.<br \/>\nMujizat penyembuhan akan terus terjadi dalam nama Yesus. Kita percaya, Yesus Sang Juruselamat sanggup memulihkan hidup kita. Jangan pernah bosan menyerukan nama Yesus. Nama di atas segala nama.<br \/>\nMari terus melanjutkan tanda-tanda mujizat Yesus dengan menjadikan mata kita \u201cmata untuk membantu sesama yang tidak dapat melihat sebagaimana yang kita lihat dalam Yesus. Mulut kita menjadi mulut yang dapat menyuarakan warta kasih dan kebenaran bagi orang yang bisu dan tak dapat menyuarakan isi hati dan keprihatinannya. Telinga kita menjadi telinga untuk mendengarkan curahan hati dan keluh kesah mereka yang tidak didengarkan. Kaki kita menjadi kaki yang mau berjalan bersama sesama yang butuh teman untuk melangkah bersama.\u201d<br \/>\nBiarlah orang yang merindukan Mesias melihat kehadiranNya dalam diri kita. Biarlah dunia tahu, Yesus hidup dan terus membuat mujizat dan pemulihan melalui murid-muridNya di jaman ini yang hatinya selalu tergerak oleh belaskasihan. Mari terus menghadirkan Yesus dalam hidup dan karya kita.<\/p>\n<p>Selamat menjalani hari baru, menjadi tanda kehadiran Tuhan di tengah dunia ini.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 04 Des 2024<br \/>\nRabu Masa Adven I<br \/>\nPF S. Yohanes dari Damsyik, Imam dan Pujangga Gereja<br \/>\nWarna Liturgi Ungu<br \/>\nMazmur Tanggapan: Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6<br \/>\nBacaan Injil: Mat 15:29-37<br \/>\n*************************************<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 15:29-37<br \/>\nYesus menyembuhkan banyak orang sakit dan melipat-gandakan roti.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Pada suatu ketika Yesus menyusur pantai Danau Galilea,<br \/>\nlalu naik sebuah bukit dan duduk di situ.<br \/>\nMaka datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya<br \/>\nmembawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta,<br \/>\norang bisu dan banyak lagi yang lain,<br \/>\nlalu meletakkan mereka pada kaki Yesus,<br \/>\ndan mereka semua disembuhkan-Nya.<br \/>\nMaka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata,<br \/>\norang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat;<br \/>\ndan mereka memuliakan Allah Israel.<\/p>\n<p>Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata,<br \/>\n&#8220;Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini.<br \/>\nSudah tiga hari mereka mengikuti Aku<br \/>\ndan mereka tidak mempunyai makanan.<br \/>\nAku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar,<br \/>\nnanti mereka pingsan di jalan.&#8221;<\/p>\n<p>Para murid menyahut,<br \/>\n&#8220;Bagaimana mungkin di tempat sunyi ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak<br \/>\nyang begitu besar jumlahnya?&#8221;<br \/>\nKata Yesus kepada mereka, &#8220;Berapa roti ada padamu?&#8221;<br \/>\n&#8220;Tujuh,&#8221; jawab mereka, &#8220;dan ada juga beberapa ikan kecil.&#8221;<br \/>\nYesus lalu menyuruh orang banyak itu duduk di tanah.<br \/>\nSesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu.<br \/>\nIa mengucap syukur, membagi-bagi roti itu<br \/>\ndan memberikannya kepada para murid.<br \/>\nLalu para murid membagikannya kepada orang banyak.<br \/>\nMereka semuanya makan sampai kenyang.<br \/>\nKemudian potongan-potongan roti yang sisa dikumpulkan,<br \/>\ntujuh bakul penuh.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**************************************<\/p>\n<p>EMBUN ROHANI PAGI DARI KOTA AMBON MANISE<\/p>\n<p>BARANG DAN MAKANAN HANYALAH SARANA<\/p>\n<p>Ketika datang ke Indonesia, Paus Fransiskus bertanya: \u201cApakah ketika engkau memberi sesuatu kepada orang miskin, engkau rela menyentuh tangan mereka?\u201d Itulah sentuhan kemanusiaan. Bagi Paus, sentuhan kemanusiaan lebih penting dari semua harta dan uang yang kita miliki.\u201d<\/p>\n<p>Keprihatinan dan tindakan nyata Yesus kepada orang miskin terekam dalam Injil hari ini: &#8220;Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.&#8221; ( ayat 32 )<\/p>\n<p>Karena itu, sadarlah akan beberapa hal sebagai berikut:<\/p>\n<p>1) Setiap kali engkau bertemu orang miskin, lapar dan menderita, janganlah berprasangka buruk atau bertanya mengapa, tapi segeralah menolong mereka;<\/p>\n<p>2) Keberadaan orang miskin, lapar dan menderita pasti disebabkan oleh berbagai faktor, namun abaikanlah semuanya itu, karena sesungguhnya mereka ada agar Anda melatih diri, mengetuk hati dan meringankan tangan untuk memberi dan berbagi;<\/p>\n<p>3) Temukanlah Yesus dalam wajah-wajah yang miskin, lapar dan menderita maka engkau tak pernah berhenti menolong dan berbagi kepada mereka.<\/p>\n<p>Akhirnya jangan biarkan seorang miskin, lapar dan menderita berlalu dari pandanganmu hari ini tanpa merasa diberkati olehmu.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas untuk para sahabat.<\/p>\n<p>Salam, doa dan berkatku ( + ) untuk semua.<br \/>\n( Dari: Mgr. Inno Ngutra : Minnong &#8211;\u00a0Duc\u00a0in\u00a0Altum\u00a0)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Rabu 04 Desember 2024 Matius 15:31 Mat 15:29-37) Maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel. Jaman&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":66662,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-66813","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/ardas-2025.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/66813","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=66813"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/66813\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":66814,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/66813\/revisions\/66814"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/66662"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=66813"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=66813"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=66813"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}