{"id":65561,"date":"2024-11-18T10:26:40","date_gmt":"2024-11-18T03:26:40","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=65561"},"modified":"2024-11-18T10:26:40","modified_gmt":"2024-11-18T03:26:40","slug":"senin-18-november-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=65561","title":{"rendered":"Senin, 18 November 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSenin 18 November 2024<br \/>\nLukas 18:41 (Luk 18:35-43)<br \/>\n\u201dApa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?&#8221; Jawab orang itu: &#8220;Tuhan, supaya aku dapat melihat!&#8221;<\/p>\n<p>Menyadari Kebutaan Kita<\/p>\n<p>Pada tahun 1955, dua psikolog Amerika, Joseph Luft dan Harry Ingham mengembangkan sebuah konsep psikologis yang digunakan untuk memahami dan meningkatkan kesadaran diri serta hubungan antara individu. Konsep ini mereka namakan \u2018Johari Window\u2019 (singkatan nama mereka Joseph dan Harry) atau \u2018Jendela Johari\u2019<br \/>\nJendela Johari ini terdiri dari 4 jendela atau kuadran untuk menggambarkan kesadaran diri kita. Jendela pertama, \u2018saya tahu (atau saya lihat) dan orang lain tahu (lihat).\u2019 Karena sama-sama tahu dan melihat, maka kita dapat saling berkomunikasi dan berbagi pengetahuan agar saling memperkaya pemahaman.<br \/>\nJendela ke dua \u2018saya tidak tahu (lihat) tapi orang lain tahu (lihat).\u2019 Dalam hal ini saya mesti rendah hati mengakui kebutaan saya dan meminta bantuan orang lain untuk membantu saya.<br \/>\nJendela ke tiga, \u2018saya tahu (lihat) tapi orang lain tidak tahu (lihat).\u2019 Di sini saya tergerak untuk membantu orang lain meningkatkan kesadaran diri, dari apa yang saya tahu dan saya lihat tapi tidak dilihatnya.<br \/>\nJendela ke empat, \u2018saya tidak tahu (lihat) dan orang lain juga tidak tahu (lihat).\u2019 Dalam hal ini harus kita akui ada banyak misteri kehidupan yang tidak kita lihat dengan mata biasa. Ada begitu banyak realitas kehidupan yang tidak kita pahami atau mengerti. Maka dengan rendah hati kita datang pada Tuhan Yesus dan berseru seperti si buta dari Yeriko, \u201cTuhan tolong aku, tolong kami, supaya dapat melihat.\u201d<br \/>\nYesus menolong kita untuk melihat dengan \u2018mata iman\u2019. Firman Tuhan membantu kita untuk memahami misteri kasih Allah di balik salib derita untuk melihat pengorbanan dan kasih Tuhan bagi kita.<br \/>\nYesus sanggup memulihkan penglihatan kita untuk melihat karya Allah, pun dalam segala keterbatasan penglihatan kita atau dalam duka nestapa kehidupan.<br \/>\nSadarilah kebutaan kita dan memohon Yesus untuk membuka mata kita. Dengan mata iman, muliakanlah Tuhan, dan jadilah saksi kebaikan dan kemuliaan Allah.<\/p>\n<p>Semangat Senin. Yesus ada di setiap jendela hidup kita membantu kita melihat kebaikan Tuhan.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 18 Nov 2024<br \/>\nSenin Pekan Biasa XXXIII<br \/>\nPF Gereja Basilik S. Petrus dan Paulus, Rasul<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 8:12<br \/>\nBacaan Injil: Luk 18:35-43<br \/>\n**********************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 8:12<br \/>\nAkulah terang dunia.<br \/>\nBarangsiapa mengikuti Aku, ia akan mempunyai terang hidup.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 18:35-43<br \/>\nApa yang kau inginkan Kuperbuat bagimu?<br \/>\nTuhan, semoga aku melihat.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Ketika Yesus hampir tiba di Yerikho,<br \/>\nada seorang buta duduk di pinggir jalan dan mengemis.<br \/>\nKarena mendengar orang banyak lewat, ia bertanya,<br \/>\n&#8220;Ada apa itu?&#8221;<br \/>\nKata orang kepadanya, &#8220;Yesus, orang Nazaret, sedang lewat.&#8221;<\/p>\n<p>Maka si buta itu berseru, &#8220;Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!&#8221;<br \/>\nOrang-orang yang berjalan di depan menyuruh dia diam.<br \/>\nTetapi semakin kuat ia berseru,<br \/>\n&#8220;Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!&#8221;<\/p>\n<p>Maka Yesus pun berhenti<br \/>\ndan menyuruh orang mengantar dia kepada-Nya.<br \/>\nKetika si buta itu sudah dekat, Yesus bertanya kepadanya,<br \/>\n&#8220;Apa yang kauinginkan Kuperbuat bagimu?&#8221;<br \/>\nJawab orang itu, &#8220;Tuhan, semoga aku melihat!&#8221;<\/p>\n<p>Maka Yesus berkata,<br \/>\n&#8220;Melihatlah, imanmu telah menyelamatkan dikau!&#8221;<br \/>\nPada saat itu juga ia melihat,<br \/>\nlalu mengikuti Yesus sambil memuliakan Allah.<br \/>\nSeluruh rakyat menyaksikan peristiwa itu dan memuji-muji Allah.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**************************************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201dTuhan, supaya aku dapat melihat!\u201d (Luk 18: 41)<\/p>\n<p>Sebuah artikel mengatakan bahwa 80% dari aktivitas kita tergantung pada mata kita. 80% itu bukan jumlah yang kecil. Maka orang yang buta secara total hanya mempunyai 20% sisanya. Mereka tidak dapat main sepak bola, bahkan hanya nonton pun tidak bisa. Lapangan kerja mereka terbatas, tidak bisa nonton film, tidak menikmati jalan-jalan di mall, dsb.<\/p>\n<p>Injil hari ini berkisah tentang penyembuhan seorang buta. Orang buta itu memohon kepada Yesus untuk disembuhkan. Tetapi orang-orang di sekitarnya menyuruhnya diam: \u201cMereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam.\u201d Tetapi semakin keras ia berseru: \u201cAnak Daud, kasihanilah aku!\u201d<\/p>\n<p>Orang buta itu menyebut Yesus: \u201cAnak Daud.\u201d Ia melihat jauh melebihi orang-orang sezamannya. Memanggil-Nya dengan gelar kehormatan \u201cAnak Daud\u201d menunjukkan imannya kepada Yesus. Dengan memanggil-Nya \u201canak Daud,\u201d maka ia telah mengakui-Nya sebagai Mesias, Sang Juruselamat.<\/p>\n<p>Yesus mungkin terkejut si buta itu memanggil-Nya dengan sebutan itu. Ia menyuruh agar orang itu dibawa kepada-Nya. \u201cApa yang kaukehendaki Aku perbuat bagimu?\u201d tanyanya. \u201cTuhan, supaya aku dapat melihat!\u201d pintanya. Melihat iman orang buta itu, Yesus berkata: \u201cMelihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau.\u201d<\/p>\n<p>Seorang yang buta tidak dapat melihat adalah sebuah fakta. Namun ia yang tidak dapat melihat dengan matanya itu dapat melihat dengan mata iman, dengan mata hati. Acap kali, kita yang mempunyai mata yang lengkap untuk melihat, tidak ingin melihat. Kita menjadikan diri kita buta karena tidak ingin melihat kebutuhan sesama, seperti orang-orang lain dalam Injil hari ini. Kita melihat anak-anak kecil mengemis untuk bertahan hidup tapi kita berkata, \u201cAh..mereka itu toh ada yang mengorganisir\u2026buat apa kita memberi.\u201d Kita melihat orang mengalami kecelakaan tetapi kita berkata, \u201cItu urusan polisi. Buat apa merepotkan diri?\u201d Seorang saudara datang tetapi dia belum minta maaf atas kesalahannya, maka saya tidak mau melihatnya.<\/p>\n<p>Jadi, siapa yang ingin tidak kita lihat? Kepada siapa kita menutup mata? Tuhan memberi kita mata agar kita dapat melihat. Tuhan juga memberi kita hati agar dapat melihat dengan lebih baik.<\/p>\n<p>Tuhan, semoga aku dapat melihat. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas di pekan yang baru. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"xkzz69EM1E\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/tuhan-supaya-aku-dapat-melihat\/\">TUHAN, SUPAYA AKU DAPAT MELIHAT!<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;TUHAN, SUPAYA AKU DAPAT MELIHAT!&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/tuhan-supaya-aku-dapat-melihat\/embed\/#?secret=gbVAtNpVCM#?secret=xkzz69EM1E\" data-secret=\"xkzz69EM1E\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Senin 18 November 2024 Lukas 18:41 (Luk 18:35-43) \u201dApa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?&#8221; Jawab orang itu: &#8220;Tuhan, supaya aku dapat melihat!&#8221; Menyadari Kebutaan Kita Pada tahun 1955, dua psikolog Amerika,&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-65561","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/65561","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=65561"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/65561\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":65562,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/65561\/revisions\/65562"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=65561"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=65561"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=65561"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}