{"id":65092,"date":"2024-11-12T09:08:38","date_gmt":"2024-11-12T02:08:38","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=65092"},"modified":"2024-11-12T09:08:38","modified_gmt":"2024-11-12T02:08:38","slug":"selasa-12-november-2024-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=65092","title":{"rendered":"Selasa, 12 November 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSelasa 12 November 2024<br \/>\nPeringatan St Yosafat_<br \/>\nLukas 17:10 (Luk 17:7-10)<br \/>\n\u201dDemikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.&#8221;<\/p>\n<p>Hamba Yang Bahagia<\/p>\n<p>Yesus datang ke dunia dengan mengambil rupa seorang Hamba. Ia menjadi Pelayan Allah dan umat manusia, meskipun Ia adalah Sang Mesias, Penebus dan Penyelamat, Raja Semesta Alam.<br \/>\nJalan Yesus adalah jalan kita. Mengambil rupa seorang hamba adalah sukacita dan kebahagiaan kita karena dapat ikut melayani bersama Yesus, memberi diri sebagai pelayan. Kerendahan hati Yesus biarlah menjadi prinsip hidup kita seperti kata Yesus, \u201cAku datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.\u201d<br \/>\nLihatlah Bunda Maria ketika dipanggil Allah untuk menjadi Bunda Yesus dengan rendah hati berserah, \u201cAku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu.\u201d<br \/>\nHidup sebagai pelayan sungguh diberkati Allah karena kita menjadi hamba Tuhan untuk melayani sesama. Bahkan Sri Paus disebut sebagai \u2018hamba segala hamba Allah.\u2019 (Servus Servorum Dei).<br \/>\nMemang rasanya sudah langka mendapatkan orang yang punya hati sebagai hamba. Tapi biarlah kita menjadi salah satu dari orang-orang yang langka ini karena berani melawan arus dunia yang selalu menggoda kita untuk menjadi tuan besar yang mesti dihormati dan berada di tempat tinggi. Bahagianya hati ketika kita dapat dipakai Tuhan untuk melayani pekerjaan-pekerjaan Tuhan. Hidup menjadi penuh makna karena dapat melayani, seperti Yesus telah melayani kita.<br \/>\nJadilah abdi yang setia untuk bangsa dan negara, gereja dan jemaat Tuhan, komunitas dan organisasi, institusi dan kelompok, di mananapun kita hidup dan berkarya.<br \/>\n\u201dYa Bapa, Inilah aku, utuslah aku. Berilah aku hati sebagai hamba yang rendah hati. Amin.\u201d<\/p>\n<p>Selamat mengabdi dengan penuh sukacita, Tuhan Yesus memberkati kita.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 12 Nov 2024<br \/>\nSelasa Pekan Biasa XXXII<br \/>\nPW S. Yosafat, Uskup dan Martir<br \/>\nWarna Liturgi: Merah<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 14:23<br \/>\nBacaan Injil: Luk 17:7-10<br \/>\n***********************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 14:23<br \/>\nBarangsiapa mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku.<br \/>\nBapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 17:7-10<br \/>\nKami ini hamba-hamba tak berguna;<br \/>\nkami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Yesus bersabda kepada para murid,<br \/>\n&#8220;Siapa di antaramu yang mempunyai seorang hamba<br \/>\nyang membajak atau menggembalakan ternak baginya,<br \/>\nakan berkata kepada hamba itu waktu ia pulang dari ladang,<br \/>\n&#8216;Mari segera makan&#8217;?<br \/>\nBukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu,<br \/>\n&#8216;Sediakanlah makananku.<br \/>\nIkatlah pinggangmu dan layanilah aku<br \/>\nsampai selesai aku makan dan minum!<br \/>\nDan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.&#8217;<br \/>\nAdakah ia berterima kasih kepada hamba itu,<br \/>\nkarena ia telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?<\/p>\n<p>Demikian jugalah kalian.<br \/>\nApabila kalian telah melakukan segala sesuatu<br \/>\nyang ditugaskan kepadamu,<br \/>\nhendaklah kalian berkata,<br \/>\n&#8216;Kami adalah hamba-hamba tak berguna;<br \/>\nkami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan&#8217;.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***************************************<\/p>\n<p>MELAYANI ATAU MENGABDI &#8220;YANG LAIN&#8221; DENGAN TULUS, SUNGGUH2 DAN SEBAIK-BAIKNYA<br \/>\n(RD. John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng)<\/p>\n<p>Pesta St. Yosafat, Uskup dan Martir<\/p>\n<p>Semangat baru yang diajarkan Yesus dalam Injil hari ini terletak pada KEHEBATAN HAMBA\/PELAYAN YANG SETIA MELAYANI TUANNYA. Hamba ato pelayan atau Abdi berani &#8220;mengorbankan\/mengabdikan&#8221; dirinya utk melayani tuannya dengan sepenuh hati dan tulus. Dia selalu berusaha utk berikan yang terbaik dan terindah utk yang dilayaninya. &#8220;Siapa di antaramu yang mempunyai seorang hamba, yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kp hamba itu waktu ia pulang dari ladang, &#8216;Mari segera makan? &#8216; Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu, &#8216;Sediakanlah makananku! Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai aku selesai makan dan minum&#8217;! Dan sesudah itu engkau boleh makan atau minum. Adakah ia berterimakasih kepada hamba itu, karena ia telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?&#8221; (Luk. 17:7-9).<\/p>\n<p>Hati dan semangat saya, anda mestinya seperti hati dan semangat seorang hamba yang HANYA ADA WAKTU UTK MELAYANI TUHAN dan ORANG LAIN dengan sebaik2nya, sesudah itu baru &#8220;urus\/layani&#8221; diri sendiri dg sebaik2nya juga. Itulah spiritualitas pelayan\/hamba\/abdi. Tuhan dan orang lain menjadi &#8220;fokus&#8221;. Itulah juga spiritualitas Yesus Kristus. Hamba\/pelayan yg baik tidak akan membanggakan dirinya sebagai pelayan. Dia tidak mencari popularitas, melainkan merasa senang dan gembira dan bahagia menjalankan tugas dan pelayanan yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya. Merasa bahagia dengan dan karena membahagiakan &#8220;yang lain&#8221;. Dia menganggap diri sebagai hamba yang &#8220;tidak berguna&#8221; dan hanya siap melakukan yg terbaik dan terindah utk &#8220;yang lain&#8221; (Tuhan dan orang lain dan alam ciptaan\/lingkungan hidup lainnya). &#8220;Kami ini hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan&#8221; (Luk. 17:10).<\/p>\n<p>Selamat melayani atau mengabdi &#8220;yang lain&#8221; (Tuhan dan orang lain serta seluruh alam ciptaan\/lingkungan hidup lainnya). Selamat menjadi pelayan\/abdi yang baik! Berikanlah yg terbaik dan terindah utk Tuhan, orang lain dan diri sendiri &#8220;saat ini di dini&#8221;!<\/p>\n<p>Semoga dengan bantuan doa St. Yosafat), Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati saya, anda sekalian yang telah &#8220;melayani\/mengabdi&#8221; Tuhan, orang lain dan lingkungan hidup\/alam ciptaan lainnya dengan tulus, sungguh2 dan sebaik-baiknya.\u00a0Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Selasa 12 November 2024 Peringatan St Yosafat_ Lukas 17:10 (Luk 17:7-10) \u201dDemikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna;&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-65092","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/65092","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=65092"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/65092\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":65093,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/65092\/revisions\/65093"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=65092"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=65092"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=65092"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}