{"id":6402,"date":"2015-11-12T10:17:29","date_gmt":"2015-11-12T03:17:29","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=6402"},"modified":"2016-04-29T22:26:02","modified_gmt":"2016-04-29T15:26:02","slug":"in-memoriam-mgr-johannes-pujasumarta-duc-in-altum","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=6402","title":{"rendered":"In Memoriam Mgr. Johannes Pujasumarta: Duc in Altum"},"content":{"rendered":"<div>\n<p><strong>LANTARAN<\/strong> gesit memberitakan semboyan pastoralnya sebagai Uskup Agung Semarang dan sebelumnya Uskup Diosis Bandung, alm. Mgr. Johannes Trilaksyanto Pujasumarta ikut mempopulerkan istilah Latin yang merupakan kutipan Injil: <em>Duc in Altum<\/em>.(<strong>Baca<a href=\"http:\/\/www.sesawi.net\/2015\/11\/11\/rip-uskup-agung-semarang-mgr-johannes-pujasumarta\/\">:<\/a><\/strong><a href=\"http:\/\/www.sesawi.net\/2015\/11\/11\/rip-uskup-agung-semarang-mgr-johannes-pujasumarta\/\">\u00a0 Breaking News: RIP Uskup Agung Semarang Mgr. Johannes Pujasumarta)<\/a><\/p>\n<p>Terjemahannya adalah \u201cBertolaklah ke tempat yang dalam\u201d. Selanjutnya, kalimat itu akan langsung bersambung dengan kalimat yang berbunyi: \u201d \u2026. dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.\u201d (Luk. 5:4).<\/p>\n<p>Kutipan kalimat dalam Injil Lukas yang kemudian menjadi <em>tagline<\/em> misi pastoral Mgr. Pujasumarta ini dalam sekejap menjadi populer berkat keaktifan alm. Mgr. Pujasumarta mempublikasikan semangat pastoralnya. Salah satu tautan yang membicarakan ini bisa dilihat pada blog pribadi alm. Mgr. Pujasumarta dengan alamat ini:<a href=\"http:\/\/www.pujasumarta.blogspot.co.id\"> www.pujasumarta.blogspot.co.id.<\/a><\/p>\n<p><strong>Di balik semangat \u201cduc in altum\u201d<\/strong><\/p>\n<p>Di bawah ini adalah\u00a0 tulisan lengkap alm. Mgr. Johannes Pujasumarta ketika bertutur kata tentang semangat pastoral <em>duc in altum<\/em>.<\/p>\n<p>\u201c<i><b>Duc in altum\u2026!\u201d <\/b><\/i>Sabda Tuhan kepada murid-murid-Nya di pantai danau Galilea 2.000 tahun yang lalu, terdengar nyaring sekarang ini pula, <i>\u201cBertolaklah ke tempat yang dalam\u2026.!\u201d<\/i>.<\/p>\n<p>Dengan kata-kata tersebut kita diajak untuk memberi makna mendalam pada peristiwa kebersamaan kita, ketika kita merayakan Tahbisan Uskup sebagai peristiwa iman Gereja. Ajakan itulah yang saya sampaikan ketika saya ditahbiskan menjadi Uskup Bandung, 16 Juli 2008. dan tercantum pada Surat Gembala Uskup pada Awal Tugas Penggembalaan, 19\/20 Juli 2008.<\/p>\n<p>Ajakan tersebut meneguhkan saya dan banyak saudara lain untuk bertolak ke tempat yang dalam, dan menebarkan jala untuk menangkap ikan melalui jala-jala internet, karena internet dapat menjadi media perwartaan kabar suka cita untuk meningkatkan mutu kehidupan pada zaman kita.<\/p>\n<p>Karena kita menyadari ada banyak kepentingan dapat melekat pada jala-jala internet tersebut, misalnya kepentingan bisnis komersial, perlulah kita memurnikan motivasi kita menggunakan sarana komunikasi yang disediakan pada zaman modern sekarang ini. Motivasi yang tidak murni dalam penggunaan jala zaman sekarang untuk meningkatkan mutu kehidupan dapat menjadi penyebab jala mulai koyak, bila ikan yang kita peroleh begitu banyak.<\/p>\n<p>Kebangkitan Kristus menjadi daya kekuatan bagi kita untuk memurnikan motivasi kita dalam menggunakan jala dengan semangat baru. Ia yang bangkit telah berkata kepada para murid pada hari setelah kebangkitan-Nya, ketika mereka sedang berada di pantai Tiberias, \u201cTebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu\u201d (Yo. 21:6).<\/p>\n<p>Kesediaan kita melaksanakan kehendak-Nya merupakan bagian kita, agar dapat menyaksikan mukjizat, seperti dulu dialami Simon Petrus. Dulu, \u201cSimon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak.\u201d (Yoh 21:11).<\/p>\n<p>Pada jala zaman kita website <b><a href=\"http:\/\/www.pujasumarta.web.id\/\">http:\/\/www.pujasumarta.web.id<\/a>; <a href=\"http:\/\/pujasumarta.blogspot.com\/\">http:\/\/pujasumarta.blogspot.com<\/a>\/ <\/b>diciptakan, agar kita mengalami, bahwa Ia hidup menyertai kita, dan kita pun memiliki hati yang peka pada kehadiran-Nya, sehingga kita pun dapat berseru seperti murid yang dikasihi Tuhan, \u201c<b><i>Itu Tuhan!\u201d<\/i> <\/b>(Yoh 21:7), ketika menyaksikan pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan-Nya pada zaman kita sekarang ini,<\/p>\n<p>Salam, doa \u2018n Berkah Dalem,<\/p>\n<p>Semarang, 20 November 2012<\/p>\n<p><strong>+ Johannes Pujasumarta<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kredit foto: Ist<\/p>\n<p>Sumber http:\/\/www.sesawi.net\/<\/p>\n<p>Link<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.sesawi.net\/2015\/11\/11\/in-memoriam-mgr-johannes-pujasumarta-uskup-gaul-internet-2\/\" target=\"_blank\">In Memoriam Mgr. Johannes Pujasumarta: Uskup Gaul Internet (2)<\/a><\/p>\n<\/div>\n<div><a href=\"http:\/\/www.sesawi.net\/2015\/11\/11\/in-memoriam-mgr-johannes-pujasumarta-hilangkan-jurang-komunikasi-uskup-umat-7\/\" target=\"_blank\">In Memoriam Mgr. Johannes Pujasumarta: Hilangkan Jurang Komunikasi Uskup \u2013 Umat (7)<\/a><\/div>\n<div><a href=\"http:\/\/www.sesawi.net\/2015\/11\/11\/in-memoriam-mgr-johannes-pujasumarta-mewarisi-tradisi-adorasi-ekaristi-8\/\" target=\"_blank\">In Memoriam Mgr. Johannes Pujasumarta: Mewarisi Tradisi Adorasi Ekaristi (8)<\/a><\/div>\n<div><a href=\"http:\/\/www.sesawi.net\/2015\/11\/11\/in-memoriam-mgr-johannes-pujasumarta-salam-ehem-9\/\" target=\"_blank\">In Memoriam Mgr. Johannes Pujasumarta: Salam Ehem (9)<\/a><\/div>\n<div><a href=\"http:\/\/www.sesawi.net\/2015\/11\/11\/in-memoriam-mgr-johannes-pujasumarta-tak-punya-ikat-pinggang10\/\" target=\"_blank\">In Memoriam Mgr. Johannes Pujasumarta: Tak Punya Ikat Pinggang(10)<\/a><\/div>\n<div><\/div>\n<div><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/nwojKyLItxg\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/div>\n<div>Sumber https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=nwojKyLItxg<\/div>\n<div><\/div>\n<div><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/iGCaEiCdxrY\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/div>\n<div>Sumber https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=iGCaEiCdxrY<\/div>\n<div>Mengakui dan mengungkapkan pengakuan akan Tuhan Allah yang Maha Pengasih dan Pengampun, yang selalu berbelaskasih kepada siapa pun yang mau bertobat dan hidup sesuai kehendakNya dapat diungkapkan dengan cara yang sangat sederhana sebagaimana dalam lagu ini.<\/div>\n<div><\/div>\n<div><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/qY_xYs_u_SI\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/div>\n<div>Sumber https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=qY_xYs_u_SI<\/div>\n<div>Judul lengkapnya: &#8220;Kutabur benih Firman di taman Getsemani&#8221;. Sebuah lagu yang menggambarkan bagaimana perjuangan manusia untuk dapat menyambut dan menanggapi kebaikan Tuhan yang menabur benih firmanNya kepada umat manusia.<\/div>\n<div><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/J8jMf7Z3Cco\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/div>\n<div>Sumber https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=J8jMf7Z3Cco<\/div>\n<div>Lagu Kembangkan Senyummu ini diambil dari album Kembangkan Senyummu volume 2 yang diciptakan oleh Rm. J. Pujasumarta Pr, ketika menjabat sebagai VikJen Keuskupan Agung Semarang.<br \/>\nBeliau mengajak umat untuk meresapkan iman dengan bernyanyi, karena bernyanyi itu berdoa dua kali.<\/div>\n<div><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/igDRIw8agTg\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/div>\n<div>Sumber https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=igDRIw8agTg<\/div>\n<div>Berapa kali sehari seorang katolik membuat tanda salib? Banyak. Apa maknanya? Juga, apa maknanya bagi hidup dan perilaku sehari-hari? Pemaknaan yang disampaikan dalam bentuk lagu ini menuntun untuk membangun iman yang mendalam dengan gembira.<\/div>\n<div><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/Npx9u3XPqDM\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/div>\n<div>Sumber https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=Npx9u3XPqDM<\/div>\n<div>Keutamaan-keutamaan inti: iman, harapan, cinta akan lebih mudah diingat dan dijalani dengan gembira ketika dapat dinyanyikan bersama.<\/div>\n<div><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/7qyrUJpWVeE\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/div>\n<div>Sumber https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=7qyrUJpWVeE<\/div>\n<div>Telur merupakan salah satu wujud proses pertumbuhan makhluk hidup di dunia ini. Memandang dan merenungkan telur setiap orang juga dapat melihat proses hidup nya dalam relasi dengan Tuhan Allah, proses imannya.<\/div>\n<div><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/oymK14xP9Zo\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/div>\n<div>Sumber https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=oymK14xP9Zo<\/div>\n<div><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/Kdqh0juJ2Ys\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/div>\n<div>Sumber https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=Kdqh0juJ2Ys<\/div>\n<div>Membangun kehidupan bersama yang lebih baik, itu kehendak Tuhan Allah dan cita-cita sebagian sangat besar manusia. Bagaimana kalau cita-cita itu sedang terasa sangat jauh dari kenyataan yang ada? Mengambil sisi positifnya, gerakan rayap ternyata mampu membuat perubahan yang sangat besar,<\/div>\n<div><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/kaKvGcSIYDE\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/div>\n<div>Sumber https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=kaKvGcSIYDE<\/div>\n<div>Lagu yang diciptakan untuk membangun semangat kebersamaan karena keyakinan bahwa Allah menganugerahkan saudara-saudari semua untuk bersama-sama menerima, memakai, dan berbagi kelimpahan rahmat dan karuniaNya.<\/div>\n<div><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/lvTpp8p_hTM\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/div>\n<div>https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=lvTpp8p_hTM<\/div>\n<div>Rahmat panggilan Tuhan Allah menyapa setiap pribadi. Hidup dalam rahmat panggilan itu menghasilkan syukur yang selalu terarah pada kebaikan Tuhan Allah. Ia memanggil, mengutus, memelihara, menyempurnakan pelaksanaan panggilanNya itu.<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>LANTARAN gesit memberitakan semboyan pastoralnya sebagai Uskup Agung Semarang dan sebelumnya Uskup Diosis Bandung, alm. Mgr. Johannes Trilaksyanto Pujasumarta ikut mempopulerkan istilah Latin yang merupakan kutipan Injil: Duc in Altum.(Baca:\u00a0 Breaking News: RIP Uskup&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6408,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-6402","post","type-post","status-publish","format-video","has-post-thumbnail","hentry","category-tokoh","post_format-post-format-video"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2015\/11\/mgr-pujasumarta-dan-palium2.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6402","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6402"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6402\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8563,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6402\/revisions\/8563"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6408"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6402"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6402"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6402"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}