{"id":64302,"date":"2024-11-03T10:00:04","date_gmt":"2024-11-03T03:00:04","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=64302"},"modified":"2024-11-03T10:00:04","modified_gmt":"2024-11-03T03:00:04","slug":"minggu-03-november-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=64302","title":{"rendered":"Minggu, 03 November 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nMinggu 04 November 2024<br \/>\nMarkus 12:28b (Mrk 12:28b-34)<br \/>\nSeorang ahli Taurat datang kepada Yesus dan bertanya: \u201cHukum manakah yang paling utama?&#8221;<\/p>\n<p>Cinta Yang Sejati<\/p>\n<p>Kita semua tahu jawaban dari pertanyaan si Ahli Taurat, sebagaimana telah dijawab Yesus. Hukum yang paling utama adalah Hukum Cinta Kasih baik terhadap Tuhan maupun sesama.<br \/>\nLantas orang kemudian bertanya lagi: bukankah semua agama mengajarkan hukum cinta kasih, kalau begitu apa beda hukum cintakasih Yesus dengan hukum cintakasih yang juga diajarkan tokoh-tokoh agama lain?<br \/>\nJawabannya ada pada Yesus, seperti yang disabdakanNya, \u201cTidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.&#8221; (Yoh 15:13).<br \/>\nYesus mencintai sampai mati, bukan hanya setengah mati. Dan Yesus meminta kita untuk melakukan yang sama, saling mencintai sebagaimana Ia telah mencintai kita. &#8220;Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.&#8221; (Yoh 15:12).<br \/>\nYesus mencintai kita bukan karena kita baik. Bukan juga karena kita telah mencintai Dia atau kita telah berjasa karena telah banyak berbuat baik.<br \/>\nIngatlah kata Paulus, \u201cKristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.\u201d (Rom 5:8b). Inilah cinta yang sejati. Tanpa syarat dan perhitungan apapun.<br \/>\nSekalipun cinta kita masih jauh dari cinta Yesus, mari terus berjuang membaharui dan memperdalam kesungguhan hati kita untuk mencintai setulus-tulusnya, sampai sehabis-habisnya.<br \/>\n\u201dYa Yesus, kobarkanlah cinta di hatiku, agar aku dapat mencintai sebagaimana Engkau telah mencintaiku. Bila hatiku terluka karena mencintai, pedih karena ditolak dan tidak dihargai, kuatkanlah aku agar tak menyerah dan tak pernah berhenti mencintaiMu dan mencintai sesamaku. Amin.\u201d<\/p>\n<p>Selamat hari Minggu. Mari ke Gereja untuk bersyukur atas cinta Tuhan bagi kita\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 03 Nov 2024<br \/>\nMinggu Pekan Biasa XXXI<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 14:23<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 12:28b-34<br \/>\n**************************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 14:23<br \/>\nJika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku.<br \/>\nBapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 12:28b-34<br \/>\nInilah perintah yang paling utama,<br \/>\ndan perintah yang kedua sama dengan yang pertama.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Pada suatu hari<br \/>\ndatanglah seorang ahli Taurat kepada Yesus<br \/>\ndan bertanya, &#8220;Perintah manakah yang paling utama?&#8221;<br \/>\nYesus menjawab,<br \/>\n&#8220;Perintah yang paling utama ialah:<br \/>\nDengarlah, hai orang Israel,<br \/>\nTuhan Allah kita itu Tuhan yang esa!<br \/>\nKasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati,<br \/>\ndengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi,<br \/>\ndan dengan segenap kekuatanmu.<br \/>\nDan perintah yang kedua ialah:<br \/>\nKasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.<br \/>\nTidak ada perintah lain yang lebih utama<br \/>\ndari pada kedua perintah ini.&#8221;<\/p>\n<p>Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus,<br \/>\n&#8220;Guru, tepat sekali apa yang Kaukatakan,<br \/>\nbahwa Allah itu esa, dan tidak ada Allah lain kecuali Dia.<br \/>\nMemang mengasihi Dia dengan segenap hati,<br \/>\ndengan segenap pengertian, dan dengan segenap kekuatan,<br \/>\nserta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri<br \/>\njauh lebih utama daripada semua kurban bakar dan persembahan.&#8221;<\/p>\n<p>Yesus melihat betapa bijaksana jawab orang itu.<br \/>\nMaka Ia berkata kepadanya,<br \/>\n&#8220;Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!&#8221;<br \/>\nDan tak seorang pun masih berani menanyakan sesuatu kepada Yesus.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n****************************************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cHukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.\u201d (Mrk 12: 31)<\/p>\n<p>Pesan utama dari bacaan-bacaan hari ini adalah prinsip yang paling mendasar dari semua agama, terutama kekrsitenan, yaitu mengasihi Allah di dalam diri-Nya dan di dalam diri sesama. Bacaan Kitab Suci hari ini mengingatkan kita bahwa kita diciptakan untuk mengasihi Allah dengan mengasihi sesama; dan mengasihi sesama sebagai ungkapan kasih kita kepada Allah. Praktik-praktik kesalehan kita dimaksudkan untuk menolong kita mengakui dan menghargai kehadiran Allah di dalam diri sesama kita dan untuk mengekspresikan kasih kita kepada Allah dengan melayani sesama kita dengan kasih serta berbagi berkat dengan mereka.<\/p>\n<p>Bacaan pertama berisi penjelasan Musa tentang Hukum Taurat kepada bangsa Israel setelah kembali dari Gunung Sinai. Hormat dan taat terhadap Hukum Taurat akan memberi mereka martabat, tujuan, kedudukan, perbedaan, dan tempat yang unik dalam sejarah. Ia mengingatkan mereka bahwa menaati perintah-perintah Allah akan memberikan mereka berkat-berkat Allah berupa umur panjang, kemakmuran, dan kehidupan yang penuh dengan kedamaian. Mazmur Tanggapan (Mzm. 18) mengundang kita untuk mengasihi Tuhan karena Dia adalah kekuatan dan benteng perlindungan kita. Dalam Injil, seorang ahli Taurat meminta Yesus untuk merangkum hal-hal yang paling penting dari Hukum Taurat dalam satu kalimat. Yesus mengutip kalimat pertama dari Shema Yahudi: \u201cDengarlah, hai orang Israel, Tuhan, Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu\u201d (Ulangan 6:4). Kemudian Yesus menambahkan hukum pelengkapnya: \u201cKasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri\u201d (Luk 19:18; Mrk 12: 31). Dengan demikian agama yang sejati adalah mengasihi Tuhan dan sekaligus mengasihi sesama manusia. Dengan menunjukkan kasih yang tulus dan aktif kepada sesama, kita dapat menunjukkan bahwa kita sungguh-sungguh mengasihi Allah.<\/p>\n<p>Apa pesan bagi hidup kita?<br \/>\n1. Bagaimana kita mengasihi Allah? Kasih kita kepada Allah kita nyatakan dengan menaati perintah-perintah-Nya dan dengan doa-doa kita. Kita juga perlu membaca dan merenungkan firman-Nya dalam Kitab Suci dan berpartisipasi secara aktif dalam Misa Kudus dan kegiatan liturgis lainnya. Jika saya ingin mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan saya, saya harus mencari kehendak Tuhan, dan kemudian melakukannya, sebagai hal yang terpenting dalam hidup saya. Secara keseluruhan, mengasihi Tuhan berarti membuka hati kita, memberikan kehendak kita kepada-Nya, mengembangkan pikiran kita, menguatkan kehendak kita, mengarahkan emosi kita, menggunakan tubuh kita, dan mengerahkan sumber daya kita dengan cara-cara yang menyatakan kasih kita kepada-Nya dalam pelayanan yang aktif dan penuh kasih kepada-Nya dan kepada setiap orang yang kita temui.<br \/>\n2. Bagaimana kita mengasihi sesama kita? Kita mengasihi sesama dengan menolong, mendukung, mendorong, mengampuni, dan mendoakan semua orang tanpa diskriminasi apapun. Jika saya mengasihi sesama saya seperti saya mengasihi diri saya sendiri, atau seperti Yesus mengasihi saya, maka saya harus mengalami penderitaan seperti yang dialami oleh Yesus! Saya mungkin harus mencari pengampunan ketika saya merasa telah melakukan kesalahan. Saya mungkin harus mengorbankan sesuatu yang saya pikir saya butuhkan, untuk memenuhi kebutuhan seorang saudara. Saya mungkin harus meluangkan waktu untuk berdoa bagi orang lain dan menjangkau mereka, menolong, mendorong, dan mendukung mereka dalam nama Tuhan.<\/p>\n<p>Tuhan Allah kami, Bapa yang penuh kasih, kasih yang sejati berasal dari-Mu dan mengarah kepada-Mu. Engkau telah mengikatkan diri-Mu kepada kami dalam sebuah perjanjian kasih yang kekal dalam diri Yesus Kristus. Tolonglah kami untuk menanggapi kasih-Mu dengan seluruh keberadaan kami dan untuk menghidupi perintah-perintah-Mu bukan sebagai hukum yang dipaksakan kepada kami, tetapi sebagai kesempatan untuk mengasihi Engkau dalam diri-Mu sendiri dan dalam diri sesama, saudara-saudari kami. Amin.<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu. Selamat mengasihi Allah dan sesama. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"WkFNol6Hh4\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/kasih-puncak-dan-rangkuman-semua-perintah\/\">KASIH: PUNCAK DAN RANGKUMAN SEMUA PERINTAH<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;KASIH: PUNCAK DAN RANGKUMAN SEMUA PERINTAH&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/kasih-puncak-dan-rangkuman-semua-perintah\/embed\/#?secret=m1ZydEhSH3#?secret=WkFNol6Hh4\" data-secret=\"WkFNol6Hh4\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Minggu 04 November 2024 Markus 12:28b (Mrk 12:28b-34) Seorang ahli Taurat datang kepada Yesus dan bertanya: \u201cHukum manakah yang paling utama?&#8221; Cinta Yang Sejati Kita semua tahu jawaban dari pertanyaan si Ahli&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-64302","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/64302","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=64302"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/64302\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":64303,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/64302\/revisions\/64303"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=64302"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=64302"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=64302"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}