{"id":65862,"date":"2024-11-22T08:55:00","date_gmt":"2024-11-22T01:55:00","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=65862"},"modified":"2024-11-22T08:55:00","modified_gmt":"2024-11-22T01:55:00","slug":"jumat-22-november-2024-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=65862","title":{"rendered":"Jumat, 22 November 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nJumat 22 November 2024<br \/>\nLukas 19:45-46 (Luk 19:45-48)<br \/>\nYesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: &#8220;Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.&#8221;<\/p>\n<p>Ketika Yesus Harus Marah<\/p>\n<p>Ada saatnya Yesus harus marah. Bukan karena Ia membenci orang-orang yang bersalah, tapi untuk membersihkan hati yang kotor dan jahat, memurnikan pikiran yang sesat, serta memulihkan kesucian martabat putra putri Allah yang tercemar oleh dosa.<br \/>\nBila Yesus tidak marah berarti Dia tidak sayang karena membiarkan kuasa gelap menguasai manusia. Sama seperti orangtua yang tidak rela membiarkan anaknya tersesat dan menyimpang dari jalan yang benar.<br \/>\nSeperti kata pepatah, \u2018di ujung cemeti ada cinta,\u2019 demikianlah Yesus melakukan semuanya karena cinta. Entah Yesus harus marah, mengusir yang jahat, mengecam yang tidak benar, menegur yang salah, atau dengan lembut menyapa anak-anak kecil, membangkitkan semangat yang lemah dan hina, mengampuni yang berdosa, menyembuhkan yang sakit dan membangkitkan yang mati, semua Ia lakukan karena cinta.<br \/>\n\u201dCinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.&#8221; Demikian ditulis dalam Yohanes 2:17. Inilah alasan Yesus mengapa harus marah! Sebagai Gembala yang baik, Ia harus tegas bila tak ingin domba-dombanya diterkam oleh serigala. Oleh karena kemurnian cintaNya, Lukas mengatakan, \u201cseluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.\u201d (Luk 19:48).<br \/>\nSemoga kitapun tetap terpikat pada Yesus dan ingin selalu mendengarkan Dia, sekalipun perkataan Yesus sangat tajam menusuk dan menyakitkan. Yesus perlu menegur dan memarahi kita karena cintaNya agar kita dimurnikan, disucikan, dipulihkan dari penyakit dosa kita, dan kita kembali menjadi putra putri kesayangan Allah.<br \/>\n\u201dTerimakasih ya Yesus, Engkau tak henti mencintai kami, sekalipun kami banyak kali mengecewakanMu. Tegurlah kami bila menyimpang dari jalanMu. Angkatlah kami bila kami jatuh. Sucikan kami dari lumpur dosa dan tinggallah bersama kami. Jadikanlah hati kami baitMu yang kudus.\u201d<\/p>\n<p>Selamat hari Jumat. Hari Yesus tersalib oleh dosa kita. Mari berbalik kepada Tuhan\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 22 Nov 2024<br \/>\nJumat Pekan Biasa XXXIII<br \/>\nPW S. Sesilia, Perawan dan Martir<br \/>\nWarna Liturgi: Merah<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 10:27<br \/>\nBacaan Injil: Luk 19:45-48<br \/>\n************************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 10:27<br \/>\nDomba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, sabda Tuhan;<br \/>\nAku mengenal mereka, dan mereka mengikuti Aku.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 19:45-48<br \/>\nRumah-Ku telah kalian jadikan sarang penyamun.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Pada waktu itu<br \/>\nYesus tiba di Yerusalem dan masuk ke Bait Allah.<br \/>\nMaka mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ.<br \/>\nIa berkata, &#8220;Ada tertulis: Rumahku adalah rumah doa.<br \/>\nTetapi kalian telah menjadikannya sarang penyamun!&#8221;<\/p>\n<p>Tiap-tiap hari Yesus mengajar di Bait Allah.<br \/>\nPara imam kepala dan ahli Taurat<br \/>\nserta orang-orang terkemuka bangsa Israel<br \/>\nberusaha membinasakan Yesus.<br \/>\ntetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya,<br \/>\nsebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya<br \/>\ndan ingin mendengarkan Dia.<\/p>\n<p>Demikianlah Sabda Tuhan.<br \/>\n********##*****************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: &#8220;Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.\u201d [Lukas 19: 45 \u2013 46].<\/p>\n<p>Kita jumpai sosok Yesus yang berbeda hari ini. Bukankah Yesus adalah penjelmaan kasih Allah? Bukankah Dia lemah lembut dan rendah hati? Koq Dia marah?<\/p>\n<p>Pemurnian Bait Suci bukan hanya pembersihan bangunan suci Rumah Allah dari bisnis dan korupsi. Bait Suci melambangkan hubungan Allah dengan umat-Nya, dan melambangkan Tubuh Yesus sendiri. Bait Suci mewakili semua pengikut Kristus yang disebut oleh Santo Paulus sebagai \u201cbait Roh Kudus.\u201d<\/p>\n<p>Ketika Bait Sucir dicemari oleh para pedagang yang mencari uang, hubungan Israel dengan Allah telah dicemari oleh keserakahan dan pemberontakan. Para nabi, para utusan Allah telah dianiaya, bahkan dibunuh. Hal ini sangat menyakitkan hati Yesus sehingga dengan sebuah tindakan kenabian, Dia menunjukkan kepada orang-orang bagaimana mereka telah melukai kasih dan kebaikan Allah. Dan tidak lama kemudian mereka akan menangkap, menyiksa, dan bahkan membunuh Dia, Bait Allah yang sesungguhnya.<\/p>\n<p>Saat ini Yesus juga melihat kecemaran dari banyak bait Roh Kudus, diri kita sendiri. Ada orang-orang yang mengabaikan Tuhan dan melakukan hubungan seks pranikah tetapi kemudian mengeluh ketika seorang bayi ada dalam kandungan. Ada banyak pernikahan di mana pasangannya tidak setia. Ada orang-orang yang terlibat dalam korupsi dan akhirnya menderita. Begitu banyak kejahatan yang telah kita lakukan!<\/p>\n<p>Yesus ingin kita diselamatkan. Tetapi kita sering menjalani hidup seolah-olah tidak ada hari esok yang kekal. Lihatlah Yesus yang marah hari ini, pada rasa frustrasi seorang yang cintanya ditolak, rasa frustrasi orang tua yang mengasihi anak-anak yang tidak tahu berterima kasih. Apakah Anda ingin membuat Dia merasa sakit seperti itu?<\/p>\n<p>Dosa atau kebiasaan buruk apa yang paling mengotori bait Roh Kudus yaitu tubuh Anda? Apa yang akan Anda lakukan untuk menghindari dosa ini?<\/p>\n<p>Tuhan, setiap kali aku tergoda untuk berbuat dosa, ingatkan aku akan kasih-Mu dan betapa dosa itu sangat menyakitkan-Mu. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas hari ini. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"iTDNh3yswi\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/yesus-marah\/\">YESUS MARAH<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;YESUS MARAH&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/yesus-marah\/embed\/#?secret=A0LQgcDK16#?secret=iTDNh3yswi\" data-secret=\"iTDNh3yswi\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC*<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Jumat 22 November 2024 Lukas 19:45-46 (Luk 19:45-48) Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: &#8220;Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-65862","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/65862","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=65862"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/65862\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":65863,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/65862\/revisions\/65863"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=65862"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=65862"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=65862"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}